Di tengah malam yang hening, Arya menghabiskan waktu di depan meja belajar yang berhadapan dengan jendela. Sambil sesekali melihat bintang dan bulang di langit Belanda, dia mengisi waktu dengan membaca beberapa tulisannya di kelas. Tidak lupa untuk tetap menyalakan laptopnya, serta secangkir susu instan yang dia beli di kantin kampus.
“Ah, ini dia…” ucapnya sambil fokus pada satu titik di buku. Namun tak lama kemudian, ponselnya berdering.
Kring…Kring…Kring…
Setelah dilihat, ternyata sang ibu yang meneleponnya. “Wah, ibu nih.” lalu dia angkat panggilan itu.
“Assalamualaikum bu,” Arya membuka percakapan.
“Waalaikumsalam nak. Gimana kabarmu?”
Arya menjawab, “Alhamdulillah bu, aku sehat dan lancar disini. Gimana kondisi rumah?”
“Aman juga, syukurlah.”
Sebelum lanjut bercakap, Arya melihat jam dinding yang menunjukan pukul 9 malam.
“Bu, di Indonesia lagi antara jam 2 atau 3 kan?”
“Iya betul. Ibu tadi tidur lebih sore, jadi sudah cukup dan kebangun alarm.” jawab ibu.
“Oalah. Gimana ayah dan Nadia?”
“Mereka baik. Ayah masih di Bandung. Nadia masih tidur.”
“Syukurlah.”
Ibu memberi keterangan tambahan, “Nadia sekarang ngurangin mainnya. Dia kayaknya termotivasi sama kamu. Bener-bener pengen jadi mahasiswa UI.”
“Hahaha, dia pasti ingat janji aku untuk mentraktirnya.” Respon Arya.
“Gapapa, yang penting tujuannya tetap baik. Ngomong-ngomong, sudah banyak temanmu disana dari Indonesia?”
“Sudah bu, alhamdulillah. Ada organisasi Persatuan Pelajar Indonesia juga disini. Baru aja kita disini buat konten untuk YouTube. Ibu lihat deh, nanti aku kirimin linknya.”
“Wah seru tuh, boleh deh ibu lihat.” Arya sejenak mengunjungi YouTube, mencari video yang beberapa waktu lalu di upload. Lalu dikirimnya sebuah link video itu. “Nah, udah itu bu.”
“Ya wis, nanti ibu lihat yah. Sekarang ibu mau lanjut dulu persiapan buat sholat subuh.”
“Iya bu.”
Ibu berpesan, “Oh iya, semoga kamu betah dalam waktu yang lama yah disana. Fokus aja sama belajar dan cari pengalaman hidup. Jangan gampang kangen ke Indonesia. Uangnya bisa kamu simpan buat hal lain.”
“Kalau kangen nanti aku video call yah bu. Kabari juga kalau lagi kumpul sama ayah dan Nadia.”
“Siap, ya udah yah. Wassalamualaikum,”
“Waalaikumsalam...” Arya dan ibu saling menutup teleponnya.
Namun alih-alih melanjutkan bacaan atau menatap laptop kembali, Arya sejenak melemparkan badannya ke kasur. Matanya fokus melihat langit atap kamarnya. Lalu seketika kembali terbangun untuk duduk, dan menatap langit yang terlihat dari jendela di depannya. Melamun sejenak, hingga pertanyaan aneh mulai berdatangan…
“Bisa gak yah aku bermanfaat untuk Indonesia?”
“Gimana nanti konsep pengabdiannya?”
“Dan… gimana kalau nanti aku malah betah dan lanjut aja hidup disini?”
“Aaaakhh!” teriakan itu diarahkan pada bantal disampingnya. Ponsel digenggam, namun nalar sudah merasa ngantuk dari sebelumnya. Dan saat melirik ke layar ponsel, sebuah notifikasi tak biasa muncul. Tanda ‘tag’ pada sebuah story Instagram membuatnya membuka aplikasi itu. Dan ternyata, akun instagram PPI menandainya saat bernyanyi kemarin.
Seindah-indah di mata, rayuan cantik dunia,
Tak mampu mengubah… hatiku untukmu. Hatiku Indonesia.