Jejak Pinus Si Bungsu

Dzulqarnain
Chapter #1

Batas Kesabaran Ayah

Suasana ruang tamu terasa sangat mencekam malam itu. Bimo hanya bisa menunduk menatap lantai ubin yang dingin, sementara napas ayahnya terdengar memburu karena amarah yang memuncak. Di sudut ruangan, seorang wanita muda tampak memegang sapu dengan tangan gemetar.

"Kamu tidak pernah berubah, Bimo!" bentak pria itu.

Kakak perempuannya hanya bisa berbisik lirih, "Sudah, Yah, jangan pakai emosi."

Bimo merasakan hawa panas menjalar di punggungnya saat ayahnya melangkah mendekat dengan tatapan yang sangat tajam. Tiga tahun lalu, perempuan itu yang satu-satunya membelanya saat uang SPP hilang dari laci meja kerja. Sekarang suaranya masih sama—lembut, penuh kasih sayang, sering berbisik—tapi tidak lagi cukup untuk menahan amarah yang sudah mengendap terlalu lama.

"Pondok pesantren," kata pria itu dengan nada tinggi, keras, tegas. "Tiga tahun. Kamu akan belajar disiplin di sana."

Bimo mengatupkan rahang. Mojokerto. Ia belum pernah melihat tempat itu, hanya mendengar namanya disebut-sebut sebagai kota santri. Lantai ubin di bawah kakinya terasa semakin dingin, seakan menyerap seluruh kehangatan yang tersisa dari tubuhnya.

Perempuan itu meletakkan sapu dan bergerak maj satu langkah, tapi tangannya terhenti di udara. Bimo tidak menoleh. Ia tahu ekspresi di wajah kakaknya—sayang, khawatir, kalah.

Pria itu tidak menunggu jawaban. Tangannya mengayun cepat, kaki menendang keras ke sisi tubuh Bimo yang gemetar di lantai.

"Berani kamu mencuri uang SPP lagi?"

Ayah berteriak, suaranya pecah di ruang tamu yang sempit. Tangannya mengayun cepat, kaki menendang keras ke sisi tubuh Bimo yang gemetar di lantai.

Bimo tersungkur, punggungnya membentur ubin dingin. Napasnya terhenti sejenak sebelum rasa perih menusuk rusuk kanannya. Ia meringkuk, kedua tangan menekan sisi tubuh yang berdenyut-denyut.

"Ayah, cukup!" Sari berlari dari dapur, sandalnya terlepas di tengah jalan. Ia menjatuhkan diri di samping adiknya, lengannya melingkar erat di bahu Bimo yang bergetar hebat.

"Lepaskan dia," kata Ayah, suaranya turun setengah nada tapi tetap menggetarkan.

Sari menggeleng, pipinya basah. "Dia sudah tahu salah, Ayah. Dia sudah tahu."

Bimo menangis tersedu-sedu di pelukan kakaknya. Air matanya menetes ke lantai, bercampur debu dan rasa malu yang menghantamnya lebih keras dari tendangan tadi. Tiga tahun lalu ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu. Tiga tahun di pondok seharusnya cukup.

"Pergi dari rumah ini setelah lulus!"

Ayah menunjuk pintu dengan telunjuk bergetar. Cahaya lampu neon membuat bayangannya memanjang di dinding, besar dan asing. Bimo mengangkat kepala sedikit, melihat garis tegas di wajah ayahnya yang tidak pernah ia lihat melembut sejak kecil.

"Ayah—" suara Bimo serak, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.

"Tidak ada maaf lagi." Ayah berbalik, langkahnya berat menuju ruang makan. "Siapkan barang-barangmu."

Sari memeluk Bimo lebih erat, bisikannya menembus suara isakan. "Nanti aku bantu, Bim. Tenang, nanti aku bantu."

Bimo hanya diam. Ia menyadari bahwa kali ini kesalahannya memang tidak akan pernah dimaafkan lagi. Tangan kanannya masih menekan rusuk yang berdenyut, tapi rasa itu sudah kalah oleh sesuatu yang lebih dalam dan hancur. Dunianya runtuh seketika di bawah kaki ayahnya sendiri yang sangat keras itu, dan ia tidak tahu lagi di mana letak tanah yang bisa ditapaknya.

Bimo bangkit perlahan, melangkah mundur ke dalam gelap kamar. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara kertas dan pena dari ruang makan, menandai akhir dari segalanya.


Rasa sakit di pinggang Bimo masih berdenyut saat Ayah melempar sebuah brosur pondok ke meja makan. Kertas itu meluncur di permukaan kayu yang mengkilap, berhenti tepat di depan piring bekas makan malam. Gambar masjid berkubah putih di sampul depan terlihat samar dalam cahaya lampu yang redup.

Sari mencoba membujuk Ayah agar membatalkan niatnya mengirim Bimo ke tempat terpencil di Mojokerto.

