3 September 2025...
Satu pekan telah berlalu. Hari yang menjadi sidang akhir bagi para diaspora telah tiba. Pak Setyo mengumpulkan mereka dalam ruang Zoom Meeting, bersiap mendengarkan semua presentasi dari setiap kelompok diaspora. Momentum itu juga disaksikan oleh beberapa pejabat dan akademisi yang berkaitan dengan topik utama, yaitu masalah sampah. Untuk kelompok Jatisari, Arya mendapatkan amanah sebagai perwakilan dari semua mayoritas anggota untuk melakukan presentasi. Diaspora dari jalur LPDP memang di prioritaskan untuk melakukan itu.
“Baik rekan-rekan semua, semua file hasil observasi kalian telah kami terima. Inilah waktunya kalian mempresentasi apa yang sudah kalian tulis. Oke, mari kita langsung mulai. Dimulai dari kelompok yang melakukan observasi di Tangerang Selatan.” ucap pak Setyo. Lalu 2 kelompok dari sana silih berganti melakukan presentasi.
Waktu berlalu, kini giliran dari Jakarta Selatan. 3 kelompok dari sana secara silih berganti menceritakan berbagai hal yang ditemui, sampai solusi yang ingin mereka wujudkan.
“Bismillah, sebentar lagi.” gumam Arya.
“Semangat broo,” chat Arnold masuk di grup mereka. Renatha juga melakukannya, “Goodluck kuncen Wageningen!” lalu yang lainnya memberikan simbol api dan meramaikan grup.
Setelah kelompok Jakarta Selatan selesai, tiba saatnya 2 kelompok dari Bekasi mempresentasikannya. Dan kelompok Arya yang pertama untuk memulai.
“Baik, terima kasih semua kelompok Jakarta Selatan. Senang sekali mendengarkan banyak ide divergen. Sebenarnya saya ingin mengkaji secara detail dari setiap region. Tapi waktu kita terbatas, mari kita akhirnya dari tim Bekasi. Silahkan untuk kelompok Jatisari terlebih dahulu, Arya. Waktu dan tempat dipersilakan.” lalu pak Setyo melakukan highlight pada layar Arya.
“Baik, selamat siang seluruh rekan-rekan. Izinkan saya memaparkan hasil program yang sudah diselenggarakan oleh negara untuk kami para diaspora.”
Arya membuka bagian observasi awal. Tim yang memiliki anggota dari berbagai universitas di Eropa dan beberapa perguruan tinggi dalam negeri itu memaparkan tentang kondisi geografis TPA Jatisari. Dirinya juga memaparkan beragam hal tentang aspek sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat. Diteruskan pada bagian identifikasi masalah, timnya menemukan bahwa muatan sampah yang terlalu besar bukan sekedar karena alasan bahwa Bekasi sebagai pusat industri dan sumber daya manusia yang kurang mampu menyerap keilmuan tentang sampah. TPA ini memiliki masalah tentang sumber daya manusia produktif yang enggan memiliki profesi sebagai pengelola sampah. Memang selayaknya alasan yang seperti lumrah. Namun disitulah kekuatan gagasan argumentasi Arya akan mengudara.
“Sebagai pelajar yang sedang berproses dalam mencari ilmu di negeri asing, saya telah melakukan komparasi dengan apa yang ada di tempat saya berada saat ini, yaitu Wageningen. Ini juga telah saya diskusikan dengan yang lain, dan beberapa kawan juga berpendapat sama, bahwa masalah ini perlu diselesaikan dengan hal krusial yang tidak terpandang penting : Yaitu peningkatan derajat sosial dari pengelola sampah itu sendiri.” jelas Arya membuka argumentasinya. Lalu beberapa foto tukang sampah di sekitar Wageningen ditampilkan.
“Seperti yang kalian lihat, tukang sampah disini terlihat bersih dan terawat. Beberapa diantaranya memiliki wangi seperti pekerja kantoran. Tidak ada bagian baju dan celana yang kumuh dan transportasi pengangkut yang kotor. Hasil informasi yang saya pelajari, profesi mereka ini memiliki penghasilan rata-rata sekitar €45.598 per tahun atau sekitar €22 per jam. Jika mengacu pada harga €1 = Rp17.000, maka penghasilan mereka bisa mencapai 780 juta lebih dalam kurun waktu satu tahun. Disini derajat profesi seperti ini layak ditinggikan, bahkan lebih tinggi dari para pejabat yang berdasi.”
Mendengar perbandingan itu, beberapa pejabat nampaknya memperlihatkan gelagat yang tidak nyaman. Mungkin mereka khawatir bila uang pajak yang selama ini terlalu banyak menggaji mereka dapat dialokasikan lebih banyak untuk para tukang sampah tersebut.