Jejak Pinus Si Bungsu

Dzulqarnain
Chapter #2

Pelarian di Balik Kabut

Bulan kedua di pondok terasa lebih berat karena jadwal hafalan yang semakin menumpuk setiap harinya. Bimo berdiri di tepi pagar pembatas, menatap barisan pohon pinus yang bergoyang tertiup angin kencang. Di sampingnya, seorang teman akrab bernama Rian sedang asyik mengunyah kerupuk.

"Kamu jangan macam-macam, Bimo," bisik Rian dengan nada sangat cemas.

Bimo hanya membalas, "Aku sudah tidak tahan lagi di sini."

Hawa dingin Mojokerto mulai merayap naik, menyelimuti area pondok dengan kabut putih yang sangat tebal. Rian menggeser posisi duduknya di atas batu rendah, bungkus kerupuk masih terjepit di sela jari-jemarinya. Kacamata yang selalu menempel di hidungnya berembun tipis. Ia menatap Bimo sekilas, lalu kembali menunduk.

"Tiga tahun lalu kamu bilang begitu juga," ujar Rian pelan. "Terus kamu tetap di sini."

Bimo tidak menjawab. Tangannya meremas besi pagar yang dingin, jari-jemari memutih karena tekanan. Angin membawa bau tanah basah dari arah belakang pondok, campur aroma asap dapur yang mulai padam. Di kejauhan, suara azan maghrib baru selesai menggema, meninggalkan sunyi yang terasa berat di telinga.

"Kabutnya makin tebal," kata Rian sambil mengunyah lagi. "Nanti jalur pulang ke asrama kabur."

Bimo menatap Rian yang masih mengunyah kerupuk. Ia berbalik, melangkah menjauh dari tepi pagar menuju kegelapan hutan yang membentang di belakangnya.

Daun pinus menggemerisik di bawah tumit Bimo saat ia berlari menjauh dari tepi pagar. Kabut mulai turun, menyelinap di antara batang-batang pohon yang menjulang tinggi. Napasnya keluar dalam hembusan pendek, beruap di udara yang semakin dingin.

"Maafkan aku, Rian."

Suara bisikannya tenggelam seketika, ditelan oleh keheningan hutan yang terlalu pekat. Bimo tidak menoleh ke belakang. Cahaya lampu pondok sudah menyusut menjadi titik oranye yang samar, lalu lenyap sama sekali di balik lengkungan tanah.

Ia berhenti sejenak, tangan menekan dada yang berdebar tak terkendali. Telinganya menangkap suara air mengalir di kejauhan — mungkin sungai kecil yang sering disebut Rian saat mereka duduk di teras belakang. Bimo menggeleng, menghalau kenangan itu. Ia tidak boleh teringat Rian sekarang. Tidak boleh teringat siapa pun.

Langkahnya melambat, berubah dari lari menjadi berjalan cepat. Tanah di sini lebih lembap, bekas hujan siang yang tidak mengering. Sepatu sport milik Sari yang ia pinjam — tanpa izin, seperti biasa — menyerap air dingin yang merembes masuk.

"Tiga tahun," gumam Bimo pada dirinya sendiri.

Angka itu terasa asing di lidahnya. Tiga tahun sejak Ayah melempar brosur pondok ke meja makan. Tiga tahun sejak tendangan itu mendarat di pinggangnya, membuatnya terjungkal dan melihat bintang-bintang palsu di langit-langit ruang tamu. Sekarang, di hutan yang sama sekali asing, Bimo merasa tendangan itu masih ada — bukan sebagai rasa sakit, tapi sebagai sesuatu yang mengganjal di tulang belakangnya setiap kali ia berdiri terlalu tegak.

Suara burung malam berkicau dari arah yang tidak bisa ia tentukan. Bimo berhenti lagi, kali ini benar-benar diam. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan: ia tidak tahu di mana letak utara. Tidak ada bintang yang terlihat di balik kanopi pinus yang rapat. Tidak ada suara mesin kendaraan yang bisa menunjukkan arah jalan raya.

"Ke kanan," bisiknya, memilih secara sembarang. "Selalu ke kanan."

Ia mulai berjalan lagi, tangan kanan menjalar di kulit pohon-pohon yang dilalui, mencatat tekstur kasar mereka sebagai penanda jalan pulang — meskipun ia tidak punya niat untuk pulang. Belum. Mungkin tidak pernah.

