Hari pengiriman tiba dengan cuaca cerah yang menyejukkan. Dua dus besar berisi seratus tas kanvas rapi tersusun di teras depan rumah Bagas. Ketika kurir dari toko kabupaten datang dan memeriksa kualitas jahitannya satu per satu, senyum kepuasan terukir jelas di wajah pria paruh baya pengusaha tersebut.
Ketika amplop itu berpindah tangan, ada kelegaan luar biasa yang menyelimuti seluruh ruangan. Bagas menyisihkan sebagian besar keuntungan itu untuk memperbaiki beberapa bagian atap rumah ibunya yang bocor, dan menyisihkan sebagian lagi sebagai upah pertama yang layak untuk Rian.
Hari itu, Rian menerima amplop gajinya dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, remaja itu merasakan buah dari keringat dan ketekunannya sendiri.
Bagas menepuk pundak pemuda itu pelan. Di titik itu, roda ekonomi bukan lagi sekadar alat untuk menyambung hidup, melainkan roda martabat yang berputar membawa kesejahteraan bagi orang-orang di sekitarnya.