Menikmati kereta untuk pertama kalinya di tanah Eropa, Arya sangat canggung. Suasana dan pemandangan orang-orangnya seperti di film-film yang sering dirinya tonton dari kecil hingga dewasa kini.
“Ya ampun, rapih sekali. Enggak ada tukang jualan cangcimen kayak di stasiun pasar minggu yah.” gumamnya sambil terus memperhatikan jendela.
Perlahan, kereta mulai jalan menuju Ede-Wageningen. Diluar sana, terlihat pemandangan yang hampir mirip di beberapa scene video game GTA zaman PS 2. Rumput beserta pohonnya, nuansa langit, hingga beberapa bangunan yang terjangkau oleh mata.
Melihat sinyal ponsel yang sudah lebih baik karena sudah berganti provider, Arya rasa sudah waktunya mengabari ibu.
“Assalamualaikum bu. Ini Nomer baru Arya di Belanda. Pakai kartu baru biar sinyalnya lebih kuat dan terjangkau harganya. Alhamdulillah aku udah di kereta menuju stasiu Ede-Wageningen. Kasih tau Ayah, nenek, sama Nadia yah.” tak lupa foto dan video sekitarnya juga dikirim untuk sebagai bukti kalau anaknya telah mendarat sempurna.
Meski ceklis 2, tidak ada tandanya online. “Mungkin ibu masih belum pegang ponsel.”
Setelah ditunaikannya memberi kabar ke rumah, melamun adalah agenda selanjutnya. Di kereta hanya ada keheningan. Meski begitu, apa yang terlihat di jendela telah memberikan imajinasi tentang kehidupan seperti apa yang akan dirinya jalani selama masa studi.
Hampir 30 menit duduk manis dan melamun, ibu akhirnya membalas.
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah ya allah. Iya nak nanti ibu sampaikan pada semuanya. Selamat berjuang ya nak…”
Arya lalu memberikan reaksi like pada balasan tersebut.
Beberapa waktu berlalu, tiba-tiba seorang petugas laki-laki mendatanginya. Dia menggunakan baju kemeja hitam, dilengkapi sebuah kartu nama yang sedikit berayun di saku dada kanannya.
“Excuse me, May I check your ticket for a moment?” tanya sang petugas.
Arya dengan refleks menjawab, “Oh, of course. Wait a minute, please.” lalu dibuka dompet pada saku celananya. Diberikannya tiket itu, lalu di scan secara pelan.
“Ok, thank you. Have a nice day sir,”
“You’re welcome...” Sang petugas lalu menghampiri penumpang lainnya satu persatu. Merasa tidak ada hal menarik lainnya, Arya memutuskan untuk memejamkan mata sejenak.
Setelah 1 jam 38 menit berada di kereta, Arya sampai di Stasiun Ede-Wageningen.
“Ladies and gentlemen, we are now arriving at Ede-Wageningen. Please check your belongings, and thank you for traveling with NS.”
Kereta terhenti perlahan. Suara pengumuman itu membuat Arya membuka matanya. “Ah, ini dia!”
Diambilnya beberapa barang di bagasi atas, dilanjutkan dengan menggendong ransel untuk mengisi punggungnya kembali. Saat melangkah keluar kereta dan menyentuh tanah stasiun tersebut, Arya tersenyum dan menghayati suasananya sejenak.
“Alhamdulillah, sampai juga di titik ini.”
Melihat stasiun ini lebih luas lagi, Arya semakin kagum dengan tempat yang baru saja dipijaknya. Beragam kereta dengan desain dan fitur futuristik, serta atap stasiun berwarna coklat muda yang indah untuk terus di pandang. Beberapa kereta terlihat berwarna gabungan orange dan biru tua. Ada juga yang abu keputihan, juga biru muda seperti warna air laut. Semua membuat matanya terpana melihat beragam desain indah itu.
Beberapa waktu berlalu, Arya nampaknya cukup puas dengan stasiun ini. Kini, dia akan menyambangi tempat yang akan menjadi wadahnya mendapatkan ilmu pengetahuan di tanah Eropa. Dirinya nampak tidak sabar untuk berada di asrama yang menjadi program dari kampus untuk mahasiswa Internasional.
“WUR, i‘am coming!”