Jejak Garuda Di Wageningen

Adam Nazar Yasin
Chapter #9

Jati Diri

 4 November 2024…,

Kelas pagi baru saja selesai. Semua ditandai dengan terlihatnya matahari yang semakin ke tengah langit. Dan langit juga terlihat sedang ramah. Saat keluar kelas, Arya memegang kepalanya sejenak. Rasa sedikit pusing seketika mulai melanda. Beberapa hal nampak belum dipahaminya secara cepat. Meskipun lingkungan kelasnya sangat aktif bertanya tentang apa yang belum mereka pahami. Memang sudah lebih dari 2 bulan dirinya disini. Namun proses adaptasi masih terus dilakukannya secara perlahan.

Melihat jadwal kuliah selanjutnya di sore hari, Arya memutuskan pergi ke taman untuk melepaskan penat di kepalanya.

“Healing bentar ah,” ucapnya sambil memundurkan pedal sepeda ke bagian belakang. Lalu dia berangkat menuju taman Noordwest.

Sesampainya disana, sebuah kursi kosong terlihat dari area parkiran sepeda. “Ah, itu dia. Gas mumpung belum ada yang duduk disana.” Arya lalu sedikit berlari menuju kursi kosong tersebut.

Saat duduk, Arya coba mengatur nafasnya dengan lebih rileks.

“Tarik nafas, huft. Buang secara perlahan...” pola itu dia lakukan berulang kali. Setelah merasa puas dan lebih rileks, lalu dia memutuskan untuk tidur sejenak. Meski tanpa alas bantal atau guling, dan hanya berhadapan langsung dengan kayu, posisinya yang pas membuat tidurnya nampak nyaman. Apalagi, pemandangan di hadapannya sangat natural. Ada kolam, juga ada orang lain yang sedang membawa anjingnya bermain.

Setelah puas memandang ke samping, matanya langsung tertuju pada langit yang masih cerah. Di tengah kosongnya pikiran, dirinya malah mengisi pikiran kosong itu dengan 2 mata kuliah yang telah dipilihnya sebagai favorit.

“Principles of Environmental Science, juga Environmental Quality and Governance. Sangat menarik, membuat daya jelajah pikiranku lebih luas. Meskipun agak hectic karena harus ngejar dengan banyak membaca buku tambahan. But, it’s oke. Beginilah memang cara kerja investasi pendidikan.” ucapnya dengan suara yang sedikit menggebu.

Dalam mata kuliah Principles of Environmental Science, beragam fundamental dalam ilmu lingkungan telah dia rekam dalam catatan hariannya. Daya interdisipliner ilmu ini memang sangat Arya gemari. Aspek fisika, kimia, biologis, dan sosial, dibuat sebuah pola holistik yang menyatakan bahwa pentingnya interaksi semua aspek tersebut. Semua ditujukan untuk memahami bagaimana sistem alam dan lingkungan itu bekerja. Serta bagaimana umat manusia sangat mempengaruhi perubahan dan kualitas lingkungan.

“Rasanya sangat penting. Terkadang, aku melihat bahwa antara semua aspek yang dipelajari itu tidak harmoni. Seolah ilmu berjalan sendiri-sendiri. Padahal, semua sangat bergandengan tangan dalam memandu jalannya peradaban.” gumamnya dalam lamunan yang masih melihat langit biru di atasnya.

Sementara dalam Mata kuliah Environmental Quality and Governance, interdisipliner ilmunya lebih ke tatanan birokratif. Interaksi yang dipelajari tentang hierarki level dari skala lokal sampai global. Dan pada intinya, ini tentang pengambilan kebijakan oleh pihak berwenang, dengan tujuan arah pembangunan yang berkelanjutan. Pembelajaran ini sangat berfungsi untuk menjadi pondasi sudut pandang pengambilan kebijakan jika ada kasus seperti pencemaran, deforestasi, hingga perubahan iklim.

“Keknya pejabat negaraku itu harus belajar ini lebih dalam. Biar kalau mengambil kebijakan itu lebih harmoni, terpadu, dan merangkul kepentingan bersama. Ini malah miss komunikasi terus. Ego sektoral masih menjadi warna generasi pejabat sekarang.” gumamnya kembali. Setelah mengingat kedua mata kuliah serta mengeluarkan argumen sederhananya, Arya terlelap sejenak.

Tidak sampai 1 jam, ponselnya berdering. Suara adzan Dzuhur kembali berkumandang.

Allahu akbar, allahu akbar!

Arya terbangun, bersiap kembali ke kampus untuk mengikuti kelas sorenya. Namun, dia akan ke mushola kampus terlebih dahulu untuk menunaikan sholat.

“Hoaam, baiklah. Mari lanjutkan kepusingan ini. Demi masa depan Indonesia lebih baik.” candanya dengan spontan.

Arya berjalan kembali ke parkiran. Kini, semoga ruang di kepalanya siap kembali menampung ilmu pengetahuan yang akan bermanfaat untuk masyarakat luas.

===

Beberapa hari berlalu, rutinitas perkuliahan berjalan seperti biasa. Tidak ada momentum spesial, kepusingan dan rasa ingin tahu silih berganti Arya rasakan saat di ruang kuliah.

“Hoamm, bosen juga nih.” ucapnya dengan menguap saat baru beberapa langkah keluar dari ruang kelas kuliah pagi. “Rachel juga lagi sibuk ya. Pesanku belum di jawab lagi,”

Menghampiri sebuah kursi kosong di kantin sambil meminum jus buah naga, Arya membuka Google Maps. Tak ada kelas sore hari itu membuatnya ingin menjelajah lebih luas area luar kampus.

