CHAPTER 13 (bagian 1)
"Tidak semua pintu menyembunyikan jalan keluar. Ada yang justru membawa kita kembali pada masa lalu yang selama ini berusaha kita lupakan. Dan terkadang, di balik kebenaran yang paling dicari, tersembunyi luka yang belum pernah benar-benar sembuh."
Jarum jam di dinding ruang arsip bawah tanah Science & Technology Museum, London, menunjukkan pukul 17.04 BST. Keheningan memenuhi setiap sudut ruangan, seolah bangunan tua itu ikut menyimpan napas setelah rahasia yang baru saja terungkap.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Ruangan arsip bawah tanah yang beberapa menit lalu dipenuhi suara keyboard dan diskusi kini tenggelam dalam keheningan yang terasa menyesakkan. Dengungan pelan dari komputer tua menjadi satu-satunya suara yang terdengar di antara deretan rak besi yang dipenuhi map dan kotak arsip berdebu.
Kael masih berdiri di depan monitor. Tatapannya belum beralih dari layar yang kini hanya menampilkan desktop sederhana. Namun, pikirannya terus mengulang satu kalimat yang baru saja ia dengar dari rekaman itu.
"Jangan cari aku."
Suara itu...
Suara kakaknya.
Ia tidak mungkin salah mengenalinya. Kemudian jemarinya perlahan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Enam tahun.
Selama enam tahun, ia hidup dengan keyakinan bahwa Kai telah tiada. Ia belajar menerima kehilangan, meski tidak pernah benar-benar berdamai dengannya.
Namun kini...
Seseorang telah menghancurkan keyakinan itu hanya dalam hitungan menit.
"Kael..." suara Elara terdengar lirih dari sampingnya.
Perlahan, ia mengangkat tangan dan menggenggam jemari Kael yang masih bergetar. Tidak ada kata-kata panjang. Tidak ada kalimat yang berusaha menghibur. Hanya genggaman hangat yang terasa begitu tulus.
Kael menoleh. Lalu tatapan mereka bertemu. Kemudian Elara mengulas senyum kecil.
"Aku di sini."
Tiga kata sederhana. Namun cukup untuk membuat napas Kael yang semula terasa berat perlahan kembali teratur. Tidak lama kemudian Kael membalas genggaman tangan Elara.
"Terima kasih..." gumamnya pelan.
Di sudut ruangan, Alexander yang sedari tadi memperhatikan keduanya hanya mengembuskan napas pelan.
"Untung ada Elara."
Lucas berdiri di sampingnya sambil melipat kedua tangan.
"Kalau nggak..."
"...aku nggak yakin Kael bakal setenang ini."
Alexander mengangguk pelan. Karena Alexander sudah mengenal Kael lebih lama daripada siapa pun di ruangan itu. Karena di balik sikap tenangnya... Kael adalah orang yang selalu menyimpan semuanya sendirian.
Professor Theodore Sinclair menutup perlahan map tua yang sejak tadi berada di tangannya. Sorot matanya tampak jauh lebih redup dibanding beberapa menit sebelumnya.
Ia berjalan mendekati rak arsip paling belakang. Rak itu berbeda dari yang lain. Warnanya lebih gelap. Dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah laci logam kecil yang hampir tertutup debu.
Professor Sinclair mengusap permukaannya perlahan.
"Sudah bertahun-tahun..."
"...aku berharap tidak perlu membuka laci ini lagi."
Claire mengernyit.
"Memangnya ada apa di dalamnya, Professor?"
Beliau tidak langsung menjawab. Tidak lama kemudian Professor Sinclair mengeluarkan sebuah kunci kecil dari saku rompinya.
Klik.
Kemudian laci itu terbuka perlahan. Di dalamnya hanya terdapat beberapa dokumen tua, sebuah buku catatan kulit berwarna cokelat tua, dan sebuah kotak logam berukuran sedang.
Professor Sinclair mengambil buku catatan itu terlebih dahulu. Sampulnya sudah mulai usang. Sudut-sudutnya tampak mengelupas dimakan usia. Beliau memandang buku itu cukup lama sebelum akhirnya menyerahkannya kepada Kael.
"Ini apa Prof?"
"Catatan penelitian pribadiku."
Kael membukanya perlahan.
Di halaman pertama tertulis dengan tinta hitam yang mulai memudar.
PROJECT ORION
Confidential Research Log
Theodore Sinclair
Alexander langsung mendekat. Tidak lama kemudian Claire ikut berdiri di samping Kael. Semua memperhatikan isi buku itu.
