Tiga tahun telah berlalu, dan kini Bimo berdiri di aula pondok dengan mengenakan jubah wisuda berwarna hijau gelap. Kain itu terasa berat di bahu, bukan karena benangnya, melainkan karena segala yang ia bawa dalam-dalam. Dia teringat saat pertama kali datang dengan luka memar di pinggang dan kebencian yang sangat mendalam. Waktu itu, setiap langkah di koridor pondok terasa seperti hukuman, bukan kesempatan.
Di kursi undangan, Sari melambaikan tangan dengan bangga sambil menggendong seorang balita kecil. Rambut kakaknya kini lebih pendek, garis-garis di wajahnya sedikit lebih dalam, tapi senyumnya sama hangatnya seperti malam-malam ia menyelinap membawa plester dan air hangat.
"Kamu hebat, Dek!" teriak Sari dari kejauhan dengan suara yang serak. Balita di gendongannya meniru lambaian tangan ibunya, tak mengerti makna hari ini tapi ikut gembira.
Bimo mengangkat tangan membalas, bibirnya bergerak membentuk senyum yang belum sepenuhnya ia rasakan. Ia sudah belajar banyak di sini—tentang sabar, tentang memaafkan, tentang cara menata hati yang dulu hanya tahu marah. Tapi ada satu pelajaran yang belum selesai.
Matanya menyapu barisan kursi di sebelah kanan, tempat keluarga santri lain duduk berkelompok. Beberapa pria seusianya berdiri memeluk ayah mereka. Yang lebih muda duduk kaku di samping ibu, masih malu-malu kucing.
Bimo menoleh ke arah kursi tamu kosong, matanya mencari sosok pria yang selama ini ia hindari.
"Ayah?"
Suaranya keluar lebih parau dari yang ia duga. Tiga tahun lalu, pria itu mengusirnya dengan tendangan ke pinggang yang masih terkadang mengirim nyeri tengah malam. Sekarang, Ayah berdiri di pojok aula wisuda, rambut putih menyelimuti kepala bagaikan salju yang turun terlalu cepat.
Ayah tidak bergerak. Tangannya terlipat di depan dada, jari-jari kasar yang pernah menulis surat pengusiran itu saling meremas.
Bimo melangkah mendekat. Setiap inci perasaan lama berteriak lari, tapi kakinya terus berjalan. Lantai keramik aula terasa dingin di telapak sandal. Ia berhenti dua langkah dari Ayah, lalu perlahan menekuk lutut.
Sujud di kaki Ayah.
Bau kapur barus dari baju koko putih Ayah menusuk hidungnya. Bau yang sama menyeruak dari lemari di rumah, dari baju yang Ayah pakai saat mengantarnya ke terminal bus tiga tahun silam. Bimo merasakan getaran kecil di bahu—Ayah bergerak, akhirnya.
"Bangun, Nak."
Suara itu pecah di tengah kalimat. Bimo mengangkat kepala. Ayah tidak menatapnya, matanya terarah ke jendela tinggi di seberang aula. Tapi tangan kanannya sudah terulur, jari-jari keriput bergetar di udara.
"Ayah yang salah," ucap Ayah. "Ayah yang harusnya sujud."
"Jangan, Ayah."
Bimo bangkit sendiri, menangkap tangan Ayah sebelum lutut itu menekuk. Kulit di telapak tangannya terasa seperti amplas bekas, garis-garis hitam bekas kerja masih menggigit. Bimo ingat tangan ini memegang palu, memegang obeng, memegang surat pengusiran yang ditulis dengan huruf tegak bersudut.
"Sari yang bilang," kata Ayah, akhirnya menatapnya. "Dia bilang kamu sering bangun malam. Mimpi buruk."
Bimo tidak menjawab. Di pojok mata Ayah, air mata berkumpul tapi tidak jatuh. Pria itu tidak pernah menangis di depannya, tidak saat Ibu pergi, tidak saat mengusirnya.
