JEJAK LANGKAH DIATAS RODA

Muhammad Frengky S
Chapter #3

BAB 3: Warisan di Bawah Terpal Berdebu

​Namun, manusia tidak dirancang untuk selamanya hidup dalam ratapan. Kesadaran itu datang bukan melalui petir yang menyambar atau nasihat muluk dari orang lain, melainkan melalui keheningan panjang di tengah malam ketika ia melihat ibunya tertidur pulas di kursi kayu sambil memegang kain lap lusuh. Bagas menyadari bahwa hidup tidak akan pernah berubah menjadi lebih baik jika ia hanya duduk diam menanti keajaiban turun dari langit.

​Suatu sore di penghujung musim kemarau, ketika Bagas berniat merapikan gudang belakang rumah yang lama tak tersentuh, matanya tertuju pada sebuah objek yang tertutup terpal plastik kusam. Ia menarik terpal tersebut perlahan, dan debu berhamburan mengepul ke udara, memancing batuk kecil dari tenggorokannya.

​Di balik terpal itu, berdiri sebuah mesin jahit tua bermerek klasik dengan bodi besi hitam legam dan ukiran emas pudar di sisinya—warisan mendiang ibunya dari masa muda. Mesin jahit pedal konvensional itu tampak kokoh, meski rantai dan beberapa bagian logamnya telah diselimuti karat tipis akibat kelembapan udara gudang.

​Seketika itu pula, ingatannya melompat jauh ke masa belasan tahun silam, jauh sebelum petaka merenggut kakinya. Semasa remaja, Bagas pernah beberapa kali membantu ibunya merapikan sisa-sisa benang, bahkan sempat mempelajari dasar-dasar membuat pola pakaian sederhana ketika ibunya menerima pesanan jahit dari tetangga sekitar. Ia ingat bagaimana suara ritmis jarum yang menembus kain tebal, bau minyak mesin yang khas, dan ketukan kaki pada pedal besi bawah meja menciptakan sebuah harmoni ketenangan tersendiri.

​Bagas menyentuh bodi besi mesin itu dengan ujung jemarinya. Dingin, tetapi menyimpan memori yang hangat. Di dalam kepalanya, sebuah percikan kecil harapan mulai menyala. Apakah mesin ini bisa dihidupkan kembali? Dan yang lebih tinggi lagi, apakah ia—dengan kondisi fisik yang lumpuh dari pinggang ke bawah—bisa mengoperasikannya?

Lihat selengkapnya