Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #3

Antara Kita dan Berdua

CHAPTER 3

"Ketika dua hati mulai saling mendekat, dunia sering kali datang membawa ujian. Sebab, cinta bukan hanya tentang menemukan seseorang, tetapi juga tentang memilih untuk tetap bertahan di tengah segala rintangan."

Hari Senin selalu menjadi hari yang paling sibuk di kampus University College London.

Lorong-lorong fakultas dipenuhi mahasiswa yang berjalan terburu-buru sambil membawa laptop, map presentasi, dan segelas kopi yang hampir tumpah karena langkah mereka terlalu cepat. Di sudut taman, beberapa mahasiswa baru masih sibuk mencari ruang kelas melalui peta digital kampus, sementara mahasiswa tingkat atas sudah terlihat santai, bercanda seolah tidak memiliki beban, meskipun kenyataannya deadline tugas menumpuk seperti bom waktu.

Aku berjalan melewati pelataran utama dengan kedua tangan berada di dalam saku hoodie putih favoritku.

Udara pagi cukup sejuk setelah hujan semalam. Entah kenapa, sejak menerima pesan misterius itu, langkahku terasa lebih berat.

"Kalau kamu pikir kamu mengenal Elara, kamu salah."

Kalimat itu masih tersimpan di ponselku. Belum kuhapus dan belum juga kubalas. Aku tidak tahu siapa pengirimnya. Tapi satu hal yang pasti... Pesan itu berhasil membuat pikiranku tidak tenang.

"Bro." suara Alexander membuyarkan lamunanku.

Ia berlari kecil sambil menggenggam dua bungkus roti.

"Gue nyariin lo dari tadi."

"Ada apa?"

Alexander menyerahkan satu roti kepadaku.

"Nih sarapan buat lo"

"Gue udah makan."

"Parah banget gak ngajak."

Aku menatapnya.

"Alexander."

"Gue kenal ekspresi lo."

Dia membuka bungkus rotinya.

"Lo kalau lagi kepikiran sesuatu pasti lupa makan."

Aku tertawa pelan.

"Lo terlalu perhatian banget ke gua."

"Bukan perhatian."

Dia menggigit rotinya.

"Gue cuma nggak mau sahabat gue pingsan sebelum presentasi."

Aku menggeleng kecil.

Hubunganku dengan Alexander memang seperti itu.

Kami jarang mengucapkan kata terima kasih atau gue peduli sama lo. Tapi tindakan kecil selalu menjadi cara kami menjaga persahabatan.

"By the way..."

Alexander melirikku.

"Lo udah ngobrol lagi sama Elara?"

Aku mengangguk pelan.

"Udah."

"Gimana?"

"She's okay."

"Cuma itu?"

Aku menghela napas.

"Kayaknya ada sesuatu yang dia sembunyiin."

Alexander tidak langsung menjawab.

Dia justru menatap ke arah lapangan basket.

"Semua orang nyimpen rahasia."

"I know."

"Pertanyaannya..."

Dia kembali menoleh kepadaku.

"...kalau suatu hari lo tahu semua rahasianya, apa lo masih bakal melihat dia dengan cara yang sama?"

Aku terdiam. Belum sempat menjawab, suara pengumuman dari pengeras suara kampus menggema.

"Seluruh mahasiswa dimohon berkumpul di Aula University College London dalam lima belas menit untuk pengumuman program National Innovation Challenge."

Alexander langsung bersiul pelan.

"Wah..."

"Apa?"

"Kompetisi nasional."

Aku mengangguk.

Kompetisi itu adalah ajang paling bergengsi di antara universitas-universitas terbaik. Setiap fakultas hanya boleh mengirim satu tim. Dan tim pemenangnya akan mendapat pendanaan penelitian, kesempatan pertukaran pelajar ke luar negeri, serta tawaran magang di perusahaan-perusahaan besar.

"No wonder semua orang panik."

Alexander tersenyum.

"Feeling gue... hidup kita bakal makin ribet."

Aku terkekeh.

"Feeling lo jarang salah."

Aula di Kampus University College London itu hampir penuh. Ratusan mahasiswa duduk memenuhi kursi. Suasana yang semula riuh berubah tenang ketika Wakil Rektor naik ke atas panggung. Beliau menjelaskan tentang kompetisi nasional, syarat pendaftaran, dan mekanisme seleksi. Sampai akhirnya satu kalimat membuat seluruh ruangan bergemuruh.

"Setiap tim akan terdiri dari empat mahasiswa lintas jurusan."

Aku menoleh ke arah Alexander.

Dia juga menatapku.

"Lintas jurusan?"

"Interesting."

Presentasi masih berlanjut. Namun pikiranku terhenti ketika nama dosen pembimbing diumumkan.