"Ayah pikir," lanjut Ayah, "kalau Ayah kasar, kamu akan lurus. Tapi Ayah salah cara."
"Aku juga salah, Ayah."
"Kamu mencuri. Ayah mencuri juga."
Ayah menarik tangannya, lalu mengusap wajah sendiri dengan gerakan kasar. "Ayah mencuri waktu. Tiga tahun. Ayah tidak datang, tidak menulis, tidak bertanya."
Di belakang mereka, suara tawa santrai lain mengalun. Wisuda masih berlangsung, tapi bagi Bimo seluruh dunia telah menyempit ke ruang dua meter persegi ini.
"Rian yang kirim kabar," kata Bimo. "Dia bilang Ayah sakit paru-paru."
"Sudah sembuh."
"Tapi rambut—"
"Bukan karena sakit." Ayah tersenyum, bibirnya merekah dengan susah payah. "Ini karena Ayah menunggu. Setiap subuh, Ayah menunggu surat. Setiap magrib, Ayah menunggu telepon. Rambut putih itu hadiah dari menunggu."
Bimo merasakan sesuatu pecah di dada. Tiga tahun ia membenci, tapi ternyata ada seseorang di rumah yang menghitung hari dengan cara yang sama.
"Maafkan Ayah, Nak."
Tangan Ayah yang kasar menyentuh kepala Bimo, sama seperti saat ia masih kecil dan jatuh dari sepeda. Jari-jari itu menekan, lalu menarik, membimbing Bimo berdiri.
"Ayah hanya ingin kamu menjadi orang benar," bisik Ayah, suaranya bergetar di telinga Bimo. "Tapi Ayah lupa, orang benar juga bisa jatuh. Yang penting bangunnya."
Bimo merasakan lengan Ayah melingkar di punggungnya. Pelukan itu tidak erat, hampir ragu-ragu, seolah pria itu takut tulang-tulang anaknya telah berubah menjadi sesuatu yang rapuh.
"Aku sudah bangun, Ayah."
"Ayah lihat."
"Di sini. Di pondok. Aku belajar bangun setiap hari."
Ayah mengangguk, dagunya menggoyang di bahu Bimo. "Sari bilang kamu tidak mau pulang. Kamu takut."
"Bukan takut."
"Takut Ayah masih marah."
Bimo tidak menjawab. Ia memang takut, tapi bukan pada kemarahan—pada kekosongan yang mungkin menunggu di rumah, pada ruang tiga tahun yang tidak pernah terisi.
"Ayah tidak marah lagi," kata Ayah. "Ayah hanya... kangen."
Kata itu terdengar asing di mulut pria itu. Bimo ingat Ayah pernah mengucapkannya sekali, saat Ibu masih ada, saat malam Idul Fitri dan meja masih lengkap. Sejak itu, tidak pernah lagi.
"Aku juga kangen," ucap Bimo. "Tapi aku tidak tahu cara bilang."
"Sekarang sudah tahu."
Pelukan itu perlahan dilepaskan. Bimo mengangguk pelan, merasa ringan dan damai setelah beban dendam akhirnya terangkat dari hatinya.
Sinar matahari sore menerobos rimbunnya pinus, membuat hutan yang dulu menakutkan itu kini tampak seperti lukisan yang dilukis dengan warna lembut. Bimo melambatkan langkahnya, pandangan tertuju pada celah antara pepohonan tempat ia bertemu sosok tak biasa itu tiga tahun lalu.
"Kak, aku pernah ketemu seseorang di sana," ucapnya pelan, jari menunjuk ke arah lereng yang berkabut tipis.
Sari mengikuti arah tunjuk adiknya, alis berkerut bingung. "Siapa? Teman pondokmu?"
"Bukan." Bimo menggigit bibir sejenak, mencari kata yang tepat. "Seorang kakek. Pakaiannya putih bersih. Dan... kakinya tidak menyentuh tanah."