Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #10

The Countdown Protocol

CHAPTER 10

"Ada permainan yang dimenangkan dengan kekuatan. Ada pula permainan yang dimenangkan dengan membuat lawan meragukan dirinya sendiri."

Jam digital di sudut layar terus bergerak.

23:59:55... 23:59:54... 23:59:53... 23:59:52... 23:59:51... 23:59:50...

Tak seorang pun bersuara.

Suara pendingin ruangan menjadi satu-satunya yang terdengar di Innovation Hub. Kemudian terdengar suara Claire sedang menarik napas panjang, lalu jemarinya mulai menari di atas keyboard.

"Jangan ada yang sentuh jaringan Wi-Fi."

Alexander mengernyit.

"Kenapa?"

"Kalau dia memang masih ada di sistem..."

"...setiap perangkat yang terkoneksi bisa jadi pintu masuk."

Ethan langsung mencabut kabel LAN dari laptopnya. Sementara itu Lucas mematikan hotspot ponselnya. Namun... hitungan mundur itu terus tetap berjalan.

23:59:37... 23:59:36... 23:59:35... 23:59:34... 23:59:33... 23:59:32... 23:59:31... 23:59:30...

Claire membeku.

"...Impossible."

Kael berjalan mendekat.

"Masih terkoneksi?"

Claire menggeleng perlahan.

"Nggak. Semua koneksi udah aku putus."

"Lalu kenapa masih jalan?"

Claire menatap layar dengan wajah semakin serius.

"Karena..."

"...program ini nggak berjalan dari internet."

Semua langsung menoleh.

"Maksud kamu?"

Claire menelan ludah.

"Seseorang sudah menanamnya sejak lama."

Ruangan kembali sunyi. Kemudian Kael menatap daftar nama di layar.

Nathan, Darren, Leonard, Vincent, dan Dirinya sendiri. Di layar itu terlihat ada lima nama. Namun...Claire tiba-tiba memperbesar ukuran file dan ia melihat sesuatu yang terlihat sangat aneh.

"Guys..."

"Kayaknya ada sesuatu."

Ia menekan kombinasi tombol. Lalu baris kosong di bawah daftar nama perlahan berubah. Seolah ada tinta yang baru saja muncul. Kemudian secara tiba-tiba nama keenam akhirnya terlihat.

Elara Vivienne Laurent

Semua membeku.

Elara perlahan mundur satu langkah.

"Aku..."

"...kenapa namaku ada di situ?"

Alexander langsung berdiri.

"Nggak mungkin."

Lucas menggeleng.

"Ini bukan kebetulan."

Kael tetap diam. Tatapannya berpindah dari layar tiba-tiba menjadi ke arah Elara.

Elara bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang bukan penuh kebencian. Tetapi kebingungan yang Ia rasakan. Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Tidak lama kemudian Kael memecah keheningan.

"Elara."

Perempuan itu mengangkat wajah.

"Aku mau tanya satu hal ke kamu."

Elara mengangguk pelan.

"Kamu pernah kenal Nathan?"

Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Elara. Dan disaat itu, lama sekali ia tidak menjawab. Hingga akhirnya...

"Iya." jawaban singkat itu membuat ruangan terasa semakin dingin.

Alexander spontan berdiri.

"Kok kamu nggak pernah bilang?"

Elara menutup mata beberapa detik.

"Karena..."

"...aku pengen ngelupain semuanya."

Claire mendekat.

"Siapa dia sebenarnya?"

Elara menggenggam erat gantungan kompas pemberian Kael.

"Nathan itu..."

"...mantan ketua organisasi riset kampus lama aku."

Semua mendengarkan.

"Dulu aku pernah ikut proyek penelitian AI. Dan secara kebetulan disitu ada Nathan juga..."

"Awalnya.... semuanya normal seperti biasa... kehidupan terus berjalan tanpa ada rasa apapun."

"Sampai suatu hari..."

"...Nathan mulai berubah."

Ia menarik napas dalam.

"Dia jadi posesif."

"Ngatur hidup aku."

"Bahkan..."

"...dia pernah maksa aku buat ikut proyek ilegal."

Kael mengepalkan tangan.

"Aku nolak."

"Terus besoknya..."

"...semua data penelitian atas nama aku hilang."

Lihat selengkapnya