JEJAK LANGKAH DIATAS RODA

Muhammad Frengky S
Chapter #1

BAB 1: Garis Waktu yang Terbelah

Pukul tujuh pagi, udara di Desa Karanganyar masih menyisakan embun tipis yang menempel di pucuk-pucuk daun singkong di pekarangan rumah. Sinar matahari pagi merangsek perlahan, menembus celah-celah genting tanah liat dan menyinari lantai semen yang tersapu bersih. Di sebuah sudut ruangan yang merangkap sebagai ruang tamu sekaligus ruang kerja, suara derit roda kursi roda yang bergesekan secara konsisten dengan permukaan lantai semen menyambut terbitnya hari.

Bagas menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah yang terbawa angin pagi. Tangannya yang kokoh dan berurat—hasil dari tahunan mendorong roda manual—mencengkeram pelek kursi roda dengan mantap. Ia memutar tubuh kursinya menghadap ke jendela kayu yang terbuka lebar.

Bagi sebagian orang, fajar adalah awal dari kejar-kejaran menuju kantor, sawah, atau pasar. Namun, bagi Bagas, fajar adalah saksi bisu atas sebuah garis waktu yang terbelah menjadi dua: masa sebelum petaka dan masa sesudahnya.

Tepat sepuluh tahun lalu, sebuah kecelakaan sepeda motor di tikungan tajam jalan raya kabupaten merenggut fungsi kedua kakinya secara permanen. Tulang belakang bagian bawahnya mengalami cedera parah setelah dihantam truk bak terbuka yang kehilangan kendali di malam yang basah oleh hujan. Sejak hari itu, dunia Bagas yang tadinya luas—penuh dengan perjalanan sepeda motor ke berbagai kota, pendakian bukit, dan deru aktivitas fisik—menyusut secara drastis menjadi sebatas dinding kamar, langit-langit rumah, dan teras tempat ia biasa memandang langit bebas.

Lihat selengkapnya