Tiga bulan setelah musibah banjir melanda, Rumah Jahit Roda Mandiri kembali berdiri lebih kokoh dari sebelumnya. Dengan gotong royong warga desa dan bantuan dari para muridnya, rumah Bagas direnovasi dengan lantai yang sedikit lebih tinggi untuk mengantisipasi banjir di masa depan.
Mesin jahit tua berangka besi hitam itu kembali terpasang di atas meja kerjanya yang baru, bersinar bersih setelah dibersihkan dan dilumasi dengan teliti oleh tangan terampil Bagas dan Rian. Suara dengungan mekanisnya kembali berirama di sudut ruangan, menandakan bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti bagi mereka yang menolak menyerah pada keadaan.
Hari itu, sebuah pameran produk UMKM tingkat kabupaten diadakan di alun-alun pusat kota. Pemerintah daerah mengundang Bagas sebagai salah satu tokoh inspiratif penyandang disabilitas yang berhasil menggerakkan kemandirian ekonomi perdesaan melalui inovasi kreatif.
Di stan pameran yang dipadati pengunjung, Bagas duduk rapi di atas kursi rodanya, didampingi oleh Rian dan Siti yang sibuk melayani pembeli yang antusias melihat berbagai produk tas kanvas dan pakaian buatan tangan berkualitas tinggi.