Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #7

Malam Tanpa Jalan Pulang

CHAPTER 7

"Keberanian bukan tentang siapa yang paling kuat. Keberanian adalah tetap melangkah, bahkan ketika kamu tahu bisa saja tidak kembali."

Jarum jam menunjukkan pukul 21.07 BST.

Hujan baru saja turun ketika Kael menatap layar laptopnya di kamar kos. Namun malam itu, tidak ada satu pun tugas kuliah yang berhasil ia kerjakan. Pikirannya terus kembali pada surat Ethan, rekaman CCTV, dan wajah Elara yang tampak begitu rapuh sore tadi.

Di meja belajar, secangkir kopi yang dibuat satu jam lalu sudah kehilangan uapnya. Tidak lama kemudian ponselnya bergetar. Dan nama Elara muncul di layar ponselnya. Kemudian Kael langsung mengangkatnya.

"Halo Elara?"

"Kael..." suara Elara terdengar pelan.

"Kamu lagi sibuk gak Kael?"

"Nggak. Ada apa?"

"Eummm... nggak ada apa-apa... aku cuma..."

"...nggak bisa tidur."

Kael tersenyum kecil.

"Kamu masih kepikiran terus ya?"

"Iya...."

"...aku takut besok semuanya makin kacau."

Kael bersandar di kursinya.

"Elara dengerin aku ya."

"Hm?"

"Besok boleh keadaan jadi kacau...."

"Lusa juga boleh...."

"Tapi ada satu hal yang nggak boleh berubah."

"Apa?"

"Aku bakal selalu ada buat kamu dan aku juga bakal tetap di pihak kamu terus."

Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu terdengar tawa kecil dari seberang telepon.

"Kamu tahu nggak?"

"Apa?"

"Kamu selalu punya cara buat bikin aku sedikit lebih tenang."

Kael tersenyum.

"Itu karena aku nggak mau lihat kamu nangis lagi."

Suasana kembali hening. Namun kali ini bukan keheningan yang canggung. Melainkan keheningan yang nyaman.

"Kael..."

"Hm?"

"Kalau suatu saat nanti ternyata semua yang kamu tahu tentang aku... terus aku yang salah dari semua masalah ini..."

"...apa kamu bakal pergi?"

Kael mengembuskan napas pelan.

"Aku bakal pergi."

Elara langsung terdiam.

"Tapi..." Kael melanjutkan "...perginya buat nyari siapa pun yang udah bikin kamu hidup dalam ketakutan."

Air mata Elara jatuh tanpa suara.

"Thank you..."

"Kamu terlalu cepat buat bilang makasih."

"Kenapa?"

"Karena perjuangan kita baru mulai."

Mereka sama-sama tertawa pelan. Tak lama kemudian panggilan berakhir. Tidak ada yang menyadari...

Seseorang sedang memperhatikan Elara dari dalam mobil yang terparkir di seberang apartemennya. Pria itu mengenakan topi hitam dan masker. Di tangannya terdapat kamera dengan lensa yang cukup panjang.

Klik... Klik... Klik...

Setiap gerakan Elara dipotret tanpa henti. Tidak lama kemudian pria itu langsung mengambil ponsel.

"Target terpantau masih ada di apartemen."

Pesan itu langsung terkirim.

Beberapa detik kemudian balasan masuk.

"Langsung laksanakan aja tahap kedua. Jangan sakiti target utama. Kita hanya butuh umpan."

Pria itu tersenyum tipis.

"Roger."

. . .

Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Saat itu Elara sedang membuat secangkir teh hangat. Pikirannya sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan Kael. Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa menit.

Untuk beberapa saat kemudian.

Ting...

Bel apartemen berbunyi. Dan Elara pun mengernyit.

Siapa yang datang?

Ia mengintip melalui lubang pintu. Tidak ada siapa pun.

Dengan hati-hati pintu dibuka. Di depan pintu hanya terdapat sebuah kotak kecil berwarna putih. Di atasnya tertulis namanya.

Untuk Elara.

Perlahan ia membuka kotak itu. Wajahnya langsung pucat. Di dalam kotak terdapat gelang rajut berwarna biru. Persis seperti gelang yang pernah ia buat untuk seseorang tiga tahun lalu. Dan di bawah gelang itu terdapat secarik kertas.

"Kamu gagal melupakan masa lalu. Sekarang waktunya masa lalu menjemputmu."

Belum sempat Elara bereaksi... Lampu lorong apartemen tiba-tiba padam. Suasana tiba-tiba mendadak jadi gelap dan suara langkah kaki terdengar mendekat.

Tok... Tok... Tok...

"Siapa?"

Elara mundur perlahan. Tidak ada jawaban. Hanya suara napas seseorang dari balik pintu. Kemudian ponselnya bergetar. Dan ada pesan terbaru dari nomor tak dikenal.

"Jangan berteriak."

"Kalau tidak, orang pertama yang akan terluka adalah Kael."

Tangan Elara mulai gemetar. Tanpa sadar... Air matanya kembali jatuh.

Malam yang seharusnya biasa saja, tiba-tiba mendadak berubah menjadi awal dari mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.

Hujan turun semakin deras. Dan malam itu ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap langkahnya sedang diawasi.

. . .

Kemudian jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.11 BST. Kael baru saja selesai mandi ketika Alexander menelepon.

"Bro."

"Gue ada firasat nggak enak."

Kael tertawa kecil.

"Perasaan lo emang dari dulu negatif."

"Gue lagi serius bro. Soalnya Claire nemuin sesuatu."

Kael langsung duduk.

"Apa?"

"Nomor anonim yang ngirim ancaman ke Elara sempat aktif selama tiga menit yang lalu."

"Lalu?"

"Sinyalnya muncul..."

Alexander menarik napas.

"...di sekitar apartemen Elara."

Senyum Kael langsung menghilang.

"Lo yakin?"

"Yakin seratus persen. Soalnya ini gue sama Claire lagi ke sana."

"Jangan dulu."

"Kenapa?"

"Kalau memang ada yang ngawasin..."

"...kita jangan bergerak sembarangan."

"Oke."

"Tapi hati-hati."

"Lo juga."

Panggilan pun berakhir.

Beberapa saat kemudian...

Sebelum Kael berangkat, terdengar suara ketukan pintu.

Tok... Tok... Tok...

"Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Kael membuka pintu perlahan. Tidak ada siapa pun. Hanya sebuah kotak kecil berwarna hitam. Di atasnya tertempel secarik kertas.

"Berhenti mencari Nathan kalau kamu masih ingin Elara tetap hidup."

Wajah Kael langsung berubah. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya hanya ada satu benda. Sebuah gelang rajut berwarna biru.

Lihat selengkapnya