CHAPTER 12
"Tidak semua orang yang dinyatakan hilang benar-benar lenyap. Ada yang sengaja disembunyikan, menunggu seseorang cukup berani untuk menemukan kebenaran."
Sore itu, pukul 16:20 BST, London sedang menikmati cahaya keemasan yang hanya bertahan beberapa saat sebelum matahari tenggelam. Di sudut kota yang jauh dari keramaian, Science & Technology Museum berdiri dalam kesunyian, menyembunyikan rahasia yang telah terkubur selama bertahun-tahun. Museum itu tampak seperti bangunan yang telah lama ditinggalkan. Plakat besi di gerbang depannya masih terbaca jelas.
SCIENCE & TECHNOLOGY MUSEUM
Di bawahnya tergantung papan kecil yang mulai berkarat.
Closed for Renovation
Alexander menatap sekeliling.
"Renovasi?"
Ia mendengus pelan.
"Gue rasa terakhir direnovasi waktu zaman dinosaurus masih hidup."
Claire terkekeh kecil.
"Masih sempat bercanda hadeuh..."
Alexander mengangkat bahu.
"Kalau gue nggak bercanda, nanti malah tegang sendiri."
Kael tidak ikut menanggapi. Karena tatapannya terpaku pada bangunan itu.
Di dalam saku jaketnya, kunci perak peninggalan Kai terasa lebih berat dari biasanya. Kemudian Elara berdiri di sampingnya.
"Kamu yakin... ini tempatnya Kael?"
Kael mengangguk pelan.
"Iya soalnya alamatnya sama."
Lucas memperhatikan bangunan itu dengan saksama.
"Aneh."
Ethan menoleh.
"Apa?"
"Kalau museum ini benar-benar ditutup..."
"...kenapa CCTV-nya masih aktif?"
Perhatian mereka semua langsung tertuju ke atas. Di setiap sudut atap, kamera pengawas masih bergerak perlahan mengikuti area di depannya. Dan Claire ikut menyadarinya.
"Kayaknya itu kamera model baru deh, jadi bukan yang dipasang enam tahun lalu begitu."
Alexander mengerutkan dahi.
"Artinya..."
"...masih ada yang merawat tempat ini."
Belum sempat mereka berdiskusi lebih jauh...
Suara klakson pendek terdengar dari seberang jalan. Sebuah mobil van putih berhenti beberapa meter dari gerbang. Seorang pria paruh baya turun sambil membawa kardus. Ia mengenakan seragam teknisi. Topi biru tua menutupi sebagian rambutnya yang mulai memutih. Pria itu sempat melirik ke arah Team Alpha. Tatapan mereka bertemu. Namun hanya beberapa detik. Setelah itu ia kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak lama kemudian Claire berbisik pelan.
"Guys, tau gak sih, kayaknya daritadi ada yang merhatiin kita terus deh..."
Alexander ikut berbisik.
"Ngikutin?"
"Nggak tahu."
"Tapi..."
"...orang itu kayak sengaja menghindari kontak mata dari kita semua gitu..."
Kael memperhatikan pria itu hingga menghilang di balik pintu samping museum.
Dan entah mengapa... Ia merasa pernah melihat wajah itu.
Namun Kael mengurungkan niatnya untuk mengejar pria itu. Karena kalau memang orang tersebut menyembunyikan sesuatu, mereka pasti akan bertemu lagi. Untuk sekarang, ada tujuan yang jauh lebih penting.
Ia melangkah mendekati gerbang utama museum. Semakin dekat, semakin jelas terlihat usia bangunan itu. Cat hitam pada pagar besi mulai mengelupas, meninggalkan bercak-bercak karat di berbagai sisi. Sebuah rantai besar melingkar rapat pada kedua daun gerbang, seolah memastikan tidak ada seorang pun yang bisa masuk tanpa izin. Kemudian Alexander mendekat sambil mengamati gembok tua yang menggantung di tengah rantai.
"Kalau lihat ini..."
