Matahari sore menyinari meja kerja Bagas dengan bias jingga yang hangat ketika Pak Harjo datang mengantar komponen mesin jahit yang telah dimodifikasi. Besi penyangga tambahan, engsel baja ringan, serta tuas tangan (hand-lever) terpasang kokoh di sisi kanan meja, menyatu dengan bodi mesin jahit hitam legam warisan ibunya.
"Nah, coba kamu pegang tuasnya, Le. Tarik perlahan ke depan sambil sesuaikan ritmenya dengan poros roda gila," ujar Pak Harjo sambil menyerahkan kendali penuh kepada Bagas.
Bagas menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang kokoh memegang tuas mekanis tersebut. Hari-hari pertama pengujian sama sekali tidak berjalan mulus. Pada percobaan pertama, tarikannya terlalu menghentak, membuat jarum baja patah dan melompat nyaris mengenai matanya. Benang sering kali kusut di dalam sekoci, dan kain perca yang ia gunakan sebagai uji coba terkoyak sia-sia. Tumpukan kain gagal berserakan di lantai kamar, menjadi saksi bisu dari rasa frustrasi yang sempat mencuat di dadanya.
Namun, Bagas bukanlah tipe orang yang menyerah pada rintangan fisik. Setiap kali ia gagal, ia mencatat letak kesalahannya: tekanan tangan yang kurang stabil, ketegangan benang yang terlalu longgar, atau pelumasan roda gigi yang kurang licin. Malam demi malam iahabiskan untuk mengevaluasi setiap komponen mekanis tersebut.
Hingga pada suatu senja di minggu ketiga, sebuah keajaiban kecil terjadi. Ketika ia menarik tuas tangan dengan lembut dan teratur, suara ketukan mekanis mesin jahit itu berubah menjadi dengungan yang halus dan berirama. Jarum baja menembus kain perca putih dengan mulus, meninggalkan jahitan lurus tanpa cela. Bagas tersenyum lebar; di sudut ruangan itu, derit roda kursi rodanya kini berpadu sempurna dengan deru pertama mesin tua yang kembali bernyawa.