CHAPTER 5
"Masa lalu tidak selalu datang untuk dikenang. Kadang, ia kembali hanya untuk memastikan bahwa luka yang pernah ada belum benar-benar sembuh."
Jam menunjukkan pukul delapan tepat.
Suasana kampus yang biasanya dipenuhi tawa mendadak berubah hening ketika hampir seluruh ponsel mahasiswa berbunyi bersamaan.
TING!
Notifikasi dari forum mahasiswa kembali muncul.
Part 3 of 7 akhirnya diunggah.
Mahasiswa yang sedang berjalan langsung berhenti. Beberapa berkumpul di depan gedung fakultas, sementara yang lain membuka unggahan itu dengan rasa penasaran.
Kael, Alexander, Claire, Elara, Lucas, dan Celeste yang sedang menuju ruang diskusi Innovation Hub ikut menerima notifikasi yang sama.
Alexander menghela napas panjang.
"Dia beneran upload."
Claire langsung membuka forum itu.
"Semoga aja bukan sesuatu yang lebih parah."
Namun harapan itu langsung pupus. Di layar muncul sebuah video berdurasi tiga puluh detik.
Video lama.
Terlihat Elara sedang berdebat dengan seorang laki-laki di halaman sebuah rumah. Suaranya tidak terlalu jelas, tetapi satu kalimat terdengar cukup keras.
"Aku udah nggak sanggup hidup kayak gini!"
Beberapa detik kemudian video berhenti. Kemudian layar berubah hitam. Lalu muncul tulisan putih.
"Apa yang sebenarnya terjadi setelah malam itu?"
Elara langsung mematikan layar ponselnya. Wajahnya memucat. Kael memperhatikan perubahan ekspresinya.
"Itu Ethan?"
Elara mengangguk pelan.
"Iya."
Alexander menoleh.
"Dia siapa sebenarnya?"
Elara tidak menjawab.
Sebaliknya, Lucas yang membuka suara.
"Orang yang seharusnya nggak pernah muncul lagi."
Tatapan Kael langsung beralih kepada Lucas.
"Lo kenal dia?"
Lucas mengangguk pelan.
"Lebih dari yang kalian kira."
Tidak ada lagi yang bertanya. Karena mereka tahu, saat ini bukan waktu yang tepat.
Ruang diskusi Innovation Hub kembali dipenuhi lembar desain dan laptop yang menyala. Tidak lama kemudian Celeste mencoba mengembalikan fokus semua orang.
"Oke."
"Kita nggak bisa mengendalikan apa yang orang upload. Tapi kita masih bisa mengendalikan pekerjaan kita."
Kael mengangguk.
"Setuju."
Ia membuka sketsa desain yang semalam ia kerjakan.
"Aku coba bikin konsep kawasan ramah lingkungan dengan ruang publik yang lebih nyaman buat mahasiswa."
Elara memperhatikan gambar itu.
"Kalau dari sisi psikologi..."
"...orang lebih mudah menjaga lingkungan kalau mereka merasa punya keterikatan dengan tempat tersebut."
Kael tersenyum.
"Berarti konsepnya bisa kita gabung."
"Exactly."
Untuk beberapa saat, mereka kembali bekerja seperti biasanya. Namun Lucas terlihat beberapa kali melirik ke arah Elara. Seolah ingin mengatakan sesuatu.
Saat waktu istirahat tiba, Lucas akhirnya menghampiri Elara.
"Boleh ngobrol sebentar?"
Elara menatap Kael sekilas, lalu mengangguk.
"Oke."
Mereka berjalan keluar menuju balkon. Kael memilih tetap di dalam ruangan. Ia percaya setiap orang berhak menyelesaikan urusannya sendiri.
Tetapi entah kenapa... ada perasaan tidak tenang yang sulit dijelaskan.
Di balkon lantai tiga, angin bertiup cukup kencang. Lucas berdiri membelakangi Elara.
"Aku minta maaf."
Elara tersenyum tipis.
"Kamu udah bilang itu berkali-kali."
"Tapi aku belum pernah benar-benar memperbaikinya."
Elara menatap langit.
"Semua orang bikin salah, Lucas."
"Aku tahu."
"Tapi nggak semua kesalahan bisa diperbaiki."
Lucas menundukkan kepala.
"Apa kamu masih benci sama aku?"
Elara terdiam cukup lama.
"Aku nggak benci."
"Lalu?"
"Aku cuma belum bisa lupa."
Kalimat itu membuat Lucas mengembuskan napas pelan.
Sebelum ia sempat berkata apa pun, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Seorang mahasiswa menghampiri mereka dengan wajah panik.
"Elara!"
"Kamu dicari dosen."
"Kenapa?"
"Ada seseorang datang ke kampus."
"Katanya..."
"...dia keluarga kamu."
Elara langsung membeku.
"Siapa?"
Mahasiswa itu menggeleng.
"Aku nggak tahu."
"Tapi dia bilang namanya..."
"...Ethan Morrison."
Jantung Elara seakan berhenti berdetak. Sementara di dalam ruang diskusi, Kael yang mendengar nama itu spontan berdiri. Babak baru dalam hidup mereka akhirnya benar-benar dimulai.
Nama itu masih terngiang di kepala semua orang.
Ethan Morrison.
Elara berdiri mematung. Jemarinya perlahan mengepal, sementara napasnya terdengar semakin berat. Kemudian Claire langsung meraih tangannya.
"Elara..."
"Kamu nggak apa-apa?"
Elara berusaha tersenyum, tetapi senyum itu gagal muncul.
"Aku..."
"...aku nggak nyangka dia bakal datang."
Kael melangkah mendekat.
"Kalau kamu nggak siap, aku bisa ngomong sama dosennya."
Elara menggeleng.
"Nggak. Masalah ini harus aku hadapi."
Lucas yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Aku ikut."
Elara menoleh.
"Nggak usah."
"Aku tetap ikut."
Tatapan mereka saling bertemu. Tidak ada amarah. Hanya rasa bersalah yang masih menggantung di antara keduanya.
Mereka berjalan menuju ruang tamu fakultas. Setiap langkah terasa semakin berat. Sesampainya di depan pintu, seorang staf administrasi menghampiri.
"Nona Elara?"
"Iya."
"Orang yang mencari Anda sedang ada di dalam. Silahkan masuk."
Elara menarik napas panjang. Perlahan ia membuka pintu.
Ruangan itu tidak terlalu besar. Sebuah sofa panjang berada di tengah, ditemani meja kayu dengan beberapa majalah kampus. Di dekat jendela berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi mengenakan kemeja hitam dan celana bahan berwarna abu-abu. Rambutnya tertata rapi. Wajahnya terlihat lebih dewasa dibanding foto yang beredar di forum. Namun sorot matanya masih sama. Tatapan yang pernah begitu akrab bagi Elara.
Laki-laki itu menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik... tidak ada satu pun yang berbicara.
"Ethan..." suara Elara terdengar sangat pelan.
Laki-laki itu tersenyum tipis.
"Hi, Ella."
Kael langsung menangkap satu hal.