Kabut semakin tebal, mengubah pohon-pohon di depannya menjadi siluet abu-abu yang bergerak-gerak seperti penari wayang yang salah ukuran. Bimo mengigit bibirnya yang kering. Ia ingat sesuatu yang pernah dikatakan perempuan itu — suara yang tidak menyentuh tanah, yang muncul di tepi hutan beberapa malam lalu — tentang jin muslim yang menjaga kawasan ini. Waktu itu Bimo tertawa dalam hati, menganggapnya cerita pengasuh anak-anak. Sekarang, di tengah kegelapan yang bisa diraba, ia tidak begitu yakin lagi.

"Hanya kabut," ucapnya keras-keras, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Hanya kabut dan malam."

Tapi kata-kata itu tidak menenangkan. Sesuatu di udara terasa salah — terlalu sunyi, terlalu pekat, seolah hutan itu menahan napas bersamanya. Bimo mengencangkan tali sepatu yang longgar, gerakan otomatis yang tidak perlu dilakukan karena talinya kencang. Ia hanya butuh melakukan sesuatu dengan tangan.

Langkahnya menjadi lebih cepat lagi, bukan karena berlari, tapi karena ketakutan yang membuat kakinya bergerak sendiri. Ranting-ranting patah di bawah sol sepatunya, suara yang terlalu keras di telinganya. Ia mencoba melangkah di atas akar-akar yang menjulang, mengurangi jejak suara, tapi tubuhnya sudah lelah dan koordinasinya mulai goyah.

Sebatang pohon muncul tiba-tiba di depannya — atau ia yang muncul tiba-tiba di pohon itu. Bahu kirinya menabrak kulit kayu yang basah, membuatnya terhuyung. Bimo mengumpat pelan, suara pertama yang benar-benar keluar dari mulutnya sejak lari dari pondok. Kata itu terasa kotor di lidahnya, terlalu kotor untuk seseorang yang tiga tahun menghafal kitab setiap subuh.

Ia berdiri diam, membiarkan rasa sakit di bahu meredam. Kemudian ia tertawa — suara pendek, aneh, yang bahkan membuatnya sendiri terkejut. Tawa yang tidak lucu, tawa seseorang yang baru sadar betapa bodohnya dirinya. Melarikan diri tanpa rencana. Tanpa uang. Tanpa tahu ke mana.

"Sari pasti marah besar," gumamnya, dan tiba-tiba mata terasa panas.

Kakaknya yang satu-satunya membelanya waktu itu, saat Ayah menggebrak meja dan menyebutnya pencuri. Sari yang mengemasi pakaiannya dengan tangan gemetar, yang menyelipkan seratus ribu rupiah di saku celana dalam — uang tabungan dari jualan kue yang ia sembunyikan dari Ayah. Bimo menyentuh saku depannya sekarang, merasakan lekukan kertas yang masih ada di sana. Uang itu belum tersentuh. Ia tidak tahu harus membeli apa.

Angin mulai bertiup dari arah yang tidak bisa ia tentukan, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih manis — mungkin bunga liar yang mekar di malam hari. Bimo menghirupnya dalam-dalam, mencoba mengisi paru-paru yang terasa menyempit. Ia harus terus bergerak. Berdiri diam berarti membiarkan pikiran mengejar, dan pikirannya sudah cukup cepat tanpa bantuan.

Langkahnya menjadi berlari lagi, tidak secepat tadi tapi lebih mantap. Ia memilih jalur yang sedikit menurun, mengikuti kemiringan tanah yang bisa dirasakan di telapak kaki. Air mengalir ke bawah, katanya dalam hati, ingat pelajaran geografi dasar yang hampir terlupakan. Ikuti air, temukan sungai, temukan jalan.

Tapi sungai itu tidak kunjung muncul. Yang ada hanya semakin banyak pohon, semakin tebal kabut, dan semakin dalam keheningan yang menelan setiap suara yang ia hasilkan. Bimo mulai menghitung langkahnya — seratus, dua ratus — hanya untuk membuktikan bahwa waktu masih berjalan, bahwa ia masih berada di dunia yang sama.

Di hitungan tiga ratus dua puluh tujuh, ia berhenti. Sesuatu bergerak di sisi kirinya.

Bimo membeku, napas tertahan di tenggorokan. Matanya menyipit, mencoba menembus kabut yang kini berwarna abu-abu keunguan di kegelapan. Tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa. Ia mengulangi kalimat itu dalam hati, tapi tangan kanannya sudah mencengkeram ranting yang tergeletak di kaki pohon terdekat.

Lihat selengkapnya