Matahari baru saja bergeser sepenggalah ketika Bagas memutar roda kursi manualnya menyusuri jalan makadam menuju ujung timur desa tetangga. Di sana, di bawah naungan pohon mangga yang rindang, berdiri sebuah bengkel las sederhana milik Pak Harjo—seorang tukang las keliling senior yang dikenal cerdik, teliti, dan telah puluhan tahun makan asam garam dalam memperbaiki berbagai perkakas tani maupun komponen mesin warga.
Bagas membawa selembar kertas buram di pangkuannya. Di atas kertas itu, tergambar sketsa mekanis kasar hasil pemikirannya selama berminggu-minggu: sebuah rancangan tuas tangan yang terhubung langsung dengan poros roda gila (flywheel) mesin jahit, dirancang sedemikian rupa agar tekanan dan kecepatannya dapat dikendalikan sepenuhnya menggunakan tangan kanan, sementara tangan kiri tetap fokus mengarahkan kain.
Setibanya di pelataran bengkel, suara gerinda yang memekakkan telinga seketika berhenti. Pak Harjo, dengan wajah berlumur abu besi dan sehelai handuk kecil melingkar di lehernya, mematikan mesin pemotong dan menatap ke arah Bagas yang berhenti tepat di ambang pintu bengkel.