CHAPTER 8
"Musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang membencimu, melainkan orang yang selama ini tersenyum di dekatmu."
Dua hari setelah insiden di Gedung Horizon, kampus kembali dipenuhi aktivitas. Namun tidak bagi Team Alpha. Mereka duduk mengelilingi meja ruang Innovation Hub dengan wajah lelah. Tidak lama kemudian Alexander melemparkan beberapa lembar hasil cetakan ke atas meja.
"Ada kabar buruk."
Claire langsung mengambil salah satunya.
"Forum anonim berhenti upload."
Kael mengernyit.
"Itu justru kabar baik gak sih?"
Claire menggeleng.
"Nggak."
"Kalau mereka diam..."
"...berarti mereka lagi nyiapin sesuatu yang lebih besar."
Ruangan kembali sunyi. Kemudian Ethan membuka laptopnya.
"Gue berhasil melacak simbol burung gagak."
"Ketemu gak?"
"Tiga tahun lalu, simbol itu dipakai kelompok kecil di organisasi Horizon."
"Ketua kelompoknya Nathan."
"Tapi..."
Ethan berhenti.
"Ada satu nama lagi."
"Siapa?"
Ethan memutar layar laptop ke arah mereka. Nama itu membuat semua orang terdiam.
Darren Volkov.
Kemudian Alexander mengernyit.
"Gue nggak pernah dengar nama itu."
Ethan mengangguk.
"Karena dia keluar dari kampus sebelum kasus itu terjadi."
"Dan sejak itu..."
"...dia menghilang."
Sore harinya...
Kael mengantar Elara ke perpustakaan.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, wajah Elara terlihat sedikit lebih tenang.
"Kamu capek?" tanya Kael.
"Banget."
"Kalau gitu hari ini nggak usah mikirin penyelidikan."
"Kamu aja yang mikirin?"
Kael tertawa.
"Boleh. Tapi bayarnya kopi ya."
Elara tersenyum.
"Deal."
Saat mereka hendak masuk ke perpustakaan... Seorang kurir menghampiri.
"Permisi."
"Atas nama Elara Vivienne Laurent?"
"Iya."
"Ini ada paket."
Elara mengernyit.
"Aku nggak pesan apa-apa."
Kurir hanya mengangkat bahu.
"Saya cuma diminta mengantar."
Setelah kurir pergi, Kael memperhatikan kotak hitam itu.
"Jangan dibuka di sini."
Mereka membawa paket itu ke ruang diskusi. Semua anggota Team Alpha berkumpul. Kemudian Claire membuka kotak itu perlahan. Tidak ada bom, tidak ada senjata. Hanya sebuah flashdisk dan secarik kertas.
"Kalau ingin tahu siapa pengkhianat di antara kalian, putar video ini."
Ruangan mendadak hening. Kemudian Alexander menelan ludah.
"Ini mulai nggak lucu."
Kael memasukkan flashdisk ke laptop. Video mulai diputar.
Awalnya hanya rekaman lorong kampus. Lalu muncul seseorang yang mengenakan hoodie hitam. Ia sedang menyerahkan sebuah map kepada pria bertopeng.
Wajah orang itu tidak terlihat. Namun ketika kamera memperbesar gambar... terlihat jelas jam tangan perak yang sangat khas.
Claire langsung berdiri.
"Itu..."
Wajah Alexander tiba-tiba mendadak berubah.
"Jam tangan itu..."
Lucas spontan melihat pergelangan tangannya sendiri.
Kosong.
Jam tangannya memang hilang sejak malam di Gedung Horizon.
Kael menatap Lucas.
"Jam itu punya lo?"
Lucas mengangguk pelan.
"Tapi..."
"...udah hilang."
Suasana langsung berubah tegang.
Lucas maju selangkah.
"Lo jangan bilang..."
Lucas memotong.
"Gue nggak pernah ngelakuin itu."
"Lalu kenapa jam lo ada di video?"
"Gue juga nggak tahu."
Kael masih diam. Karena Ia tahu video bisa saja dimanipulasi. Tetapi bukti itu terlalu kuat untuk diabaikan. Kemudian Elara berdiri di depan Adrian.
"Aku percaya dia."
Claire menoleh.
"Elara..."
"Aku kenal Lucas.... Dia mungkin pernah bikin salah. Tapi dia bukan orang seperti itu."
Belum sempat perdebatan berlanjut...