CHAPTER 13 (Bagian 2)
"Rahasia tidak selalu disembunyikan di tempat yang gelap. Terkadang, ia berada tepat di hadapan kita, menunggu seseorang yang cukup berani untuk mengetuk pintu yang tak pernah disadari keberadaannya."
Jarum jam menunjukkan pukul 17.18 BST ketika Team Alpha meninggalkan ruang arsip bawah tanah Science & Technology Museum. Mereka menyusuri lorong museum yang lengang dengan langkah perlahan. Gema sepatu mereka memantul di sepanjang koridor tua, berpadu dengan cahaya senja yang menembus jendela-jendela tinggi, seolah setiap sudut bangunan itu sedang mengamati perjalanan mereka menuju rahasia berikutnya.
Koridor itu jauh berbeda dibanding area pameran di lantai utama. Dindingnya didominasi bata ekspos berwarna cokelat tua, sementara lampu-lampu kuning yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya redup, membuat bayangan mereka memanjang di atas lantai kayu.
Di sepanjang lorong tergantung foto-foto hitam putih para ilmuwan yang pernah bekerja di museum tersebut dalam waktu puluhan tahun silam. Beberapa bingkai tampak miring. Sebagian lainnya bahkan telah retak dimakan usia.
Professor Sinclair berjalan paling depan. Sesekali ia berhenti, seolah berusaha mengingat kembali setiap sudut tempat yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
"Koridor ini..."
"...dulu selalu ramai."
Beliau tersenyum kecil.
"Para peneliti sering berdebat sampai larut malam."
Alexander menoleh ke kanan dan kiri.
"Sekarang malah kayak lokasi syuting film horor."
Lucas terkekeh pelan.
"Untung nggak ada yang teriak tiba-tiba."
Belum selesai ucapannya... Tidak lama kemudian sebuah suara logam jatuh terdengar dari ujung lorong.
Klang!
Suara itu bergema di sepanjang lorong, membuat seluruh anggota Team Alpha refleks menghentikan langkah. Tatapan mereka serentak mengarah ke depan. Keheningan kembali menyelimuti.
Namun anehnya...
Di ujung lorong, tidak tampak seorang pun. Hanya deretan dinding bata tua dan cahaya temaram yang memanjang hingga ke sudut koridor. Namun, keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara benda logam yang terjatuh. Tidak lama kemudian Kael mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua tetap diam.
"Aku cek sebentar ke ujung lorong itu dulu ya..."
"Gue ikut ya..."
Alexander sudah berdiri di sampingnya sebelum Kael sempat melangkah. Namun Kael menggeleng pelan.
"Nggak. Kita tetap bergerak berpasangan. Jangan ada yang jalan sendirian."
Tatapan mereka saling bertemu sesaat. Alexander memahami maksud Kael, lalu mengangguk kecil.
"Oke."
Tanpa membuang waktu, mereka kembali melanjutkan langkah dengan lebih waspada. Lorong itu berakhir di sebuah pintu kayu tua yang berdiri kokoh di ujung koridor. Sebuah papan logam bertuliskan OBSERVATION ROOM masih menggantung di atasnya, meski huruf-hurufnya mulai memudar dimakan usia. Lapisan cat pada permukaan pintu telah mengelupas di beberapa bagian, sementara gagang kuningannya dipenuhi goresan-goresan halus, seolah pernah berkali-kali dipaksa terbuka oleh seseorang di masa lalu.
Professor Sinclair berhenti tepat di depan pintu itu. Tatapannya tertuju pada gagang pintu yang telah kusam, seakan kenangan lama perlahan kembali memenuhi benaknya.
"Sejak museum direnovasi..."
"...ruangan ini tidak pernah dibuka lagi."
Claire mengangkat kartu hitam yang tadi mereka temukan.
"Tanda silang di peta..."
"...tepat di balik pintu ini."
Professor Sinclair mengangguk pelan.
"Tapi..."
Beliau menyentuh gagang pintu.
"...aku tidak punya kuncinya."
Lucas memperhatikan lubang kunci tua yang terpasang di pintu.
"Hmm..."
Ia berjongkok.
"Lumayan klasik."
Alexander tersenyum.
"Jangan bilang lo mau buka lagi pakai trik film."
Lucas mengangkat bahu.
