JEJAK RAGA

Dyah
Chapter #3

Chapter 3 - Air Datang Tanpa Ampun

Hujan semakin deras. Genangan yang tadi hanya menutupi halaman kini naik dengan cepat, mencapai lutut, lalu pinggang. Rumah-rumah tetangga sudah mulai terendam, beberapa orang berteriak panik saat benda-benda rumah hanyut terbawa arus.

Siti menggenggam Raga lebih erat, menggendongnya di pelukan. Anak itu lemah, wajahnya pucat dan panas karena demam. Kakinya terasa ringan karena tubuhnya tidak bertenaga, tapi berat di pundak Siti, bukan karena bobotnya, tapi karena rasa takut yang menekan dada.

“Pegang Ibu, Nak… jangan lepas, ya?” Siti berbisik.

Raga mengangguk lemah, matanya setengah terpejam. “Bu… airnya… tinggi…”

Siti menelan ludah, menatap air yang kini sudah hampir setinggi pinggangnya. Arus dari jalanan bercampur dengan air hujan menciptakan pusaran kecil, menghancurkan apa saja yang dilewatinya. Ia melangkah hati-hati, menahan tubuh agar tidak terhanyut, meski setiap langkah semakin sulit.

Dari kejauhan, terdengar teriakan tetangga: “Bu Siti! Cepat ke balai desa! Sungai sudah meluap!”

Siti hanya bisa mengangguk, menahan napas. Ia tahu mereka tidak punya waktu lagi untuk menunggu. Jalan menuju balai desa kini penuh bahaya.

Tiba-tiba, sebuah papan kayu besar terbawa arus menghantam kakinya. Siti terhuyung, hampir jatuh. Raga menjerit kecil.

Lihat selengkapnya