CHAPTER 2
"Kadang seseorang datang bukan untuk mengisi kekosongan, tetapi untuk mengajarkan bahwa hati yang pernah terluka masih mampu memberi ruang untuk rasa yang baru."
Seminggu berlalu sejak kejadian di perpustakaan itu.
Seminggu sejak aku mengetahui bahwa Elara memiliki cerita yang pernah berjalan sebelum aku hadir. Terlihat sangat aneh. Karena sebenarnya aku tidak punya alasan untuk merasa terganggu.
Aku dan Elara bukan siapa-siapa.
Kami hanya dua mahasiswa yang kebetulan sering bertemu. Dua orang yang kebetulan suka berbicara tentang hal-hal kecil. Dua orang yang kebetulan merasa nyaman ketika berada di tempat yang sama. Tapi manusia memang aneh. Kadang sesuatu yang belum menjadi milik kita saja sudah mampu membuat kita takut kehilangan.
Pagi itu kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Suara langkah kaki mahasiswa memenuhi lorong. Beberapa orang berlari karena hampir terlambat masuk kelas. Sebagian sibuk membawa laptop dan kopi. Sebagian lagi berjalan santai sambil tertawa bersama teman-temannya. Aku berjalan menuju lorong Studio Arsitektur sambil membawa beberapa lembar rancangan.
“Bro!”
Aku menoleh. Sementara Alexander berjalan cepat mengejarku.
“Lo kenapa?”
Aku melihatnya heran.
“Kenapa?”
“Gue manggil lo tiga kali.”
“Oh.”
Alexander berhenti berjalan lalu menatapku.
“Oh doang?”
Aku diam.
Dia menggeleng.
“Something is wrong.”
“Nothing.”
“Lo tahu nggak, Kael?”
“Apa?”
“No one says ‘nothing’ because sebanyak apapun orang yang berkata 'nothing' sebenarnya orang itu sedang memikirkan sesuatu.”
Aku menghela napas.
“Lo terlalu banyak membaca psikologi dari Claire.”
Alexander tertawa.
“Maybe.”
Alexander berjalan di sampingku.
“Tapi serius. Masalah Lucas ya?”
Aku tidak menjawab. Dan ternyata diamku sudah menjadi jawaban. Kemudian Alexander mengangkat alis.
“Wow.”
“Apa?”
“Biasanya lo menyangkal lebih cepat.”
Aku memasukkan tangan ke saku jaket.
“Gue cuma berpikir.”
“About her?”
Aku melihat ke depan.
“Maybe.”
Alexander tersenyum.
“Finally.”
“Finally apa?”
“Kael Adrian Whitmore punya sesuatu yang dia pedulikan selain tugas dan deadline.”
Aku mendengus.
“Gue masih tetap peduli sama tugas ya njir.”
“Iya, iya. Tapi sekarang ada manusia yang masuk daftar prioritas lo kan hahahha.”
Aku tidak menjawab. Karena mungkin dia benar.
Siang itu aku bertemu Elara di kantin. Dia duduk bersama Claire sambil membuka laptop.
Ketika melihatku, dia langsung tersenyum.
“Kael.”
Nada suaranya selalu seperti itu. Terlihat sederhana. Tapi selalu berhasil membuatku berhenti sejenak.
“Hi.”
Claire melihatku lalu tersenyum jahil.
“Aku pergi dulu.”
Elara menatapnya bingung.
“Hah? Kenapa?”
Claire berdiri sambil membawa minumannya.
“Karena aku tahu kapan dua orang butuh waktu sendiri.”
“Claire.”
“What? I’m just being supportive.”
Dia berjalan pergi sebelum Elara sempat membalas.
Aku tertawa kecil.
“Teman kamu selalu seperti itu ya?”
“Sayangnya iya.”
“Sayangnya?”
“Iya. Kadang dia terlalu tahu banyak.”
Aku duduk di depannya.
“Tapi dia baik.”
Elara tersenyum.
“Yeah. She is.”
Ada keheningan kecil. Tapi bukan keheningan yang tidak nyaman. Aku mulai terbiasa dengan caranya diam. Dengan caranya berpikir sebelum bicara. Dengan caranya melihat sesuatu lebih dalam daripada orang lain.
“Kamu sudah makan?”
Pertanyaan itu keluar darinya. Kemudian aku mengangkat alis.
“Kamu nanya itu?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Because you always forget.”
Aku terdiam.
“Kamu tahu dari mana?”
Dia menunjuk laptopku.
“Yesterday you said you skipped lunch because of your assignment.”
Aku tersenyum kecil.
“Kamu ingat?”
“Of course.”
“Kenapa?”
Dia menatapku seolah pertanyaanku aneh.
“Because I listen.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa terasa berbeda. Karena banyak orang mendengar. Tapi tidak banyak yang benar-benar memperhatikan.
Sore hari, kami mengerjakan tugas bersama di perpustakaan. Aku sedang membuat sketsa ketika Elara tiba-tiba bertanya.
“Kael.”
“Hm?”
“Menurut kamu, orang bisa berubah?”
Tanganku berhenti. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi aku tahu tidak ada pertanyaan sederhana dari Elara.
“Bisa.”
“Semudah itu?”
“Tidak.”
Dia memainkan ujung pulpen.
“Menurut kamu apa yang bikin seseorang berubah?”
Aku berpikir sebentar.
“Pengalaman.”
“Bukan karena cinta?”