Memasuki bulan-bulan penghujung tahun, ketika angin basah berembus kencang membawa aroma tanah basah dan gemercik air hujan di genting, bengkel kecil Bagas di sudut ruang tamu mendapat ujian terbesar sejak pertama kali dibuka.
Sebuah pesanan datang dari seorang pengusaha kerajinan lokal di ibu kota kabupaten. Tidak tanggung-tanggung, ia memesan seratus buah tas kain kanvas ramah lingkungan dengan tenggat waktu penyerahan hanya dua pekan. Bagi bengkel rumahan yang digerakkan oleh seorang penyandang disabilitas di atas kursi roda dan seorang remaja magang berusia sembilan belas tahun, jumlah itu bukanlah angka yang kecil.
Malam-malam panjang pun dimulai. Lampu bohlam 15 watt yang tergantung di atas meja kerja Bagas menyala terang hingga larut malam, memantulkan bayangan dua orang yang sibuk dengan peran masing-masing. Rian bertugas mengukur, memotong pola kain sesuai cetakan, dan menyiapkan gulungan benang tebal. Sementara itu, Bagas duduk siaga di depan mesin jahit modifikasinya, menarik tuas tangan dengan ritme konstan yang tak kenal lelah.