JEJAK LANGKAH DIATAS RODA

Muhammad Frengky S
Chapter #15

BAB 15: Warisan Ketulusan dan Titik Kulminasi

Waktu tidak pernah berhenti berjalan, ia mengalir bagai air sungai yang mengikis batu karang paling keras sekalipun hingga menjadi halus. Enam belas tahun telah berlalu sejak detik pertama roda kursi Bagas bergesekan dengan lantai semen di pagi hari yang dingin, membawa serta bayang-bayang kelam kecelakaan maut yang merenggut fungsi kedua kakinya.

​Kini, "Rumah Jahit Roda Mandiri" bukan lagi sekadar bengkel rumahan sederhana di sudut Desa Karanganyar. Bangunan itu telah berkembang menjadi sebuah pusat pelatihan keterampilan kerja dan rumah produksi mandiri yang menaungi puluhan pemuda-pemudi desa, termasuk para penyandang disabilitas dari berbagai kecamatan tetangga yang sebelumnya merasa tersisih dari ruang sosial masyarakat.

​Rian, yang dulu datang sebagai remaja kurus dengan tatapan penuh keraguan, kini telah berdiri tegak sebagai seorang pria dewasa berjiwa matang. Ia memegang peran manajerial harian, mengawasi kualitas produksi, sekaligus mewarisi kesabaran Bagas dalam membimbing setiap anak didik baru yang melangkah masuk melalui pintu kayu bercat hijau tua itu. Sementara Siti, gadis pendiam yang dulunya minder akibat kecelakaan masa kecil, telah menjelma menjadi kepala bagian desain dan pola, memimpin divisi tekstil ramah lingkungan yang produk-produknya kini rutin dikirim ke berbagai kota besar di provinsi tersebut.

​Namun, di tengah kesibukan yang kian padat dan reputasi yang kian harum, Bagas tidak pernah berubah. Ia tetap pria sederhana dengan senyuman tenang, yang setiap fajar menyingsing selalu memutar roda kursinya ke arah jendela kayu, menghirup udara pagi, dan mendengarkan suara alam yang berpadu dengan ritme kehidupan desa.

​Sore itu, langit Desa Karanganyar dihiasi warna jingga kemerahan yang memantul di atas genangan air sawah seusai hujan reda. Suasana bengkel mulai berangsur tenang ketika para pekerja merapikan peralatan dan bersiap pulang ke rumah masing-masing. Rian sedang membereskan sisa potongan kain kanvas di meja tengah, sementara Siti mengunci lemari inventaris benang.

​Tiba-tiba, suara ketukan pintu gerbang depan terdengar ragu-ragu. Ketukan itu pelan, nyaris tak terdengar di antara derik jangkrik sore hari, namun cukup untuk menarik perhatian Bagas yang sedang melumasi poros roda gila mesin jahit kesayangannya.

​Bagas menoleh ke arah pintu masuk. Seorang pria paruh baya berambut kusut dan wajah kusam tampak berdiri di ambang pintu, menuntun sebuah kursi roda tua berkarat. Di atas kursi roda itu, duduk seorang remaja laki-laki berusia sekitar tujuh belas tahun dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Wajah remaja itu pucat, matanya sembab, dan kedua kakinya terbalut kain kassa putih serta disangga oleh bidai kayu sederhana—bekas kecelakaan lalu lintas yang baru saja merenggut fungsi tubuh bagian bawahnya dua bulan lalu.

​Ibu dari remaja tersebut, seorang wanita paruh baya dengan kebaya lusuh dan mata yang basah oleh air mata, memandang Bagas dengan tatapan penuh permohonan yang amat putus asa.


​Suasana di dalam ruangan mendadak hening. Rian yang tadinya memegang tumpukan kain seketika menghentikan gerakannya. Siti menatap iba ke arah remaja di atas kursi roda tersebut. Pemandangan itu bagaikan cermin raksasa yang memutar ulang rekaman masa lalu Bagas sendiri—enam belas tahun silam, di ruangan yang sama, dengan rasa sakit dan keputusasaan yang persis sama.

​Bagas meletakkan kain lap di tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memutar roda kursinya perlahan, meluncur menyeberangi lantai semen yang bersih mendekati pintu depan.

​Ia berhenti tepat di hadapan Gilang, remaja yang masih mematung dengan kepala tertunduk, menolak menatap dunia luar.

​Bagas tidak langsung memberikan kata-kata motivasi yang muluk atau nasihat klise tentang ketabahan. Ia tahu betul, pada fase terkelam dalam hidup seseorang, kata-kata bijak sering kali terdengar seperti omong kosong yang menyakitkan.

Lihat selengkapnya