Jejak Garuda Di Wageningen

Adam Nazar Yasin
Chapter #16

Kembali Bertempur

25 Agustus 2025,

Hampir 1 bulan berlalu, para diaspora berhasil membuat formulasi berupa sistem dari hulu ke hilir agar masalah sampah bisa diatasi. Setiap strategi yang dibuat kelompok dibentuk dalam fomat file PDF, lalu dihimpun oleh staf dari Dewan Riset Nasional. Mengingat banyak dari mereka yang akan memulai kegiatan studinya di semester baru, maka presentasi akan dilaksanakan pada lain waktu. Di TPA Jatisari, tim Arya berkumpul terakhir kalinya sebelum kembali pada almamater masing-masing.

“Secara umum, kita hanya membutuhkan dana segar untuk mengelola sampah disini menjadi produk yang lebih bernilai. Jelas apa yang sudah kita rumuskan di file ini adalah tentang membangun infrastruktur awal. Setelah itu, political will para pemangku kebijakan yang seharusnya banyak berbicara di masalah ini.” ucap Arya.

Renatha bertanya, “Eh guys, nanti kalau program yang kita formulasi ini ternyata enggak berjalan karena SDM disini belum siap, gimana? Beberapa dari kita bisa aja ada yang belum bisa kembali ke Indonesia.”

“Itu urusan nanti. Kita lihat, ide yang sudah kita rumuskan ini apakah akan di eksekusi oleh pemerintah dengan baik atau tidak.” sahut Arnold.

“Emang lu udah ada niat buat enggak balik ke Indonesia yah Ren?” tanya Arya sambil tersenyum kecil.

Renatha menggaruk keningnya, “Hmm, gimana yah. Gue betah disana lagi, haha.”

“Yang lain juga kali Ren. Anggap aja ini sebagai pengabdian terakhir. Kita kan gak tau umur dan masa depan,” jelas Arnold.

“Stop! Jangan bawa-bawa umur ah. Serem tau.” tutup Renatha.

Mendengar pola percakapan tersebut, Arya sedikit kecewa. Ternyata banyak dari mereka yang tidak berniat untuk kembali ke Indonesia setelah proses studinya selesai. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Pada realitanya, memang itu hak masing-masing ingin melanjutkan hidup di negeri sesuai hatinya.

Guys, thank you untuk beberapa pekan melelahkan ini. Semoga dengan apa yang sudah kita perjuangkan setidaknya mampu memberikan pencerahan untuk para pihak berwenang agar menyelesaikan permasalahan ini dengan pendekatan ilmiah. Dan bila gagasan formulasi ini masih berat untuk dijalani oleh masyarakat sekitar, semoga para akademisi dalam negeri mampu mengambil alih. Mungkin teman-teman dari kampus dalam negeri bisa ambil alih dalam upaya eksekusi ide dan gagasan ini. Pada dasarnya, tidak ada perbedaan bagai bumi dan langit tentang ide dan gagasan yang sudah kita rangkai. Ini hanya tentang beberapa pengalaman di negeri orang, sehingga ada sudut pandang baru yang bisa kita sisipkan soal penyelesaian masalah sampah disini.” jelas Arya yang menutup pertemuan.

“Semoga di tanah Eropa nanti, kita ada waktu buat bertemu lagi.” ucap Arnold.

Arya mengangguk, “Gue juga berpikir itu. Semoga ya,”

Mereka mengumpulkan telapak tangannya di depan secara serentak, bersiap mengeluarkan teriakan semangat untuk terakhir kalinya.

“Garuda diaspora…”

“Jaya!”

Belasan tangan mengudara, gemuruh tepuk tangan bersuara dengan lantang. Mereka mengambil tas masing-masing dan menuju kembali ke apartemen.

Namun Arya akan kembali ke Bintaro sejenak. Dia akan menikmati waktu yang mungkin akan sangat singkat dengan keluarganya. Sebelum kembali ke Belanda dan bertempur di masa terakhir studinya.~

===

27 Agustus 2025,

Langit di atas bandara Soekarno-Hatta sangat cerah. Orang-orang begitu ramai. Sekilas terlihat sama dengan kondisi saat Arya berangkat untuk pertama kalinya di bandara kebanggaan Indonesia. Kali ini, yang menghantarkannya ke pesawat hanyalah sang Ayah. Ibu dan Nadia punya kesibukan lain.

“Sudah semua ya Ar. Beneran ya enggak ada yang ketinggalan?” tanya sang Ayah.

Arya melayangkan jempolnya, “Aman yah. Aku udah persiapan dari beberapa hari lalu.”

Lalu sang ayah teringat sesuatu, “Bukannya kamu pulang sama kedua orang Indonesia yang kuliah di Wageningen juga? Dimana mereka?”

“Mereka pulang lebih dulu yah. Juna dan Shintia kan satu tingkat di atasku. Sepertinya, mereka akan segera menjalankan sidang akhir thesisnya. Jadi mereka pulang lebih awal.”

“Oalah, begitu yah.” lalu sang ayah menepuk pundak Arya, “Berarti tahun depan giliran kamu yang akan melalui ujian itu. Jadi, persiapkan dengan matang yah. Doa ayah, ibu, dan Nadia juga akan selalu menyertai.”

“Aaminn, terima kasih yah.” Arya menyalaminya, “Kalau begitu, aku menuju pesawat. Assalamualaikum…” ranselnya di gendong, kopernya di genggam dan siap bergerak.

“Waalaikumsalam. Kabari ya nak kalau sudah sampai asrama.”

“Oke siap!”

Setelah beberapa saat berjalan ke arah pesawat, Sebuah suara Final Boarding Announcement membuatnya berhenti sejenak.

“Mohon Perhatian, para penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-088 tujuan Amsterdam dipersilahkan masuk ke pesawat melalui pintu A14."

Arya bergegas ke tempat yang sudah disebutkan. Setelah melewati beberapa tahap pengecekan, dia berhasil masuk ke dalam pesawat. Namun setelah beberapa saat masuk, Arya merasa ada sebuah perbedaan. Nampaknya, kali ini dia menggunakan jenis pesawat yang berbeda.

“Permisi, kursi ini berada dimana yah?” tanya Arya pada seorang pramugari sambil menunjukkan tiket yang sudah di pesan.

Lihat selengkapnya