CHAPTER 9
"Tidak semua orang yang berjalan bersamamu benar-benar berada di pihakmu. Kadang, pengkhianatan datang dari langkah yang paling dekat."
Jam dinding di ruang Innovation Hub menunjukkan pukul 08.15 BST. Suasana kampus terlihat normal. Mahasiswa berlalu-lalang seperti biasanya. Tawa terdengar dari kantin. Musik akustik mengalun pelan dari taman fakultas. Namun bagi Team Alpha, pagi itu terasa berbeda.
Kael berdiri di depan jendela sambil memandangi halaman kampus. Tangannya masih memegang ponsel berisi pesan anonim semalam.
"Datang sendiri ke Auditorium Lama. 19.00."
Alexander menghampirinya sambil membawa dua gelas kopi.
"Bro."
Kael menoleh.
"Nih. Kopi buat lo satu"
Alexander menyerahkan satu gelas.
"Lo kelihatan banget belum tidur dari semalem."
Kael menerima kopi itu.
"Thanks."
"Gue kepikiran terus."
"Soal pesan itu?"
Kael mengangguk.
"Alexander menur lo..."
"Kalau ternyata ada pengkhianat di antara kita..."
"...lo bakal gimana?"
Alexander tersenyum tipis.
"Gue bakal pukul dulu."
"Habis itu lo apain?"
"Baru gue dengerin penjelasannya."
Kael tertawa kecil.
"Masih sempat bercanda ternyata."
"Kalau panik terus..."
"...kita bakal kalah sebelum mulai."
Beberapa menit kemudian... Elara melangkah memasuki halaman kampus dengan cardigan rajut warna krem yang menutupi kaus putih polosnya. Straight jeans biru muda dipadukan dengan sneakers putih yang mulai meninggalkan jejak pemakaian, sementara tote bag kanvas tergantung di bahu kirinya. Rambut hitamnya diikat rendah dengan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah. Penampilannya sederhana, tetapi justru kesederhanaan itulah yang selalu berhasil menarik perhatian Kael.
Kael memperhatikannya beberapa detik. Tidak lama kemudian Elara tersenyum.
"Kenapa kamu liat aku kayak begitu?"
"Nggak..."
"Kamu keliatan cantik banget hari ini."
Elara langsung memalingkan wajah.
"You really know how to make me blush."
"Karena itu fakta."
Claire yang baru masuk langsung berdeham.
"Ehem... Can you guys stop flirting for five minutes?"
Alexander tertawa keras.
"Kasihan kami yang masih single."
"Excuse me."
Balas Claire.
"Aku single by choice."
Alexander menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau gue?"
Claire mengangkat bahu.
"Single by destiny."
Ruangan langsung dipenuhi tawa.
Untuk beberapa menit... Mereka berhasil melupakan semua ancaman.
Siang hari. Setelah kelas selesai, Kael mengajak Elara berjalan ke taman belakang kampus. Angin berembus pelan. Daun-daun berguguran di sepanjang jalan setapak.
"Kamu mau tahu satu hal enggak?" ucap Kael.
"Apa tuh?" jawab Elara pelan sambil bertanya.
"Sejak kenal kamu..."
"Hidup aku jadi jauh lebih ribet."
Elara memukul pelan lengan Kael.
"Excuse me?"
"Tapi..."
Kael berhenti melangkah.
"...aku nggak pernah nyesel."
Elara menatap matanya.
"Kenapa?"
"Karena setiap kali lihat kamu senyum..."
"...semua masalah rasanya worth it."
Elara tersenyum kecil.
"You are so cheesy."
"I know."
"But it works."
Mereka tertawa bersamaan.
Kael mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk kompas.
"Buat aku?" tanya Elara.
Kael mengangguk.
"Bukan, buat orang lain."
"Maksudnya?
"Ya orang lain.... buat orang yang lagi sama aku ini..."
"So you never feel lost again."
Mata Elara mulai berkaca-kaca.
"Kael..."
"Whenever you're confused..."
"...remember one thing."
"What?"
"You don't have to face everything alone."
Tidak lama kemudian Elara menggenggam gantungan kunci itu erat. Kemudian perlahan ia mendekat.
"Thank you..."
Tanpa berpikir panjang... Elara memeluk Kael. Pelukan itu sederhana. Namun cukup untuk membuat dunia terasa berhenti sejenak. Kemudian Kael membalas pelukan tersebut dengan lembut.
"I'll protect you. No matter what happens."
Elara mengangguk pelan.
"And I'll trust you."
"Always..."
Namun...
Dari balik pepohonan itu terlihat lensa kamera kembali mengarah kepada mereka.
Klik... Klik... Klik...
Seseorang mengambil puluhan foto tanpa mereka sadari.
. . .
Tak terasa waktu cepat berlalu. Hari demi hari, menit demi menit, detik demi detik, hingga pada akhirnya jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.42 BST. Langit sudah terlihat mulai gelap. Tetapi Kael masih berdiri di depan Auditorium Lama. Gedung itu tampak sepi. Kemudian Ia teringat pesan anonim.
"Datang sendiri."
Kael menarik napas panjang.
"Okay..."
"Let's end this."
Ia melangkah masuk. Tiba-tiba lampu aula berkedip pelan dengan sendiri. Kursi-kursi tua berjajar rapi. Di atas panggung terlihat seorang pria berdiri membelakangi pintu. Mengenakan jas hitam. Tubuhnya tinggi. Kedua tangannya berada di dalam saku.
"Akhirnya setelah sekian lama gue nunggu. Lo datang juga di depan mata gue."
Suara itu terdengar tenang. Kemudian Kael mengepalkan tangan.
"Siapa lo?"
Pria itu perlahan berbalik. Wajahnya masih tertutup bayangan. Namun senyumnya terlihat jelas.
"Aku cuma seseorang..."
"...yang tahu semua rahasia Elara."
Belum sempat Kael melangkah lebih dekat... Lampu auditorium tiba-tiba padam.
Gelap.