5 Oktober 2026...
Waktu terus berlalu bagaikan kilatan cahaya. Sebentar menampakkan diri, lalu hilang kembali pada langit. Hari ke bulanan, lalu berlanjut ke tahunan. Begitulah petualangan Arya di Wageningen. Kini setelah 1 tahun berlalu, menjalani penelitian sekaligus magang di sebuah perusahaan lingkungan di Wageningen, dia telah selesai menyelesaikan thesisnya.
“Congratulations on your graduation, Arya!” ucap Prof. Kai Jansen. Tugas beliau telah selesai membimbingnya hingga menjadi seorang magister. Arya menyalaminya, lalu berlanjut memeluk sang pembimbing, “Thank you for everything, Prof.”
“So, are you going straight back to Indonesia?” tanya sang pembimbing. Namun Arya terdiam sesaat karena bingung menjawabnya. Hatinya betah sekali disini. Penuh keasrian, jauh dari kata kumuh. Dirinya telah mengukir terlalu banyak kenangan, membuat dia sebenarnya ingin memperpanjang hidupnya disini. Apalagi mengingat nasihat kedua orang tuanya, “Berkelana saat muda, bercerita ketika tua.”
Namun memang lampu hijau dari negara sudah terlihat dari pertemuannya dengan pak Setyo. Meskipun belum ada pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya, proyek kreatif yang akan dibimbing oleh pak Setyo tentu membuatnya tidak terlalu khawatir tentang setelah ini.
“Honestly, I am very happy here. The government has also made a decision for students to be free to determine their own direction in life. But it looks like I have to go home first. There will be several projects that the government has discussed with us students in Europe.” ucap Arya.
Mendengar jawaban itu, sang pembimbing tersenyum, “Nice! If I can actually go to Jakarta, I will contact you.”
“With pleasure. I will look forward to your arrival in Indonesia.”
Sang pembimbing menyodorkan tangannya untuk bersalaman yang kedua kalinya, “Good luck in your next life, Arya!”
“Once again, thank you for all your guidance during my studies.” Sahut Arya menutup percakapan.
“You're welcome.” Arya pamit dan kembali sejenak ke asrama. Kali ini, statusnya sudah berubah. Kini dirinya seorang magister ilmu lingkungan dari universitas ternama di negeri kincir angin.
Keesokan harinya, Arya kembali ke taman untuk sedikit menikmati hidup setelah kelulusan. Namun kali ini terlihat berbeda. Tidak ada pemandangan yang seperti biasanya. Tak terlihat keluarga kecil yang sedang berkumpul, atau orang yang sedang bermain dengan hewan peliharaannya.
“Hmm, tumben ya...” gumamnya.
Setelah beberapa waktu berlalu, dia kembali melihat seorang petugas kebersihan sampah di TPA terdekat taman. Kali ini, Arya terpikiran sesuatu. Terbesit sebuah ide untuk sedikit mengajaknya berbincang santai.
“Hmm, boleh kali aku ajak ngobrol sebentar. Samperin ah,” lalu dia beranjak dari kursi menuju sang tukang sampah.
Saat dekat, Arya menyapa dengan melemparkan senyuman. “Good morning sir,”
“Halo, good morning. Can I help you?” tanya beliau.
“Oh, nothing. I just wanted to ask a few questions about your profession. I'm a recent graduate at Wageningen University, but I feel like my knowledge is still lacking."
“Oh really? Thank goodness. Education is very important. So what do you want to ask?”
“Looks like I need to take notes. Just a moment okay,” lalu Arya mengeluarkan pulpen dan buku kecilnya dan siap mencatat.
Dimulai dari pertanyaan kecil, tentang bagaimana sosoknya memulai profesi ini. Keingintahuannya melebar ke pola hidup, sistem bekerja, sampai perhatian pemangku kebijakan pada profesinya. Semua itu sangat berharga, mengingat dirinya bisa semakin memberikan sentuhan terbaik untuk cerita tentang pengelolaan sampah dan lingkungan yang akan dibuatkan produk kreatif berbasis intelektual properti.
“Thank you for the conversation sir.”
“You're welcome. Oh yeah, don't forget, okay?”
Arya sedikit bingung, “Oh sorry sir. I forgot what I was supposed to remember.”
“Haha, Don't forget to be useful not only for humans, but also for the environment.” jawabnya sambil tertawa.
“Oh that. Of course, I will do that until the end of my life.”
“Good luck!” tutup sang tukang sampah. Arya lalu pamit dan bersalaman dengannya.