8 bulan berlalu….
4 Juli 2025,
Hari terus berlalu. Sang waktu pada akhirnya bagaikan kilat yang menyambar. Proses belajar dan ujian silih berganti dihadapi Arya dengan tekun. Sungguh tidak terasa kalau dirinya sudah harus hampir mengakhiri periode ke 6. Dia baru saja mengakhiri ujian di periode panjang yang sangat membuat kepalanya pusing 7 keliling.
Arya kembali sendirian di taman Noordwest untuk refresh sejenak dari penatnya ruang kelas. “Allahu, pusing banget ya ampun.” ucapnya sambil bersandar dan memegang kepala dengan kedua tangannya. “Ini kalau di IPB dulu, gue langsung pergi ke warung. Beli kopi hitam, sama mabar bentar.”
Untungnya, matahari siang itu begitu cerah. Awan bergerak perlahan dengan indah. Sebuah suguhan kondisi alam yang cocok untuk memotret dan membuat status cerita Instagram.
“Ah, itu dia! Untung hari ini enak di rasa,” ucapnya kembali. Lalu dibukanya Instagram dan pergi memotret langsung dari fitur story. Cekrek! Dan hasilnya sungguh menyegarkan untuk dilihat.
“Good! unggah langsung deh.”
Setelah selesai, Arya melakukan scrolling sejenak sambil menenangkan pikirannya lebih lama. tampak ada beberapa berita dari sepakbola Inggris, juga berita tentang timnas Indonesia.
“Oh iya, udah lama gak main bola yak. Disini dimana yah? atau futsal deh.” gumamnya yang spontan kepikiran untuk kembali bermain olahraga beregu.
Namun tiba-tiba, sebuah portal berita tentang masalah Indonesia harus membuat jarinya menghentikan gerakan ke atas dan bawah. Sebuah berita yang sangat berhubungan dengan disiplin ilmunya saat ini.
Headline news :
“Indonesia masuk dalam jajaran negeri dengan muatan sampah terbesar di dunia. Terhitung sampai hari ini, muatan sampah di beberapa titik tempat pembuangan akhir (TPA) kawasan Jabodetabek sudah melebihi kapasitas yang tersedia. Setiap hari, total hampir 5 ribu ton sampah baru hadir di beberapa TPA itu.”
Membaca berita tersebut, Arya tersentak dan bangun dari selonjorannya. “What the… 5 ribu ton per hari? Udah gila yah!” lalu dia melanjutkan bacaannya.
“Seorang warga yang kami temui dan penduduk asli setempat bernama Wahyono, mengatakan bahwa pihak pemerintah belum bisa memecahkan semua tumpukan sampah ini. Namun untuk sementara waktu, warga dihimbau untuk menutupi sampah di rumahnya masing-masing dengan terpal sambil menunggu mobil kontainer tambahan untuk setiap kelurahan. Tapi menurut Wahyono, himbauan itu sungguh bodoh. Pria yang berasal dari TPA Bantar Asih itu mengatakan bahwa cara itu hanya sekedar menunda tumpukan bau sementara.”
“Sungguh kami sayangkan, masalah yang sudah bertahun-tahun dianggap remeh ini sudah jadi besar. Tidak pernah ada tindakan yang sistematis tentang masalah ini. Yang ada hanyalah himbauan dengan mekanisme sederhana yang bersifat menunda, bukan menyelesaikan.” ucap Wahyono saat diwawancarai.
Membaca itu, Arya menepuk jidatnya dan menggelengkan kepala. “Aduh, tambah pusing pala gue ini. Ampun dah,”
Merasa penat, dengan apa yang baru saja di bacanya, sejenak Arya melihat sekitarnya. Pemandangan yang dilihat itu setidaknya membuat nafasnya menjadi lebih lancar dibanding saat membaca berita tadi. Tidak ada sampah, tidak ada bau tak sedap. Yang ada hanyalah rasa aman, segar, dan yang penting… damai.
Mencoba ikhlas dengan berita buruk dari negaranya, matanya kembali menatap layar. “Udah separah itu, kebijakan dari pusat bakal gimana yah?”
Perlahan, Arya melamunkan diri. Pikirannya tenggelam dalam berita yang mengusik hati dan ilmu yang sedang dipelajarinya. Namun meski ada di kampus dengan fokus disiplin keilmuan alam, kapasitasnya belum cukup. Dia perlu melanjutkan perjuangannya menampung ilmu yang akan sangat terasa singkat, saat kelak dia berhasil mencapai kelulusan.
===
7 Juli 2025,