Lalu saat membuka Maps, sebuah area hijau di arah utara kampus cukup menarik perhatiannya. Tempat itu bernama De Hoge Born.

“Wah, area kebun yang ada tokonya ya? Kesana ah,” lalu jus buah naga itu diminum habis dengan cepat. Arya lalu pergi ke parkiran sepeda dan melanjutkan rutinitas ke titik yang berada di Google Maps itu.

Sesampainya disana, sebuah pemandangan indah masuk pada kedua mata Arya. Hamparan lahan yang dipenuhi oleh beberapa komoditas yang sedang ditanam, serta beberapa bangunan kayu dan batu bata bernuansa klasik, membuatnya terpaku sejenak.

“Rapih bener nih kawasan,” ucapnya dengan logat orang Jakarta.

Setelah menaruh sepeda, dia berjalan ke area yang memiliki hamparan luas. Terlihat ada bangunan seperti tempat untuk seorang penjaga yang terbangun kokoh oleh beberapa bilik kayu. Melihat itu, Arya mengingat sawah dan ladang di Indonesia. Namun bedanya, di De Hoge Born ini nampak tidak ada yang namanya bebegig. Sebuah sebutan di kawasan sunda untuk replika manusia untuk menakut-nakuti burung.

“Disini burungnya baik-baik kali yah. Makanya enggak ada bebegig kayak di Indonesia, hahaha.” candanya dalam memandang sekitar kawasan.

Setelah berjalan lebih panjang lagi, Arya melihat sebuah bangunan yang berbeda. Nampaknya, itu greenhouse. Sebuah tempat yang dirancang khusus untuk membudidayakan tanaman dengan metode tertentu. Seringkali bangunan seperti itu untuk dijadikan pusat riset yang membutuhkan kontrol manusia agar mencapai kondisi pada ekspektasi tertentu.

“Mari menjelajah,” ucap Arya yang menghampiri greenhouse di depannya itu.

Sampai di dekatnya, terlihat seorang petani laki-laki dengan topi jerami dan kemeja biru dongker seperti sedang memeriksa tanaman. Arya mendekat, rasa penasaran ada pada benaknya.

“Good afternoon, Sir.” sapa Arya membuka obrolan.

Petani itu menjawab dengan bahasa Belanda, “Hallo, goedemiddag!”

Menjawab seperti itu, Arya mengeluarkan ponselnya dan menuju google translate. Dia bersiap merekam suara, meski tak yakin juga akan kena.

“What are you doing sir?” tanya Arya.

Namun petani itu kembali menjawab dengan bahasa Belanda, “Ik wilde even de planten controleren. Ze zijn allemaal biologisch geteeld, dus ze zijn erg gevoelig voor plagen.”

Mendengar jawaban itu, mau tidak mau Arya harus jujur. “Sorry sir, I haven't been in the Netherlands long. So I'm not very fluent in Dutch yet.”

Sang petani tertawa, “Oh really? Hahaha. Let me guess, are you a new student at Wageningen University?”

Arya mengangguk, “Yes, that's right, sir, I'm a new student there.”

“I just wanted to check the plants. They are all organically grown, so they are very susceptible to pests.” jawabnya kembali. Kali ini, Arya baru mengerti.

“Where are you from?” tanya sang petani.

“I’m from Indonesia,”

“Oh really? Sorry for colonizing you in the past, haha.” Sang petani dan Arya tertawa bersama.

“So, these are all organic plants, right sir??” tanya Arya.

Sang petani menjawab, “Yes, exactly.”

Merasa sudah membuka percakapan, Arya terus bertanya lebih mendalam. Mulai dari hulu sampai hilir, tentang modal sampai akses pemasaran. Semua dijelaskan rapih oleh sang petani. Nampaknya, dekat dengan universitas yang memiliki identitas sebagai penghasil ilmu pengetahuan alam terbaik membuat orang-orang sekitarnya menjadi mahir memahami aspek berbasis ilmiah.

“So, what is the condition of agriculture in Indonesia?” tanya sang petani. Arya tersenyum kecil, rasa bingung untuk menjawab menyelimutinya.

“To be honest, i don't really follow it in general. Except for coffee, because I used to be a barista. And yes, there are a lot of coffee shops in Indonesia. But when it comes to vegetables and fruit, I still don't know much about it.”

Mendengar jawaban itu, sang petani menepuk pundak Arya. “If you become a leader there, protect your country's natural resources. From the history I've read, your country is rich in natural resources that the world has needed since ancient times.”

Arya mengangguk. Meski begitu, hatinya agak ragu dengan suruhan itu. Dia tidak ada niat untuk jadi pemimpin di Indonesia nanti. “Hopefully, sir.”

Hari menuju sore, Arya harus segera pulang untuk melanjutkan belajar di asrama.

“I think I should go home now, sir. I want to continue studying at the dormitory. Thank you for the simple chat, sir. I'll play here again later.”

Namun, sang petani sedikit penasaran, “Wait, what's your name?”

“Arya,”

Sang petani tersenyum, “Oh, okey. I'm Robert.”

Mereka bersalaman dan tersenyum. Arya pamit, melangkah pergi menuju parkiran. Namun, sebuah nasihat itu cukup membekas,…

Lihat selengkapnya