Hari demi hari terus berjalan. Para diaspora terus mengumpulkan data, menghimpun pendapat, sampai berdiskusi dengan kelompoknya. Sebagian sudah dalam tahap merumuskan solusi, sebagian lagi masih menunggu lebih banyak informasi yang masuk.
Kelompok Arya berkumpul. Mereka duduk melingkar dengan mata saling memandang satu sama lain. Mereka berpendapat dan saling menanggapi dengan mengedepankan suara ilmiahnya.
“Ini sederhana, kita butuh sosok yang mampu menjadi pengembang sebuah bisnis. TPA kita ini sudah banyak olahannya. Tinggal melakukan paten supaya brand yang akan kita inisiasikan bisa milik masyarakat disini.” ucap seorang mahasiswa S2 Environmental Science dari University of Edinburgh, Arnold.
Lalu seorang mahasiswa S2 Political Science dari University of Oxford, Renatha, mengeluarkan isi pikirannya. “Tapi kalau dari sudut pandang aku, ini sungguh butuh dana segar dari pemerintah sih. Kalau mengacu pada rangkuman hasil wawancara dengan warga dan pihak terkait, mereka juga butuh titik utama kegiatan komersil itu di bangun. Selain itu, pemerintah harus membangun area riset agar mekanisme ilmiah masyarakat setempat bisa punya landasan dalam aktivitas ekonominya.”
Mendengar hal itu, Arya juga merespons, “Tepat sekali, itu yang harus diutamakan. Percuma punya arena utama untuk melakukan produksi besar, tapi enggak ada pusat riset yang menjadi panduan aktivitas pemberdayaan. ”
Namun, seorang diaspora lainnya yang berasal dari Royal Collage of Art, Angela Cristin, mengutarakan pendapat yang pesimis. “Hmm, yakin pemerintah sekarang mau membiayai untuk bangun seperti itu? Sulit rasanya berharap pada mereka. Sebagai alternatif, bagaimana kalau kita galang dana melalui platform organisasi NGO?”
Mendengar hal itu, beberapa orang mengangguk. Namun tidak dengan Arnold.
“Harusnya sih mau! Enggak, bahkan itu kewajiban. Masyarakat luas udah begitu rajin bayar pajak. Masa iya untuk kebaikan seperti ini enggak mau ngeluarin uangnya? Keterlaluan.”
Renatha menyetujui pesimisnya Angela, “Aku lumayan sepakat dengan Angela. Kita perlu buka opsi dengan menggunakan itu. Betul katamu nold, pajak yang rutin masyarakat bayar itu memang seharusnya ada bagian untuk digunakan seperti ini. Namun realita tidak semudah itu. Terlalu banyak hal berbelit di birokratif kita yang akan memperlambat kebutuhan kawasan ini.”
Suasana semakin rumit. Semua pendapat tidak ada yang salah. Mereka mempunyai basis dan pengalaman yang paten dalam mengutarakan semua itu.
Merasa sedikit penat, nampaknya Arya menyerah sejenak. Kepalanya terasa pusing mendengar perdebatan yang semua pihak rasanya memang benar.
“Guys, ke depan bentar yah.”
“Kemana?” tanya Arnold.
“Beli yang seger. Panas nih,” Arya melangkah keluar lingkaran. Dia beranjak ke warung tempatnya membeli kopi beberapa waktu lalu.
“Huft, gini yah kalau diskusi dengan pelajar yang udah terdidik dengan budaya Eropa. Mereka sungguh luar biasa nalar berpikirnya.”
Sesampainya di warung, Arya tidak duduk sejenak seperti beberapa waktu lalu. Dirinya langsung menuju kulkas, memilih minum dingin dan segar yang tersedia.
“Bu ini berapa?”
“6 ribu kak,” lalu dia merogoh saku di dada kirinya. Dan uang lembaran 2000 berjumlah 3 helai didapatkan.
“Pas ya bu,” sang pemilik warung menerimanya.
Namun saat berjalan kembali, sang pemilik warung heran, “Tumben enggak duduk dulu disini kak?”
“Eh? haha. Iya nanti lagi ya bu. Sekarang lagi ada urusan dulu.”
“Oalah,” Arya melanjutkan jalannya dengan lebih cepat. Ada rasa bahwa dirinya takut ditunggu oleh yang lain.
Namun saat setelah perjalanan, sebuah suara yang begitu lama dia tidak dengar memanggilnya dengan lantang dari samping kanan telinganya. Sebuah suara yang pernah mengisi hari-harinya, menutup petualangan saat masa S1 di IPB.
“Arya!” Suara itu lantang memanggil. Lalu Arya sejenak melirik. Dan sungguh, Arya terpaku sesaat. Nampak tidak percaya dengan sosok yang sudah lama tidak dia dengar kabarnya.
“Amanda?”~
===
Terik matahari di kawasan TPA Jatisari sedang panas. Anginnya kering, menghembus dan menerbangkan daun yang berjatuhan. Tapi Arya sejenak membeku. Kehadiran Amanda di hadapannya membuat ruh dan raganya diam sesaat. Mereka melipir dari jalan, mencoba mencairkan suasana yang sempat padat oleh pertemuan dadakan ini.
“Oh, sekarang kamu di dinas lingkungan hidup? Bagian apa?” tanya Arya setelah beberapa saat melakukan basa-basi yang menghidupkan antusias Amanda.