Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #6

Kebenaran yang Tersembunyi

CHAPTER 6

"Kebohongan mungkin mampu bertahan selama bertahun-tahun. Namun ketika kebenaran memilih untuk muncul, tidak ada seorang pun yang benar-benar siap menerimanya."

Malam terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Hujan turun perlahan di luar jendela kamar kos Kael. Tetesannya membentuk irama yang seharusnya menenangkan, tetapi malam itu justru membuat pikirannya semakin gaduh.

Di atas meja belajar...

Amplop cokelat pemberian Ethan masih tergeletak utuh. Belum dibuka dan belum disentuh. Kemudian Kael mengembuskan napas panjang.

Ucapan Elara sore tadi terus terngiang di kepalanya.

"Jangan buka amplop itu malam ini."

Ia meraih amplop tersebut. Jemarinya berhenti tepat di ujung perekat.

"Maaf..." gumamnya pelan.

"...tapi aku harus tahu."

Perlahan amplop itu terbuka. Di dalamnya hanya ada tiga benda. Sebuah flashdisk hitam, satu foto lama, dan sebuah surat yang ditulis dengan tangan.

Kael mengambil foto itu lebih dulu. Napasnya langsung tertahan. Foto itu memperlihatkan empat orang yang sedang tersenyum di depan sebuah gedung kampus. Elara, Lucas, Celeste, dan Ethan. Namun ada satu orang lagi yang berdiri di samping Elara. Seorang laki-laki berkacamata dengan senyum lebar.

Di bagian belakang foto tertulis dengan tinta biru.

"Project Horizon — Tim Terbaik 2022."

Di bawahnya terdapat lima tanda tangan. Kemudian nama terakhir membuat Kael mengernyit.

Nathan Arvelle.

"Bukan Ethan..."

Kael bergumam pelan.

"Terus siapa Nathan?"

Ia segera membuka surat itu. Tulisan tangan Ethan terlihat rapi.

"Kael,

Kalau kamu sedang membaca surat ini, berarti aku sudah tidak punya cara lain. Aku tahu kamu mulai dekat dengan Elara. Aku juga tahu kamu mungkin membenciku karena semua yang beredar di kampus. Tapi percayalah... Aku bukan orang yang menghancurkan hidup Elara. Orang yang sebenarnya bertanggung jawab bernama Nathan Arvelle.

Dia adalah ketua organisasi kami dulu. Dan malam ketika semuanya berubah. Aku gagal menghentikannya. Aku terlambat. Kalau kamu ingin tahu semuanya, buka isi flashdisk itu. Tapi hati-hati. Karena setelah kamu mengetahui kebenarannya...Kamu juga akan menjadi target."

— Ethan Morrison

Kael menatap surat itu cukup lama. Jantungnya berdetak semakin cepat. Tanpa membuang waktu, ia memasukkan flashdisk ke laptop. Layar monitor menyala. Hanya ada satu folder.

HORIZON_ARCHIVE

Kael mengkliknya. Puluhan file muncul. Foto, video, dan dokumen.

Ia membuka video pertama. Rekaman itu berasal dari kamera CCTV sebuah gedung organisasi. Tanggalnya...

17 November 2022.

Video memperlihatkan Elara sedang berlari keluar ruangan sambil menangis.

Beberapa detik kemudian...

Seorang laki-laki mengejarnya. Wajahnya terlihat jelas.

Nathan Arvelle.

"Jangan tinggalin aku!" teriak Nathan.

Elara terus berlari. Lalu Ethan muncul dari arah berlawanan dan langsung mendorong Nathan hingga terjatuh. Video berhenti tepat di sana. Kemudian Kael memutar ulang. Lagi. Dan lagi. Semua yang selama ini ia dengar mulai terasa tidak masuk akal.

Kalau Ethan benar-benar pelaku...

Kenapa justru dia yang melindungi Elara?

Pukul sebelas malam. Ponsel Kael tiba-tiba bergetar. Nama Elara muncul di layar.

"Hallo?" suara di seberang terdengar bergetar.

"Kael..."

"Kamu udah buka amplopnya?"

Kael terdiam.

"...iya."

Beberapa detik tidak ada jawaban.

"Aku minta maaf."

"Kenapa minta maaf?"

"Karena aku bohong."

Kael memejamkan mata.

"Bohong soal apa?"

"Ethan."

"Bukan dia orang yang paling aku takuti."

"Lalu siapa?"

Elara menangis pelan.

"Nama yang ada di surat itu."

"Nathan."

Ruangan mendadak terasa sesak.

Kael menggenggam ponselnya lebih erat.

"Elara."

"Aku capek. Aku capek lari. Aku capek pura-pura kuat."

Kael tidak memotong. Ia membiarkan Elara meluapkan semuanya.

"Aku pikir..."

"...kalau aku pindah kampus..."

Lihat selengkapnya