Halaman demi halaman dipenuhi tulisan tangan, diagram, sketsa, dan kode-kode yang tidak mereka pahami. Namun di salah satu halaman... Claire tiba-tiba menghentikan jemarinya.
"Tunggu..."
Ia menunjuk sebuah foto kecil yang ditempel di sudut halaman. Semua spontan mendekat.
Foto itu memperlihatkan lima orang peneliti yang berdiri di depan sebuah gedung laboratorium. Salah satunya adalah Professor Theodore Sinclair yang tampak jauh lebih muda. Namun perhatian mereka bukan tertuju kepadanya. Melainkan kepada seorang pria berkacamata yang berdiri tepat di tengah foto.
Tatapannya tajam. Senyumnya nyaris tak terlihat. Di bawah foto itu tertulis sebuah nama.
Dr. Victor Sterling
Professor Sinclair mengembuskan napas panjang.
"Itulah orang yang memulai semuanya."
Ruangan kembali sunyi. Tidak lama kemudian Kael mengangkat pandangan.
"Dia pendiri ORION?"
Professor Sinclair menggeleng pelan.
"Bukan."
"Awalnya..."
"...ORION bukanlah organisasi."
Semua saling berpandangan.
Beliau melanjutkan.
"Dua puluh tahun lalu..."
"...ORION hanyalah nama sebuah proyek penelitian."
Claire mengernyit.
"Penelitian tentang apa?"
Professor Sinclair memejamkan mata sejenak.
"Meningkatkan kemampuan otak manusia."
"Tidak hanya kecerdasan."
"Tetapi juga..."
"...ingatan."
Kalimat itu membuat Elara tanpa sadar menggenggam tangan Kael sedikit lebih erat. Kemudian Professor Sinclair melanjutkan.
"Kami ingin membantu pasien yang kehilangan memori akibat kecelakaan atau penyakit."
"Itu tujuan awalnya."
"Lalu apa yang berubah?" tanya Lucas.
Professor Sinclair menatap foto Dr. Victor Sterling.
"Keserakahan."
Satu kata itu terdengar begitu berat.
"Victor mulai percaya..."
"...bahwa teknologi yang kami ciptakan tidak hanya bisa mengembalikan ingatan."
Beliau berhenti beberapa saat. Kemudian sorot matanya berubah menjadi dingin.
"Tetapi..."
"...juga bisa menghapusnya."
Tidak ada seorang pun yang menyela. Tidak lama kemudian Claire perlahan menutup mulutnya dengan tangan.
"Mustahil..."
Professor Sinclair tersenyum pahit.
"Aku juga berharap begitu. Tapi kami terlambat menyadarinya."
Sementara itu, di sisi lain ruangan... Alexander memperhatikan Claire yang kembali sibuk membolak-balik dokumen. Sejak mereka tiba di museum, perempuan itu bahkan belum sempat duduk. Matanya terus meneliti setiap halaman. Sesekali mencatat sesuatu di tabletnya.
Tanpa sadar...
Perut Claire berbunyi pelan. Claire langsung menghentikan gerakannya. Ia melirik ke sekeliling. Berharap tidak ada yang mendengar.
Sayangnya...
Alexander mendengarnya.
Ia tersenyum kecil. Diam-diam, ia membuka ranselnya. Masih ada satu batang cokelat yang tadi pagi belum sempat ia makan. Tanpa berkata apa-apa, ia meletakkannya di atas tumpukan dokumen di depan Claire.
Claire menoleh.
"Lho?"
Alexander pura-pura sibuk melihat rak arsip.
"Nggak usah lihat gue."
Claire mengangkat cokelat itu.
"Ini..."
"Buat siapa?"
"Buat orang yang dari tadi kerja terus."
Claire tersenyum tipis.
"Aku nggak lapar lohhh..."
"Tadi perut lo ngomong sebaliknya."
Claire spontan memalingkan wajah.
"Itu..."
"...kamu cuma salah dengar aja."
Alexander terkekeh pelan.
"Iya."
"Anggap aja gue yang salah dengar."
Beberapa detik kemudian...
Claire membuka bungkus cokelat itu. Tanpa sadar, senyum kecil kembali menghiasi wajahnya. Kemudian Lucas yang melihat kejadian itu hanya menyenggol pelan bahu Ethan.
"Gue jadi mulai yakin."
Ethan mengangkat alis.