JEJAK LANGKAH DIATAS RODA

Muhammad Frengky S
Chapter #12

BAB 11: Bayang-Bayang Pabrik Besar dan Ujian Loyalitas

Musim berganti, dan roda waktu di Desa Karanganyar berputar semakin cepat. Usaha jahit rumahan yang dirintis Bagas dari sehelai benang dan sebuah mesin tua di sudut ruang tamu kini telah bertransformasi menjadi sebuah bengkel kecil yang dikenal dengan nama "Rumah Jahit Roda Mandiri". Rian, yang dulu datang dengan kepala tertunduk dan keraguan di wajahnya, kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda tegap berusia dua tahun belakangan, mahir dalam teknik pola modern, dan menjadi tangan kanan yang diandalkan Bagas dalam mengelola pesanan.

​Namun, hukum alam dunia perdagangan tidak pernah berjalan lurus tanpa gelombang. Ketika sebuah usaha mulai menampakkan hasil, bayang-bayang persaingan luar mulai mendekat.

​Pagi itu, sebuah mobil pikap bermuatan dus-dus besar berhenti tepat di depan pekarangan rumah Bagas. Seorang pria paruh baya berbadan gempal turun dengan mengenakan kemeja rapi dan tas selempang kulit. Namanya Pak Hartono, pemilik sebuah grosir tekstil besar dan konveksi massal di ibu kota kabupaten yang selama ini menjadi salah satu pelanggan tetap yang menyuplai bahan baku untuk tas kanvas Bagas.

​Bagas, yang sedang merapikan benang di meja kerjanya, menyambut tamu tersebut dengan senyuman ramah. Rian segera menyiapkan dua kursi kayu di teras depan.


​Pak Hartono tidak langsung tersenyum seperti biasanya. Wajahnya tampak menyiratkan keraguan dan sedikit kecanggungan. Ia duduk, menarik napas dalam-dalam, lalu meletakkan sebuah tas sampel di atas meja. Tas itu terbuat dari bahan kanvas tipis dengan sablon logo yang cukup mencolok.


​Bagas mendengarkan dengan seksama, matanya menatap lekat pria paruh baya itu. Rian yang berdiri di belakang Bagas ikut menyimak dengan saksama, merasakan ada nada berat di balik kalimat sang pengusaha.


​Suasana di teras rumah mendadak senyap. Angin pagi yang berhembus melalui pepohonan singkong di pekarangan terasa begitu dingin menyentuh kulit. Rian mengepalkan tangannya di balik saku celana, merasa tidak terima jika hasil kerja keras bengkel mereka harus dibandingkan dengan barang murahan pabrikan.

Lihat selengkapnya