"...kayaknya udah bertahun-tahun nggak pernah dibuka."
Gerbang utama itu terlihat masih terkunci rapat. Rantai besinya pun sudah dipenuhi karat. Tidak lama kemudian Lucas mencoba menggoyangkannya. Tidak bergerak sedikit pun.
"Ethan."
"Coba kamu lihat sisi kanan."
"Oke."
Sementara yang lain berpencar sambil mencari jalan masuk. Dalam beberapa menit berlalu.
"Tidak ada."
"Di sini juga kosong."
Kael masih berdiri di depan gerbang. Tatapannya turun ke arah lubang kunci. Perlahan ia mengeluarkan kunci perak milik Kai.
Alexander langsung menoleh.
"Serius bisa dibuka?"
Kael tidak menjawab. Tidak lama kemudian Ia memasukkan kunci itu.
Klik...
Suara mekanisme logam terdengar pelan.
Lalu...
Rantai besi yang terlihat terkunci rapat perlahan mengendur sendiri. Kemudian Claire menatap benda itu tanpa berkedip. Wajahnya perlahan berubah, seolah baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada.
"No way..."
Lucas langsung mendekat.
"Kunci ini..."
"...memang dibuat untuk gerbang ini."
Kael menarik napas panjang.
"Itu berarti..."
"...Kai pernah ke sini."
. . .
Pintu utama berderit pelan ketika didorong. Udara dingin langsung menyambut mereka. Aroma kayu tua bercampur logam memenuhi ruangan. Sinar matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, membentuk garis-garis cahaya yang menerangi debu yang beterbangan di udara.
Di sisi kanan berdiri replika mesin uap berukuran besar. Di sisi kiri terdapat pesawat eksperimental yang sebagian sayapnya telah dilepas. Semuanya tampak tua. Namun tidak berdebu.
Tidak lama kemudian Claire langsung jongkok.
"Guys..."
"Coba lihat lantai ini deh...."
Alexander ikut melihat.
"Kenapa?"
"Nggak ada debunya."
Lucas memahami maksud Claire.
"Berarti..."
"...tempat ini masih sering dilewati orang."
Ethan menunjuk bekas jejak sepatu di lantai.
"Dan bukan cuma satu orang."
Ada beberapa ukuran jejak berbeda. Sebagian masih terlihat baru.
Kael perlahan mengepalkan tangan.
"Kita nggak sendirian."
Di tengah aula utama berdiri papan direktori museum. Sebagian besar petunjuk ruangan masih terbaca.
Galeri Astronomi.
Galeri Robotika.
Galeri Energi.
Namun...
Satu bagian sengaja dicabut. Dan bekas bautnya masih terlihat.
Claire mengangkat alis.
"Seseorang sengaja melepas denahnya."
Lucas memperhatikan sisi papan.
"Kalau cuma ditutup..."
"...kenapa harus dicabut?"
Kael menelusuri bekas goresan di kayu. Lalu matanya berhenti pada sebuah simbol kecil yang diukir di sudut bawah.
Simbol itu...
Persis seperti lambang yang terdapat di amplop misterius.
Lingkaran dengan satu garis vertikal di tengahnya.
Elara ikut mendekat.
"Simbol itu lagi."
Kael mengusap ukiran tersebut menggunakan ibu jarinya. Kemudian terdengar bunyi halus.
Klik.
Seluruh papan direktori bergeser sekitar lima sentimeter.
Alexander spontan mundur.
"Lho?"
Claire langsung tersenyum.
"Secret mechanism."
Mereka mendorong papan itu bersama-sama.
Perlahan...
Bagian belakangnya terbuka.
Di sana tersembunyi sebuah lorong sempit yang terlihat gelap. Tangga besi menurun ke bawah tanah. Tidak ada papan petunjuk. Tidak ada lampu. Hanya udara dingin yang berembus dari dalam.
Alexander menelan ludah.
"Gue mulai nggak suka sama tempat ini."
