Jejak Garuda Di Wageningen

Adam Nazar Yasin
Chapter #7

Masa Orientasi

2 September 2024…,

Setelah beradaptasi beberapa hari di lingkungan baru, telah tiba masa Annual Introduction Days (AID) atau masa orientasi mahasiswa sebagai pintu awal berkuliah di kampus terbaik dalam bidang pertanian itu. Dalam satu pekan kedepan, Arya dan seluruh mahasiswa baru di periode tersebut akan mengikuti rangkaian acara yang sudah disiapkan pihak kampus. Agenda rutin setiap awal ajaran baru ini akan digunakan untuk mahasiswa baru mengenal kampus, kota Wageningen, organisasi mahasiswanya, hingga wadah untuk membangun jaringan pertemanan.

Lapangan riuh, ribuan mahasiswa baru tumpah ruah seperti lautan manusia. Mereka berkumpul atas instruksi dari setiap pesan yang masuk dari panitia untuk menghadiri pembukaan di depan gedung Forum. Seorang pemandu perempuan yang terlihat lebih tua dari ribuan mahasiswa seusia Arya- bernama Sophie, akan menjadi pemandu utama dalam agenda pembukaan kali ini.

“Hello everyone, how are you all?” ucapnya saat membuka agenda. Terlihat masih ada yang diam tak merespon. Namun sebagian ada yang mau menjawab secara bersama, “I’m good,” atau juga ada teriakan, “Great,”

Sophie melanjutkan, “Okay. First of all, welcome to Wageningen University and Reasearch. Clap your hands first!”

Lalu tepuk tangan bergemuruh di tengah lapangan dengan cuaca yang cerah.

"In this arena, try looking to your right and left. They are definitely new people in your life. Although we are all different, we are now in the same institution. Therefore, for the next week, we as the committee will be your guides in getting to know Wageningen better. So, enjoy this moment!"

Benar yang dikatakan Sophie, di sekitar Arya sangat asing. Banyak sekali wajah yang dalam pandangan Arya bukan dari Eropa. Bahkan orang bule dari negeri tetangga Indonesia, yaitu orang-orang Australia, juga memutuskan untuk melanjutkan pendidikan disini. Namun lebih asing lagi rasanya, karena sejauh ini belum menemukan wajah Indonesia.

“Hmm, mana orang Indonesia nih?” gumamnya dalam hati.

Perlahan momentum pembukaan dan agenda sambutan lainnya berlalu. Arya berkeliling arena, mencari mahasiswa yang rasanya punya daya visual sebagai orang Indonesia. Dia terus mencari, menyusuri kerumunan dan beragam kumpulan orang yang membuat bundaran.

Namun saat proses pencarian, tiba-tiba saja ada suara memanggil namanya dari arah belakang. Suara itu terasa berjenis sopran, lambang dari seorang perempuan dengan karakter energik yang sedang menyapa.

“Arya!” ucap seorang yang terasa seperti perempuan. Arya menoleh ke belakang, lalu menatap sosok perempuan yang menggunakan kemeja hitam dengan rambut panjang. Dan benar saja, perempuan itu terlihat seperti orang Indonesia.

“Oh, halo. How do you know my name?” tanya Arya yang masih belum sadar kalau sosok di depan matanya juga merupakan mahasiswa dari tanah kelahirannya.

Mendengar pertanyaan itu, perempuan itu tertawa, “Hahaha, emang saya kelihatan bule ya? Saya ini orang Indonesia.”

Mendengar pertanyaan itu, Arya terkejut. Kepalanya digelengkan, mencoba lebih sadar dengan sosok yang sedang ada di hadapannya. “Ya ampun, iya juga yah. Akhirnya ketemu juga orang Indonesia.”

Lalu sosok tersebut mengulurkan tangannya. “Kenalin, aku Rachel.”

“Oh, Rachel. Salam kenal ya,” Arya menyambut uluran tangan itu. Dia melanjutkan pertanyaan yang belum terjawab, “Kok kakaknya tahu nama saya?”

Mendengar pertanyaan itu, Rachel kembali tertawa. “Ahaha, aduh jangan panggil kakak. Sepertinya kita seumuran bukan? Cuma beda satu tingkat aja.”

Arya kembali gugup. “Oh, hehe. Baiklah, Rachel.”

“Iya aku lihat dari Informasi di lembaga yang punya akses ke PPI Wageningen. Kami di komunitas sudah lihat nama-nama pelajar Indonesia yang berhasil melanjutkan studi ke Eropa. Dan untuk di Belanda, tahun ajaran baru ini nampaknya ada 3 orang. Salah satunya kamu,”

Mendengar hal itu, rasa penasaran Arya hilang. “Oalah, pantesan.”

Rachel melanjutkan, “Kalau begitu saat acara ini selesai, kita pergi ke anak-anak PPI Wageningen berkumpul yuk?”

Tanpa Rasa ragu, Arya mengangguk. “Ayo!”

===

Menuju sore hari, pesta pembukaan masa AID di hari pertama sudah selesai. Sophie menutup agenda di hari pertama ini melalui pengeras suara dan berdiri di pusat acara.

“Good afternoon everyone,”

“Good afternoon…”

“That concludes today's agenda. We'll have many more exciting things to offer tomorrow. So, stay tuned. And congratulations on making so many new friends.”

Penutupan itu di sambut meriah oleh semua mahasiswa dengan gemuruh tepuk tangan. Sophie turun panggung sejenak, dia pamit undur diri dari pusat perhatian.

Melanjutkan ajakan tadi, Rachel menepuk pundak Arya untuk bertemu beberapa teman dari PPI di Wageningen.

“Ar,” panggil Rachel.

Arya menoleh, “Oh iya, ayo!” lalu mereka berdua berjalan dengan Rachel yang berada di posisi lebih depan.

Berjalan hampir 15 menit, dibarengi oleh obrolan santai yang meluas antara mereka berdua, tibalah di sebuah tempat bernama Cafetaria het Ambacht. Menurut Rachel, beberapa teman dekatnya dari PPI sedang berada disini.

“Yuk masuk,” ajak Rachel dengan sangat antusias.

Lihat selengkapnya