Jejak Garuda Di Wageningen

Adam Nazar Yasin
Chapter #13

Panggilan Negara

28 Juli 2025,

Hari demi hari berlalu, dunia terus berjalan bagaikan kilatan petir. Ada yang mengalir mengikuti kemana arah takdir, ada juga yang berusaha memanjatkan doa selalu untuk terus berada pada idealismenya. Namun tidak dengan masalah Indonesia, dia terjebak pada masalah sampah yang semakin disorot dunia. Kini, para pelajar garuda di beragam negeri asing kembali sejenak ke tanah kelahirannya. Tempat dimana mereka mengawali nafas dan pijakan hidup.

Setelah bertempur dengan sungguh-sungguh, akhirnya sampai juga Arya di penghujung periode 6. Sebuah momentum yang menjadi gerbang kekosongan aktivitas akademik selama lebih dari 1 bulan. Terlebih lagi, dia akan pulang ke Indonesia untuk pertama kalinya. Bukan hanya sekedar rindu rumah, tapi negara memang sejenak memanggilnya. Bersama Juna dan Shinta, Arya akan menghadiri pertemuan para pelajar Eropa di gedung keuangan negara. Sementara Marcel dan Rachel memutuskan untuk tidak ikut karena berbagai pertimbangan.

Mereka pulang berbarengan, mengingat rumah mereka juga dari kawasan Jabodetabek.

Perjalanan panjang berlalu, dirinya telah tiba di bandara Soekarno-Hatta. “Ya allah, akhirnya!” ucapnya sambil menggeliatkan badan.

“Widih negara gue, makin maju aja rasanya.” ucap Juna. Namun ucapan itu di bantah dengan keras oleh Shinta. “Apanya yang maju? Liat berita noh. Korupsi makin banyak tauu…”

“Iyee, kalau itu tau. Maksudnya, ada beberapa infrastruktur yang perasaan baru gue liat.” ucap Juna memperjelas maksudnya. Mendengar itu, Arya hanya bisa tertawa dan berharap, “Hahaha, semoga korupsi segera punah yah.”

“Amiin,”

Lalu tidak lama kemudian, ponsel Arya berdering. Dan ternyata itu panggilan sang ayah. “Assalamualaikum. Kamu dimana kak?”

“Waalaikumsalam. Ini aku baru ke depan gerbang. Ayah di sebelah mana?”

Mendengar itu, mata elang Ayah mendeteksi semua muka di hadapannya. Dan setelah melirik 45 derajat, terlihat wajah anaknya. “Oh, itu kamu. Nih ayah lambaikan tangan.”

Dan Arya menyadarinya. “Oh, itu dia.” Dia menutup ponselnya sejenak. “Guys, itu ayahku. Duluan ya.” dia mengajak tos pada Juna dan Shinta.

“Oh oke, sampai ketemu nanti yah.” ucap Juna. Dan Shinta membalas tosnya, “Hati-hati adikk,”

Arya tersenyum dan melangkah pergi dengan menderek tas kopernya. Semakin terlihat sang ayah, dia sedikit berlari ke arahnya.

“Assalamualikum yah,” ucapnya sambil bersalaman.

“Waalaikumsalam. Alhamdulillah, kamu mendarat dengan selamat.”

“Alhamdulillah. Ibu sama Nadia enggak bisa ikut ya?”

“Mau gimana lagi kak. Toko belum ada yang jagain lagi.”

“Haha, iya juga. Let’s go deh pulang!” lalu mereka berdua masuk ke mobil.

Dalam perjalanan, obrolan santai mengalir. Merasakan kembali macetnya Jakarta membuatnya sedikit terkejut. Arya sudah menyatu dengan nuansa slow living di Wageningen, dimana kesehariannya menggunakan sepeda. Namun di beberapa titik, kemacetan itu telah menjadi hikmah. Dia melihat gedung pencakar langit Jakarta secara lebih seksama.

“Jadi, kamu dipanggil kementerian buat kontribusi terkait masalah sampah ya?” tanya Ayah.

“Iya yah. Aku dan beberapa teman-teman diaspora di Eropa dipanggil. Khususnya mereka yang dari jalur LPDP.”

“Semoga kamu bisa memberikan ide dan gagasan secara maksimal. Meski kamu pasti belum mahir terhadap ilmunya, setidaknya masalah sampah itu bisa ada progress buat selesai.”

“Aamiin. Semoga...”

Hampir 50 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah. Ibu dan Nadia sudah menyambutnya bagai pahlawan nasional.

“Alhamdulillah, selamat kamu nak.” ucap ibu saat Arya baru membuka pintu mobil. “Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…” mereka bertiga berpelukan sejenak. Nadia menodongnya, “Mana Roti Sordough yang di share terus di story ituuu?”

“Aduh, lupa lagi.” jawab Arya yang ingin usil.

“Ya ampun, bohong itu mah gak niat bawain.”

Lalu ayah menyambar, “Beli aja di Holand Bakery. Banyak itu,” mendengar itu, ibu dan Arya tetawa.

“Atuh beda sensasinya yahh. Aku pengen yang asli dari Belanda.” ucap Nadia dengan sedikit cemberut.

Ibu menyanggah, “Udah dulu nak. Kakakmu baru dari perjalalan jauh. Dia baru kembali kerumahnya. Yuk kita makan dulu.”

Lihat selengkapnya