Jejak Garuda Di Wageningen

Adam Nazar Yasin
Chapter #20

Lingkungan Kreatif

15 Februari 2027,

1 bulan lebih berlalu setelah Wisuda….

Suasana pagi di Bintaro begitu hangat. Burung-burung bertengger dengan tenang di pepohonan, bersiap terbang untuk mencari makan untuk hidupnya. Tapi hangatnya Bintaro kali ini bukan karena faktor alam. Suasana itu adalah hasil kumulatif dari kendaraan yang padat dan menghasilkan banyak polusi.

Di tengah suasana itu, Arya berdamai dengan secangkir es kopi yang dia racik sendiri. dia meminumnya dengan khidmat sambil melayani pembeli dengan ramah. Namun saat pukul 10.30 tiba, dirinya harus bersiap untuk kembali ke TPA Jatisari. Tapi kali ini bukan untuk kembali bersua dengan rekan diaspora hingga melakukan riset kembali.

Kali ini, Arya akan segera mengambil peran baru. Bukan sebagai ilmuwan atau akademisi, melainkan sebagai pemain film. Sebuah upaya kreatif untuk menanggulangi sampah yang di inisiatifkan oleh Dewan Riset Nasional. Selama satu tahun lebih sejak ide ini lahir, Pak Setyo dan para insan kreatif dalam negeri telah berproses secara perlahan untuk menghasilkan cerita yang mampu mengangkat banyak hal tentang masalah sampah. Dengan visi menyampaikan pesan terkait penanggulangan sampah, para akademisi senior di bidang lingkungan lebih banyak dilibatkan dalam proyek kreatif ini. Mereka akan menjadi pembina para aktor agar naskah dan proses pembuatan film sejalan dengan apa yang diharapkan.

Premis karya ini lumayan diluar nalar :

“Sekelompok alien dari galaxy Magellan menyerang TPA di kawasan Jabodetabek untuk mengangkut ribuan ton sampah itu ke planet mereka. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan pada entitas mereka, semua sampah itu akan mereka kelola untuk pembangkit energi di tempat mereka berasal. Namun merasa Indonesia sedang berproses mengembangkan sampah menjadi energi masa depan, para ilmuwan dan akademisi tidak terima. Mereka lalu berperang untuk mempertahankan sampah agar mampu dikelola dengan baik oleh umat manusia di muka bumi.”

Selain premis dan naskah utama yang telah rampung, lagu yang dinyanyikan oleh musisi bernama Ghea, telah selesai dan siap didengarkan oleh khalayak luas. Lagu ini juga hasil dari kolaborasi jebolan kompetisi idol tersebut dengan komposer musik tradisional bernama Alfy.

Dan akhirnya, keputusan bersejarah diciptakan. Judul film dan lagu tersebut adalah : Earth Waste.

Merasa sudah waktunya pergi, Arya berpamitan. Dia meninggalkan secangkir kopi hitam dan beberapa pisang goreng di meja kasir warungnya untuk rencana hidup yang sangat penuh kejutan tersebut.

“Bu, maaf warung harus aku tinggal dulu yah.” ucapnya sambil bersalaman dengan sang ibu.

“Ini sungguh diluar rencana manusia. Kamu benar akan bermain film?” tanya ibu dengan rasa yang tidak percaya. Arya hanya tersenyum, “Ya mau bagaimana lagi. Inovasi memang gak harus linear,”

“Oke baiklah. Semoga kamu bisa berperan dengan baik,”

“Berangkat ya bu. Wassalamualaikum…”

“Waalaikumsalam…” Arya berangkat menuju gang depan.

Sesampainya di depan gang, Arya menyalakan aplikasi ojek online. Dia harus memilih itu untuk efisiensi ke tempat tujuan. Tak sampai 10 menit, sang pengemudi sudah sampai.

“Arya?”

“Betul pak,”

“Ini serius ke Bekasi?”

“Iya pak, hehe. Kejauhan ya,”

“Bukan, justru saya bersyukur. Dari pagi belum ada orderan. Eh Alhamdulillah dapat yang jauh,”

Lihat selengkapnya