Ethan menyalakan senter ponselnya.
"Cuma ada satu cara buat tahu."
Kael melangkah lebih dulu.
"Ayo."
Suara langkah kaki mereka bergema pelan di sepanjang tangga besi. Semakin ke bawah... Udara terasa semakin dingin. Dinding beton di kiri dan kanan dipenuhi pipa-pipa tua. Beberapa lampu darurat masih menyala redup.
Claire memperhatikan instalasi listrik.
"Masih aktif."
Lucas mengangguk.
"Berarti ada sumber listrik."
"Dan kalau ada listrik..."
Alexander menyambung.
"...berarti ada orang."
Tidak ada yang membantah.
Sekitar dua menit kemudian. Tangga itu berakhir. Di hadapan mereka berdiri pintu baja berwarna abu-abu. Di tengah pintu terdapat lubang kunci. Bentuknya sama persis dengan kunci perak milik Kai.
Kael menghela napas pelan.
"Kita sampai."
Ia memasukkan kunci itu. Kemudian semua menahan napas.
Klik.
Lampu hijau kecil di atas pintu menyala. Lalu terdengar suara mekanisme pengunci yang sudah bertahun-tahun tidak dibuka.
Krrrkkk...
Pintu perlahan bergeser ke samping. Ruangan di baliknya mulai terlihat. Namun sebelum mereka sempat melangkah masuk...
Sebuah suara tua terdengar dari dalam. Terdengar tenang, dalam, dan penuh kewaspadaan.
"Kalau kalian berhasil membuka pintu itu..."
"...berarti Kael akhirnya datang."
Team Alpha langsung membeku. Karena ruangan itu ternyata tidak kosong.
Dan seseorang...
Telah menunggu kedatangan mereka selama bertahun-tahun.
. . .
Waktu menunjukkan pukul 16:58 BST ketika Team Alpha akhirnya menginjakkan kaki di ruang arsip bawah tanah. Aroma kertas tua, logam, dan debu yang telah lama mengendap memenuhi udara, menghadirkan kesan bahwa setiap sudut ruangan itu menyimpan potongan sejarah yang sengaja dilupakan. Namun tidak dengan suara tua itu yang bergema pelan di dalam ruangan yang remang-remang.
"Kalau kalian berhasil membuka pintu itu..."
"...berarti Kael akhirnya datang."
Team Alpha saling berpandangan. Kemudian Kael melangkah paling depan. Lampu-lampu di langit-langit menyala satu per satu.
Klik... Klik... Klik...
Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang mereka bayangkan.
Rak-rak besi berjajar rapi memenuhi sisi kanan dan kiri. Ribuan map arsip tersusun berdasarkan tahun. Beberapa komputer lama masih menyala, meski monitornya mulai menguning dimakan usia.
Di ujung ruangan, seorang pria tua duduk di balik meja kayu. Rambutnya telah memutih seluruhnya. Kacamata tipis bertengger di pangkal hidungnya. Meski usianya tampak lebih dari enam puluh tahun, sorot matanya masih tajam. Ia menutup buku yang sedang dibacanya. Lalu perlahan berdiri. Tatapannya berhenti tepat pada Kael.
Untuk beberapa detik...
Tak satu pun dari mereka berbicara. Kemudian pria tua itu tersenyum kecil.
"Ternyata semakin kamu dewasa..."
"...semakin mirip dengan kakakmu ya hahaha."
Jantung Kael berdegup lebih cepat.
"Anda..."
"...kenal sama orang yang namanya Kai?"
Pria itu mengangguk.
"Bukan hanya kenal."
"Aku orang terakhir yang berbicara dengannya."
Ruangan mendadak sunyi.
Alexander spontan maju selangkah.
"Siapa sebenarnya Anda?"
Pria itu menarik napas pelan.
"Namaku..."
"...Professor Theodore Sinclair."
Claire langsung membeku.
"Professor Sinclair?"
"Pendiri Project ORION?"
Pria itu tersenyum tipis.