Tahun demi tahun berlalu di Desa Karanganyar. Sudut ruangan rumah Bagas kini telah bertransformasi menjadi sebuah rumah produksi kecil yang dikenal luas karena kualitas dan kejujurannya. Rian telah tumbuh menjadi pemuda mandiri yang kini membantu mengelola pesanan, sementara Bagas tetap menjadi jiwa dan perancang utama di balik setiap karya yang keluar dari meja kerjanya.
Suatu sore di penghujung senja, ketika matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala desa, Bagas memutar roda kursinya ke arah teras depan. Ia memandang pekarangan yang kini ditumbuhi bunga-bunga pot miliknya sendiri.
Ia memejamkan mata sejenak, mendengarkan suara angin sore yang bergesekan dengan daun-daun pisang, berpadu dengan sisa-sisa suara derit pelan dari kursi rodanya.
Bagas tidak pernah menyesali kecelakaan yang merenggut fungsi kedua kakinya sepuluh tahun lalu. Sebab, di balik setiap luka, batas fisik, dan air mata yang pernah tumpah, ia menyadari satu hal yang paling berharga: hidup bukanlah tentang seberapa jauh kaki kita melangkah, melainkan seberapa tangguh hati kita merajut kembali kepingan-kepingan harapan yang sempat koyak menjadi sebuah mahakarya yang utuh dan bernilai abadi.