"Setiap fakultas akan menentukan anggota tim melalui rekomendasi akademik."

Aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Sampai seseorang memanggil namaku.

"Kael."

Aku menoleh.

Elara berdiri di barisan belakang sambil melambaikan tangan kecil. Hari ini dia mengenakan kemeja putih dengan cardigan biru muda. Rambutnya diikat sederhana.

Tanpa sadar aku tersenyum. Kemudian dia berjalan menghampiriku.

"Morning Kael."

"Morning too Elara."

"Kamu kelihatan capek banget."

"Keliatan banget?"

Dia mengangguk.

"Iya keliatan banget dari raut wajahnya."

Aku tertawa pelan.

"Kurang tidur aja ini mah Elara."

"Kamu habis begadang ya?"

"Sedikit."

Elara menghela napas.

"Kael..."

"Hm?"

"Stop treating your body like a machine."

Aku tersenyum kecil.

"Kamu selalu ngomelin aku."

"Because someone has to."

Aku tidak menjawab. Justru kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa hangat.

Someone has to.

Entah kenapa... rasanya menyenangkan ketika ada seseorang yang memperhatikan hal-hal kecil tentang diriku.

"By the way..."

Elara menatap panggung.

"Kamu ikut kompetisi itu?"

"Mungkin."

"Mungkin?"

"Aku belum tahu."

Dia tersenyum tipis.

"Kalau kamu ikut..."

"...aku yakin tim kamu bakal kuat."

"Kenapa?"

"Karena kamu tipe orang yang nggak gampang nyerah."

Aku menatapnya beberapa detik.

"Kamu terlalu percaya sama aku."

"Bukannya semua orang butuh seseorang yang percaya sama mereka?"

Aku tidak sempat menjawab. Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

"Looks like I'm interrupting something."

Aku dan Elara menoleh bersamaan.

Lucas berdiri di sana. Tetapi kali ini... dia tidak sendirian.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan berambut pendek sebahu dengan tatapan yang tajam namun elegan. Seragam organisasi mahasiswa yang dikenakannya membuat banyak orang menoleh.

"Elara."

Perempuan itu tersenyum hangat.

"Long time no see."

Wajah Elara langsung berubah.

"Celeste..."

Aku belum pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya.

Bukan terkejut. Bukan juga senang. Melainkan campuran lega dan gugup dalam waktu yang bersamaan.

Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya kepadaku.

"Kamu pasti Kael."

Aku mengernyit.

"Kita pernah ketemu?"

Dia menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Belum."

"Tapi..."

"...aku sudah sering mendengar nama kamu."

Kalimat itu membuatku spontan menoleh ke arah Elara. Sementara Elara hanya memejamkan mata sejenak, seolah tahu bahwa mulai hari ini... semua rahasia yang selama ini ia simpan perlahan akan terbuka.

Dan tanpa kusadari... aku baru saja melangkah masuk ke permainan yang jauh lebih besar daripada sekadar kisah cinta di bangku kuliah.

Udara di Aula Kampus University College London berubah menjadi lebih riuh begitu acara selesai. Kursi-kursi mulai kosong, suara percakapan memenuhi setiap sudut ruangan, dan mahasiswa berbondong-bondong keluar sambil membicarakan kompetisi nasional yang baru saja diumumkan.

Namun, di antara keramaian itu, pikiranku justru terpaku pada satu orang.

Celeste.

Perempuan yang baru saja menyebut namaku seolah kami sudah saling mengenal sejak lama.

Aku memperhatikan Elara yang masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali beralih kepada Celeste, lalu kepada Lucas. Ada keraguan yang jelas terlihat di wajahnya, sesuatu yang selama ini belum pernah kulihat.

"Elara." suara Celeste terdengar lembut.

"Can we talk for a minute?"

Elara menoleh perlahan.

"Right now?"

Celeste mengangguk.

"It won't take long."

Elara melirikku sebentar, seolah meminta maaf tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Aku tinggal sebentar ya Kael."

Aku hanya mengangguk pelan.

"It's okay."

Ia berjalan mengikuti Celeste menuju lorong samping aula. Sementara itu Lucas masih berdiri beberapa meter dariku. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, wajahnya tenang seperti biasa.

Untuk beberapa detik kami hanya saling diam. Sampai akhirnya Lucas membuka percakapan.

"Kael."

"Hm?"

"Lo pasti bingung."

Aku tersenyum tipis.

"Maksud lo?"

Lucas mengembuskan napas pendek.

"Kalau gue ada di posisi lo, mungkin gue juga bakal bingung."

Aku mengangkat alis.

"Posisi gue?"

"Iya."

Lihat selengkapnya