"Dia masih kecil, Yah, kasihan kalau jauh," ucap Sari pelan.

Ayah tidak bergeming dan tetap mengisi formulir pendaftaran dengan pena hitamnya. Tangan kanannya menekan kertas, memastikan tinta tidak beleber ke meja. Suara pena menggesek kertas terdengar kering dan cepat, seperti orang yang sudah memutuskan sesuati jauh-jauh hari.

Bimo hanya bisa melihat dari balik pintu kamar, merasa seperti sampah yang siap dibuang.

Udara di koridor terasa lembab. Bau kapur barus dari ruang tamu menyelinap masuk, bercampur dengan aroma nasi goreng yang mulai dingin di dapur. Bimo menahan napas, membiarkan denyut di pinggangnya menjadi irama yang mengisi kesunyian.

"Tiga tahun," kata Ayah tiba-tiba. Suaranya mengisi ruang makan yang sepi.

Sari mengangkat kepala dari meja.

"Apa, Yah?"

"Tiga tahun dia di sana. Cukup lama untuk belajar sopan santun."

Bimo merapatkan jari di kusen pintu. Kayu itu terasa kasar, bekas cat mengelupas di sudut-sudutnya. Dia ingat bagaimana tendangan itu datang — cepat, tanpa peringatan, tepat setelah Ayah menemukan dompet kosong di laci meja belajarnya.

"Tapi Mojokerto, Yah..." Sari berbisik lagi. "Jauh sekali."

"Jauhnya yang kita butuhkan."

Ayah mengangkat formulir, meniup tinta yang masih basah. Kertas itu bergetar pelan di tangannya. Bimo melihat dari celah pintu — lebar bahu Ayah yang tegak, garis rahang yang keras, rambut di pelipis yang mulai memutih.

Dia tahu bahwa protes apa pun hanya akan menambah luka baru di tubuhnya.

Suara kertas dilipat terdengar dari ruang makan. Kemudian langkah kaki Ayah, berat dan pasti, mendekati lemari arsip di sudut ruangan. Bimo mundur selangkah, memastikan bayangannya tidak terlihat dari celah pintu.

"Sari, ambilkan amplop di laci atas."

"Iya, Yah."

Suara laci dibuka, kemudian ditutup. Bimo membayangkan Sari berdiri di sana, tangan gemetar memegang sesuatu yang akan mengirimnya pergi. Kakaknya selalu mencoba melindungi, tapi malam ini bahkan Sari terdiam lebih sering dari biasanya.

Lampu di ruang makan berkedip sekali. Bimo menunggu, menghitung detik dalam kepala. Tiga, empat, lima — kemudian cahaya stabil kembali, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Biaya SPP sudah saya siapkan," kata Ayah. "Besok pagi kita ke bank."

Bimo menutup mata sejenak. Uang itu — uang yang dia ambil tanpa izin — sebenarnya untuk apa? Dia sudah lupa. Mungkin untuk main game di warnet, mungkin untuk jajan dengan teman-teman yang sekarang sudah tidak pernah datang lagi. Alasannya terasa begitu kecil dibandingkan dengan apa yang harus dibayar.

"Bimo."

Suaranya sendiri membuatnya terkejut. Bimo tidak sadar telah berucap, namun tangan kirinya sudah mendorong pintu kamar terbuka lebih lebar.

Ayah berbalik. Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan yang remang-remang.

"Sudah tidur?" tanya Ayah. Nada suaranya datar, tidak menunjukkan kemarahan maupun penyesalan.

"Belum, Yah."

"Besok bangun pagi. Jam enam sudah harus siap."

Bimo mengangguk. Kepalanya terasa berat, seolah dipenuhi dengan air yang tidak bisa ditumpahkan.

Sari melihat ke arahnya dari meja makan. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Mungkin sudah habis, pikir Bimo. Mungkin semua orang di rumah ini sudah kehabisan sesuatu.

"Mau minum?" tanya Sari pelan.

"Sudah."

Bimo berbalik, melangkah kembali ke dalam gelap kamar. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara kertas dan pena dari ruang makan, menandai akhir dari segalanya. Dia berdiri di tengah kamar, melihat tas ransel lama di sudut lemari, mengingat bahwa besok pagi semuanya akan berbeda.

Malam semakin larut. Suara jangkrik dari kebun belakang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Bimo duduk di tepi kasur, merasakan pegas yang sudah tidak lagi empuk. Di seberang dinding tipis, dia bisa mendengar Ayah bergerak-gerak, mungkin menyiapkan dokumen lain, mungkin hanya duduk dalam keheningan yang sama.

Sari muncul di ambang pintu tanpa mengetuk. Dia membawa segelas air putih, uap tipis mengepul di permukaannya.

"Minum dulu," bisiknya.

Bimo menerima gelas itu. Tangan Sari menyentuh tangannya sejenak, hangat dan sedikit berkeringat.

Lihat selengkapnya