Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #4

Bayang yang Kembali

CHAPTER 4

"Tidak semua rahasia terkubur oleh waktu. Ada yang justru tumbuh semakin besar setiap kali berusaha disembunyikan."

Pagi itu di University College London terasa berbeda. Biasanya halaman utama kampus dipenuhi suara tawa mahasiswa yang baru datang, aroma kopi dari kafe kecil di dekat gedung rektorat, dan obrolan ringan tentang tugas yang belum selesai. Namun hari itu, keramaian berubah menjadi bisik-bisik yang sulit diabaikan.

Bukan tentang kompetisi nasional dan bukan juga tentang jadwal ujian tengah semester. Melainkan tentang satu nama.

Elara Vivienne Laurent.

Aku baru saja memarkir motor ketika ponselku bergetar. Tidak lama kemudian Alexander mengirim pesan.

"Bro, jangan masuk dulu. Ketemu gue di Coffee Corner. Sekarang."

Aku mengernyit.

Biasanya Alexander tidak pernah mengirim pesan sesingkat itu. Tanpa banyak berpikir, aku mengubah langkah menuju kafe kecil yang berada di samping gedung perpustakaan.

Dari kejauhan, kulihat Alexander sudah duduk di meja paling pojok bersama Claire. Di atas meja mereka terdapat dua laptop, beberapa lembar kertas, dan dua gelas kopi yang bahkan belum disentuh.

Begitu aku duduk, Alexander langsung mendorong laptopnya ke hadapanku.

"Lo harus lihat ini."

Di layar terpampang forum mahasiswa yang semalam diunggah akun anonim. Kini unggahan itu sudah dibagikan ratusan kali. Kolom komentarnya terus bertambah setiap menit. Aku membaca beberapa di antaranya.

'Jadi dia orangnya?'

'Pantesan Lucas balik lagi.'

'Kasihan Kael kalau sampai kena tipu.'

Tanganku mengepal tanpa sadar. Claire segera menutup layar laptop.

"Jangan dibaca semuanya."

"Kenapa?"

"Karena makin dibaca, makin nggak ada manfaatnya."

Aku mengembuskan napas panjang.

"Elara tahu?"

Claire mengangguk pelan.

"Dia tahu."

"Dia bilang apa?"

"Tidak banyak."

Claire menundukkan kepala.

"Semalam dia cuma bilang satu kalimat."

"Apa?"

"'Aku capek lari dari masa lalu.'"

Kalimat itu membuat suasana meja kami mendadak sunyi. Kemudian Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Yang bikin gue heran..."

Dia menatapku.

"...unggahan itu jelas bukan dibuat orang sembarangan."

"Maksud lo?"

"Orang itu punya foto-foto lama."

Claire mengangguk.

"Dan foto-foto itu bukan foto yang bisa ditemukan di media sosial."

Aku langsung menangkap maksud mereka.

"Itu berarti..."

"Ada seseorang yang benar-benar mengenal Elara."

Di sisi lain kampus... Elara berjalan sendirian melewati koridor Fakultas Psikologi. Biasanya ia selalu menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya.

Hari ini berbeda. Beberapa mahasiswa sengaja menghentikan percakapan ketika ia lewat. Ada yang berbisik, ada yang memandang dengan rasa ingin tahu, ada pula yang terang-terangan memperlihatkan layar ponsel kepada temannya.

Elara menarik napas pelan. Ia mencoba mengabaikan semuanya. Namun setiap langkah terasa semakin berat.

"Elara." suara lembut dari belakang membuatnya berhenti.

Seorang dosen perempuan menghampirinya.

"Are you okay Elara?"

Elara memaksakan senyum.

"Iya, Bu."

"Kalau ada masalah..."

"...jangan dipendam sendiri ya."

Elara mengangguk pelan.

"Terima kasih bu."

Setelah dosen itu pergi, senyum di wajahnya perlahan menghilang. Ia menggenggam tali tasnya lebih erat.

Untuk pertama kalinya sejak masuk kuliah... kampus yang selama ini terasa seperti rumah mulai terasa asing.

Aku menemukannya hampir satu jam kemudian. Di taman belakang perpustakaan. Tempat yang kini tanpa sadar menjadi tempat favorit kami. Elara duduk di bangku kayu yang menghadap kolam kecil. Di sampingnya ada secangkir kopi yang sudah dingin.

