Jejak Garuda Di Wageningen

Adam Nazar Yasin
Chapter #18

Datang Yang Akan Pergi

 6 Oktober 2025,

Hari-hari indah di Wageningen berlalu. Sosok yang telah menemani masa adaptasi Arya di negeri kincir angin itu sudah sampai di masa akhir studinya. Rachel sudah selesai melaksanakan sidang akhir. Dia dinyatakan lulus dengan nilai yang baik.

“Gefeliciteerd met je afstuderen!”

“Gefeliciteerd vriend!”

Ucapan selamat silih berganti datang dari kawan-kawannya. Juna, Shintia, dan Marcel juga hadir merayakannya.

“Congrats friendkuu!”

“Edan magister lingkungan. Selamat ya!”

“Yuhuu, ada yang mau traktir roti Sourdough nih. Bisa kali, hahaha.”

Rachel terharu dengan semuanya, “Hahaha, thanks guys. Bentar lagi giliran kalian juga ya. Semangat yukk! Ayo deh kalau mau roti lagi, aku siap.”

“Asikk!”

Beberapa saat bercengkrama, Juna menunjuk arah jam 2, “Tuh si Arya!” mereka semua melirik arah tersebut.

Arya tersenyum dan menghampiri mereka, menyalaminya semua yang menjadi kakak tingkatnya itu. “Halo Ar, apa kabar? Gimana tindak lanjut dari program para diaspora di kelompok TPA Jatisari Bekasi?” tanya Juna. Dengan tersenyum, Arya menjawab, “Belum ada intruksi lebih lanjut kak. Yang di Tangerang sama Jakarta Selatan gimana?”

“Sama, grup sepi. Yang jadi komandonya juga lagi sibuk sepertinya.”

“Oalah, begitu rupanya. Yah, semoga dalam waktu dekat ada kabar dari pemerintah.” ucap Arya menutup percakapan basa-basi. Lalu dia teringat akan sosok yang sedang dalam perayaan ini.

“Eh, Selamat yah chel.” ucap Arya sambil menyodorkan tangan. Rachel menyambutnya, “Thank you. Kamu akan segera menyusul. Semangat!”

“Semoga yah…”

Tidak lama kemudian, ada 2 orang yang mendekat dari arah jam 3. Mereka tersenyum saat melihat Rachel. “Siapa tuh guys?” tanya Juna. Melihat ke arah yang Juna maksud, Rachel berteriak.

“Mamah, papah!” Seketika semuanya terkejut.

“Halo nak, selamat yah!” ucap sang papah. Sang ibu memeluk anaknya, “Akhirnya…”

Semua temannya mendekat, menyalami kedua orang tua Rachel. Namun siapa sangka, papah Rachel terkejut melihat Arya.

“Apakah namamu Arya?” tanya sang papah. Sontak semua kembali terkejut, terutama Rachel. Dia belum pernah bercerita apapun.

“I-iya pak, kok bisa tau nama saya?”

“Saya ingin memastikan,” lalu dia membuka ponselnya, memperlihatkan sebuah foto lama di albumnya. “Kamu anaknya pak Rizal yang merupakan dosen dan arsitek bukan?”

Mendengar itu, Arya membeku sejenak. Yang lainnya hanya menyaksikan percakapan yang tidak disangka itu.

“Bapak kenal?” tanya Arya. Lalu papah Rachel sumringah, “Ya ampun, dunia sempit sekali. Saya sangat kenal betul papahmu nak. Beliau rekan kerja lama saya. Belasan tahun lalu, kita pernah bekerja di satu proyek besar. Saya pernah melihatmu waktu kecil.”

Mendengar pernyataan itu membuat Rachel bingung. “Bentar, papah kenal ayahnya Arya. Tapi kok bisa tau tiba-tiba begitu?”

Sang papah kembali tertawa, “Hahaha, beberapa bulan terakhir, kita kembali sering menjalin komunikasi. Dia sebenarnya sudah cerita kalau anaknya menjadi penerima LPDP di Wageningen ini. Tapi papah enggak nyangka kalian akan menjadi teman dekat disini.”

Melihat percakapan itu, sang ibu ikut menyelaminya. “Saking dekatnya, saya juga dulu pernah satu geng arisan sama bu Fatma. Tapi memang itu belasan tahun lalu, saat kalian masih kecil.”

Perlahan, wajah-wajah bingung itu kembali menujukan ekspresi puas. “Oalah,” sahut Shintia secara berbisik.

Waktu berlalu, sang papah melihat jam tangan, “Jadi, kapan kamu kembali ke Amsterdam? Adik-adik udah kangen loh,”

Rachel melihat semua teman-temannya, “Nanti aku menyusul aja pah. Aku masih pengen sama teman-temanku disini sebentar.”

Sang papah mengehela nafas, “Apa boleh buat. Masih hafal jalankan?”

“Tau atuh pah,” jawab Rachel.

Mendengar itu, Juna terpantik, “Atuh? Eleuh-eleuh eta sunda pisan. Sunda belahan Bekasinya,” 

Celetukan itu membuat seketika semua tertawa.

“Meski kami memang sudah lama tinggal di Amsterdam, darah kami tetap Indonesia. Kalau lagi kumpul juga Rachel sering ngomong sunda kok.” sahut sang ibu.

“Kalau begitu, sekali lagi selamat ya nak.” Peluk sang papah. Disusul oleh pelukan sang ibu. Mereka berdua juga pamit dan menyalami semuanya.

Lihat selengkapnya