Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #1

Jejak Pertama

CHAPTER 1

"Kadang seseorang datang bukan untuk menjadi rumah, tetapi untuk mengajarkan bagaimana rasanya pulang."

Hari pertama kuliah selalu memiliki suasana yang aneh.

Bukan karena gedung kampus yang terlalu besar, bukan karena wajah-wajah baru yang memenuhi lorong, tetapi karena semua orang datang membawa harapan yang sama yaitu ingin menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Aku berdiri di depan gedung Fakultas Teknik Arsitektur sambil memandang bangunan tinggi dengan kaca besar yang memantulkan cahaya pagi.

Namaku Kael Adrian Whitmore.

Dan hari itu adalah awal dari perjalanan yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Bro, kalau dari cara lo lihat gedung itu, kayaknya lo lagi ngobrol sama tembok.”

Suara seseorang membuatku menoleh.

Noah Alexander Reed berdiri di sampingku sambil membawa dua gelas kopi.

Aku menghela napas kecil.

“Gue cuma mikir.”

“Lo selalu mikir. Kadang gue curiga otak lo nggak pernah punya tombol off.”

Aku mengambil kopi yang dia berikan.

“Thanks.”

Alexander tersenyum.

“Welcome to campus life, brother. Tempat di mana kita pura-pura tahu masa depan padahal sebenarnya kita semua lost.”

Aku tertawa kecil.

“Untuk pertama kalinya, gue setuju sama omongan lo.”

. . .

Kami berjalan masuk ke dalam kampus. Hari itu semuanya terasa biasa. Sampai aku bertemu seseorang yang membuat sesuatu yang biasa menjadi tidak biasa.

Perpustakaan kampus adalah tempat favoritku. Bukan karena aku terlalu rajin, seperti yang orang pikirkan. Aku hanya suka tempat yang tenang. Tempat dimana suara pikiran sendiri terdengar lebih jelas daripada suara dunia. Aku sedang mencari buku referensi ketika seseorang mengambil buku yang sama denganku.

Tangan kami hampir bersentuhan.

“Sorry.” suara perempuan.

Aku melihat ke arah orang itu. Seorang perempuan dengan rambut panjang yang sedikit berantakan, membawa beberapa buku di tangannya, dan memiliki ekspresi seperti seseorang yang baru saja berlari mengejar waktu.

“It's okay.”

Dia tersenyum kecil.

“Are you using this book?”

Aku melihat buku di tangannya.

“Actually, yes.”

Dia melihat buku itu lalu melihatku.

“Wow. Great. Jadi kita punya masalah kecil.”

Aku mengangkat alis.

“Masalah?”

“I need this book for my assignment. You need this book too. The universe really loves making things complicated.”

Aku tidak bisa menahan senyum.

“Or maybe we can share.”

Dia terlihat sedikit terkejut.

“Share?”

“Iya. It's just a book.”

Dia tertawa kecil.

“That's actually a very calm answer.”

“Apa harus panik cuma gara-gara buku?”

“Sometimes people panic over smaller things.”

Aku diam sebentar. Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar berbeda.

“Aku Elara.”

Dia mengulurkan tangan.

“Elara Vivienne Laurent.”

Aku menjabat tangannya.

“Kael.”

“Kael what?”

“Kael Adrian Whitmore.”

Dia tersenyum.

“Your name sounds like someone from a movie.”

Aku tertawa pelan.

“Your name doesn't?”

“Fair enough.”

Untuk beberapa detik kami hanya berdiri di antara rak buku. Terlihat sangat aneh. Aku bahkan tidak mengenalnya. Tapi rasanya percakapan itu tidak terasa seperti percakapan dengan orang asing.

. . .

Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa. Kuliah, tugas, presentasi, dan kopi yang semakin menjadi kebutuhan hidup.

Tapi ada satu hal yang berubah. Aku mulai sering bertemu Elara. Kadang di perpustakaan, kadang di kantin, kadang secara tidak sengaja di lorong kampus atau mungkin sebenarnya tidak sesengaja itu.

“Kael!”

Aku menoleh. Kemudian Elara berjalan ke arahku bersama Claire.

“Hi.”

Claire melihatku lalu tersenyum kecil.

“Jadi ini Kael?”

Aku melihat Elara.

“Jadi?”

Elara terlihat salah tingkah.

“Claire suka kepo.”

“Aku cuma observasi,” jawab Claire santai.

“No, you're judging.”

“Same thing.”

Aku tertawa. Sementara Elara menggeleng.

“Don't listen to her.”

Aku memasukkan tangan ke saku jaket.

“Dia selalu begini?”

“Selalu.”

“Berarti gue harus hati-hati.”

Claire tertawa.

“Good. At least you understand.”

Kami akhirnya duduk bersama di kantin. Percakapan kecil berubah menjadi obrolan panjang tentang keluarga, mimpi, dan hal-hal yang biasanya tidak mudah diceritakan kepada orang baru.

“Aku sebenarnya takut gagal.”

Elara memainkan sedotan minumannya. Kemudian aku menatapnya.

“Kamu?”

Dia mengangguk.

“Yeah. People think I'm confident because I smile a lot. But honestly, sometimes I don't even know if I'm doing the right thing.”

Aku terdiam. Karena aku mengerti.

“Kita semua punya rasa takut.”

Elara melihatku.

“Even you?”

“Especially me.”

Dia tersenyum kecil.

“Interesting.”

“Kenapa?”

“Because you look like someone who never gets scared.”

Aku melihat keluar jendela.

“Hanya karena seseorang terlihat kuat bukan berarti dia tidak pernah hampir menyerah.”

Kalimat itu membuat Elara diam. Lalu dia berkata pelan.

“Maybe that's why people need other people.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Untuk mengingatkan kalau mereka nggak harus selalu kuat sendirian.”

Dan entah kenapa... Kalimat itu tinggal lebih lama dari yang seharusnya.

Malam itu aku duduk di kamar sambil melihat pesan dari grup kampus. Tapi pikiranku bukan tentang tugas. Bukan tentang kuliah. Melainkan tentang seseorang bernama Elara Vivienne Laurent. Seseorang yang baru kukenal dan seseorang yang bahkan belum menjadi siapa-siapa dalam hidupku. Tapi sudah meninggalkan sesuatu. Sebuah jejak kecil. Sebuah rasa yang belum memiliki nama. Dan mungkin semua cerita besar memang selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana. Satu pertemuan, satu percakapan, satu orang asing yang perlahan terasa seperti seseorang yang sudah lama dikenal.

. . .

Malam semakin larut.

Lampu kamar hanya menyala dari sudut meja belajar, menerangi tumpukan buku yang bahkan belum semuanya kubuka. Di layar laptop, file laporan tugas Teknik Arsitektur yang diberikan oleh dosen dari 2 hari yang lalu masih kosong sejak tiga puluh menit lalu. Terlihat sangat lucu. Biasanya aku bisa fokus. Biasanya aku bisa mengabaikan hal-hal kecil yang mengganggu pikiran.

Tapi malam itu berbeda.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang membuat pikiranku berhenti pada satu titik.

Elara.

Aku menghela napas pelan.

“Seriously, Kael? Baru kenal satu hari dan lo udah mikirin orang?”

Aku menoleh.

Alexander berdiri di pintu kamarku sambil membawa sebungkus makanan ringan.

Aku bahkan tidak sadar dia masuk.

Lihat selengkapnya