Aku berjalan mendekat tanpa mengucapkan apa pun. Baru ketika duduk di sebelahnya, ia berbicara.

"Kamu juga lihat semuanya?"

Aku mengangguk.

"Iya."

"Hmm..."

Ia tersenyum kecil.

"Internet memang secepat itu ya buat menyebarluaskan suatu informasi."

Aku menatap wajahnya.

Di balik senyum itu, kedua matanya tampak lelah.

"Kamu semalam tidur?"

"Sedikit."

"Udah makan?"

Ia menggeleng pelan.

Belum sempat ia mengatakan apa-apa, aku langsung berdiri.

"Tunggu aku di sini ya."

"Kael..."

"Sebentar."

Aku berjalan menuju vending machine yang berada di dekat perpustakaan.

Beberapa menit kemudian aku kembali membawa dua roti dan sebotol air mineral. Aku meletakkannya di hadapannya.

"Makan dulu."

Elara memandangku beberapa detik.

"Kamu tahu nggak..."

"Apa?"

"Kadang aku bingung sama kamu."

Aku tersenyum tipis.

"Kenapa?"

"Harusnya kamu ikut menjauh."

"Kenapa harus?"

"Karena sekarang semua orang lagi ngomongin aku."

Aku menghela napas pelan.

"Lalu?"

"Takutnya nama kamu ikut jelek."

Aku terkekeh pelan.

"Elara."

"Hm?"

"Aku belum pernah mengambil keputusan berdasarkan gosip."

Ia terdiam.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

"Aku lebih percaya sama orang yang ada di depanku daripada seratus komentar anonim di internet."

Untuk pertama kalinya hari itu, mata Elara berkaca-kaca.

"Aku nggak tahu harus bilang apa."

"Nggak usah bilang apa-apa."

Aku mendorong roti ke arahnya.

"Kamu cukup makan aja dulu."

Elara tertawa pelan di sela-sela matanya yang mulai memerah.

"Kamu tahu nggak?"

"Apa?"

"Ini mungkin cara paling aneh buat ngasih semangat orang."

"Works, right?"

Ia mengangguk sambil tersenyum.

"Yeah..."

"...it works."

Untuk sesaat, dunia di sekitar kami terasa menghilang. Tidak ada bisik-bisik mahasiswa. Tidak ada forum anonim. Tidak ada foto-foto lama. Hanya ada dua orang yang sedang berusaha saling menguatkan.

Namun dari lantai dua perpustakaan... seseorang sedang memotret mereka menggunakan kamera ponsel. Layar ponsel itu memperlihatkan satu pesan yang baru saja masuk.

Unknown: "Lanjutkan. Jangan biarkan mereka terlalu dekat."

Orang itu tersenyum tipis. Lalu menekan tombol kirim pada sebuah foto baru. Dan tanpa diketahui Kael maupun Elara... permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Hampir lima belas menit aku dan Elara duduk di taman belakang perpustakaan. Tidak banyak kata yang kami ucapkan. Kadang keheningan memang lebih jujur daripada ribuan kalimat yang dipaksakan keluar.

Angin sore menggerakkan dedaunan mahoni di sepanjang jalan setapak kampus. Beberapa mahasiswa berlalu-lalang sambil sesekali melirik ke arah kami. Tatapan mereka masih sama. Penuh rasa ingin tahu. Dan entah kenapa... Rasa ingin tahu manusia sering kali lebih kejam daripada kebencian.

"Aku boleh nanya sesuatu?" suara Elara memecah keheningan.

Aku mengangguk.

"Boleh."

Dia memutar botol air mineral yang sejak tadi belum dibukanya.

"Kalau nanti ternyata semua yang mereka tulis tentang aku itu benar..."

"...apa kamu masih akan percaya sama aku?"

Aku menatap wajahnya cukup lama. Aku bisa melihat ketakutan yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Bukan takut dibenci. Melainkan takut kehilangan orang yang mulai ia percaya.

"Elara."

"Hm?"

"Aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Dia mengangguk pelan.

"Tapi..."

Aku menarik napas.

"...aku juga belum pernah mendengar cerita itu langsung dari kamu."

Dia menatapku.

Lihat selengkapnya