"Kalau berhasil, traktir gue kopi ya wkwk."
Alexander tertawa kecil.
"Oke, dua gelas ya..."
Lucas mengeluarkan kembali kartu plastik tipis dari dompetnya. Sedangkan Claire hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Kamu ini..."
Beberapa detik berlalu.
Klik.
Pintu terbuka.
Alexander langsung bertepuk tangan pelan.
"Fix..."
"Gue traktir dua gelas kopi, tapi nanti ya wkwk."
Lucas tersenyum puas.
"Okey deal. Aman aja bro hahaha..."
Pintu kayu itu berderit pelan ketika Kael mendorongnya. Di baliknya terbentang sebuah ruang observasi yang jauh lebih luas daripada yang mereka bayangkan. Cahaya senja yang menembus jendela bundar di ujung ruangan menyapu deretan meja laboratorium yang masih tertata rapi. Rak-rak besi di sepanjang dinding dipenuhi tabung-tabung kaca kosong, sementara beberapa komputer generasi lama tetap tertutup kain putih yang telah dipenuhi debu. Di sudut ruangan, sebuah teleskop besar masih menghadap ke langit London, berdiri membisu seolah menjadi saksi terakhir dari rahasia yang pernah hidup di tempat itu.
"Tempat ini...indah sekali." gumam Elara.
Kael menoleh.
"Iya. Tapi sayangnya di tempat ini sepi sekali, tidak ada penghuninya."
Professor Sinclair mengusap perlahan salah satu meja.
"Di sinilah..."
"...semuanya dimulai."
Claire segera memotret kondisi ruangan menggunakan ponselnya.
"Aku izin dokumentasikan dulu ya Prof."
Ethan memperhatikan sebuah papan tulis besar yang masih dipenuhi rumus-rumus fisika.
"Tulisan ini..."
"...masih asli Prof?"
Professor Sinclair mengangguk.
"Iya betul, tidak pernah dihapus."
Kael berjalan perlahan mengelilingi ruang observasi, membiarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang dipenuhi jejak masa lalu. Di dekat salah satu meja laboratorium, sebuah bingkai foto yang tergeletak terbalik tiba-tiba menarik perhatiannya.
Tanpa banyak berpikir, ia berjongkok dan mengangkat bingkai itu. Lapisan debu tipis yang menutupi kacanya membuat wajah-wajah di dalam foto nyaris tak dikenali. Kael mengusap permukaannya perlahan menggunakan lengan jaket, hingga debu itu mulai menghilang sedikit demi sedikit.
Begitu isi foto itu terlihat jelas...
Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Dan disaat itu Kael hanya mampu menatapnya dalam diam.
"Guys..."
Semua menoleh.
"Ada apa?"
Kael menyerahkan foto itu kepada Professor Sinclair.
Foto tersebut memperlihatkan sekelompok peneliti yang sedang berdiri di depan ruang observasi. Professor Theodore Sinclair, Dr. Victor Sterling, dan beberapa ilmuwan lainnya.
Namun...
Di barisan paling belakang berdiri seorang remaja laki-laki berusia sekitar enam belas tahun. Wajahnya belum begitu jelas.
Tetapi...
Claire memperbesar foto menggunakan kamera tabletnya. Tidak lama kemudian semuanya langsung menahan napas.
Remaja itu...
Sangat mirip dengan Kai.
Professor Sinclair menggeleng pelan.
"Tidak..."
"Itu bukan Kai."
Kael mengernyit.
"Lalu siapa?"
Professor Sinclair menatap foto tersebut cukup lama.
"Namanya..."
Belum sempat beliau melanjutkan...
Bip... Bip...
Tablet Claire berbunyi.
Claire langsung melihat layar.
Ekspresinya berubah.
"Kael."
"Hm?"
"Ada perangkat lain yang baru aktif."
"Di mana?"
Claire memperbesar denah museum. Titik merah berkedip pelan. Bukan di luar gedung. Bukan di ruang arsip. Melainkan... Tepat di bawah mereka.
Alexander mengerutkan dahi.
"Bawah?"
Professor Sinclair membeku.
"Itu nggak mungkin."
"Kenapa?"
"Karena..."
Beliau menelan ludah.
"...di bawah ruang observasi tidak ada ruangan."
Claire kembali melihat layar.
"Tapi sinyalnya jelas."