Jejak Garuda Di Wageningen

Adam Nazar Yasin
Chapter #15

Benang Merah

 Beberapa hari berlalu, para diaspora diberikan waktu istirahat dalam perjalanan riset panjang terhadap masalah sampah. Mereka pulang ke rumah masing-masing, khususnya bagi mereka yang berdomisili di kawasan Jabodetabek. Adapun mereka yang berasal dari luar Jabodetabek, seperti dari provinsi lain dan luar pulau Jawa, mereka menempati apartemen yang tidak jauh dari kantor kementerian keuangan.

Saat berada di rumah, Arya sejenak kembali melakukan aktivitas seperti waktu sebelum dia menjelajah negeri kincir angin. Dia menjaga tokonya yang menjadi salah satu pusat belanja warga setempat. Sebuah aktivitas yang sudah lama dia rindukan.

“Ah, ini dia.” gumamnya sambil melihat beberapa stok barang yang kosong. Meski ada beberapa tata letak barang yang lupa, perlahan dia mengingatnya.

Sesekali dia melayani pembelian tetangganya. Beberapa dari mereka sadar akan Arya yang baru kembali terlihat setelah sekian lama.

“Eh Arya? Ya ampun sudah lama kamu ngilang ya. Gimana kuliahnya?” tanya bu Hesti, salah satu ibu-ibu komplek yang menjadi rekan komunitas mengaji sang ibu.

“Alhamdulillah bu Hesti, lancar. Saya pulang dulu karena ada program dari lembaga yang memberi saya beasiswa kuliah di Belanda.”

“Syukurlah. Habis itu kamu pasti mau lanjut kerja disana kan?” tanya bu Hesti lebih mengerucut. Mendengar pertanyaan itu, Arya sedikit kikuk. Akan sangat panjang jika harus menjelaskan kalau para diaspora yang mendapat beasiswa harus kembali ke Indonesia saat lulus nanti.

“Rencana sih bakal kerja di Indonesia bu. Insyaallah saya sudah tau juga akan kerja apa,” jawab Arya dengan nada meyakinkan.

Namun bu Hesti terlihat mulai terlihat sinis, “Ih kenapa? Sudah bagus di Belanda aja sekalian kerja. Kamu kembali kesini malah rusak nanti ilmu kamu. Terlalu banyak hal kotor kerja disini mah. Kayak sampah yang menggunung di berita itu,”

Jleb! Arya membeku seketika. Dia bingung harus memberikan tanggapan seperti apa.

“O-oh, hehe. Iya doakan saja yang terbaik ya bu…” ucap Arya yang tidak mau ambil pusing.

“Sip deh,” lalu dia pergi saat belanjaannya sudah di bayar tunai. “Ya ampun, gini amat punya negara.” gumam Arya sambil merapatkan dagunya ke meja.

Sebentar lagi, program pengabdian dadakan ini memang akan selesai. Dia akan kembali ke Belanda, bersua dengan roti Sourdough dan perpustakaan yang nyaman di Wageningen. Namun apa yang bu Hesti katakan menciptakan sebuah pertanyaan besar dalam benaknya,

Darimana membereskan masalah negeri ini?

Namun setelah dibawa dalam lamunan, tidak ada jawaban apapun. Masalah dalam negeri memang sudah terlalu mengakar dalam, sehingga intinya tidak bisa terlihat pada permukaan oleh mata yang biasa.

Namun tiba-tiba, Arya teringat sesuatu. Sosok Amanda yang baru saja ditemuinya mungkin bisa memberikan secercah cahaya tentang semua stigma negatif yang rutin dia dengar.

“Aku DM kali yah?” ucapnya dengan penuh keraguan. Tapi instingnya berkata : bukalah kembali percakapan dengannya.

“Oke, bismillah.”

“Assalamualaikum Amanda,” pesan dikirim. Sambil menunggu balasan, Arya kembali menyibukan diri dan berbenah beberapa barang di toko.

30 menit berlalu, Amanda membalas, “Waalaikumsalam. Halo Ar, gimana?”

“Kamu di Jakarta kan yah?”

“Iya, aku belum balik ke Bandung karena masih hari kerja. Kenapa?”

“Hmm. Main yuk?”

“Hah? Main kemana?”

Arya membuka Google Maps sejenak, melihat beberapa nama Resto di kawasan Jakarta Selatan. Dan matanya tertuju pada satu nama. “Makan di Hachi grill yuk. Gimana? Mumpung aku masih di Indonesia. Nanti kalau ke Belanda lagi, paling tahun depan aku baliknya.”

Membaca pesan itu, Amanda berpikir sejenak. Dan hatinya membenarkan apa yang Arya katakan. “Hmm, boleh deh. Kapan?”

“Aku kemungkinan besok beres kegiatan di sore hari. Kamu keberatan enggak? Atau akupun menyesuaikan sama kegiatan kamu.”

“Hmm, besok yah. Ayo!”

“Sip, kita langsung ketemu di Hachi Grill ya. Sampai jumpa besok, Manda…”

“Oke siap.” lalu Amanda menambahkan stiker jempol. Dan percakapan pun usai sejenak.

Pertemuan nanti, bukan hanya soal negara. Arya butuh pencerahan tentang kegamangan yang sedang dia hadapi. Tentang kembali ke Indonesia saat sudah lulus nanti, atau mempertimbangkan jika ada tawaran di Belanda.

===

Setelah beres kegiatan para diaspora, Arya tiba lebih dulu di Hachi Grill. Dia berdiri di depan pintu masuk, memotret kondisi parkiran pada Amanda.

“Manda, aku udah sampai...” pesannya melalui Whatsapp. Tak lama, Amanda membacanya, “Okey, sebentar yah. Macet nih,” lalu dirinya memotret balik dengan kondisi yang sedang berada di ojek online. Melihat itu, Arya menunggunya di tempat depan pintu masuk Hachi Grill.

Sekitar 10 menit, Amanda akhirnya tiba. Arya lalu melihatnya turun dari ojek.

Amanda mengeluarkan uang dari sakunya, memberikan semua uang dalam genggamannya. “Ambil aja kembaliannya pak,”  lalu perkataan itu terdengar oleh Arya.

“Makasih neng. Itu he-“ Amanda lalu antusias menghampiri Arya

Lihat selengkapnya