Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #15

Lorong yang Menyimpan Nama-nama

CHAPTER 14

"Tidak semua rahasia disembunyikan untuk selamanya. Sebagian hanya menunggu orang yang tepat untuk menemukannya."

Debu-debu halus masih beterbangan di udara ketika dinding batu itu bergeser sepenuhnya. Suara roda-roda besi perlahan menghilang, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih menekan dibanding beberapa detik sebelumnya. Lorong sempit yang selama puluhan tahun tersembunyi akhirnya terbentang di hadapan Team Alpha.

Tak seorang pun segera melangkah.

Tatapan mereka seakan tertarik oleh kegelapan di balik celah dinding itu. Udara dingin mengalir pelan dari dalam lorong, membawa aroma besi tua, kayu lembap, dan debu yang telah lama mengendap. Bau itu bukan sekadar pertanda tempat yang telah ditinggalkan, melainkan jejak waktu yang seolah berhenti bergerak.

Kael mengamati lorong itu tanpa berkedip. Entah mengapa, ada perasaan yang sulit ia jelaskan. Bukan takut. Lebih tepatnya... Seperti sedang kembali ke tempat yang belum pernah ia datangi, tetapi terasa begitu akrab.

"Kael..." suara Elara memecah lamunannya.

"Kamu kenapa?"

Kael menggeleng pelan.

"Aku juga nggak tahu."

"Tapi..."

"...tempat ini rasanya aneh."

"Aneh gimana?"

"Kayak..."

Ia terdiam beberapa saat, mencari kata yang tepat.

"...kayak tempat ini udah nunggu kita dari dulu."

Tak ada yang menanggapi. Namun dari sorot mata mereka, semua merasakan hal yang sama. Tidak lama kemudian Professor Sinclair melangkah mendekati mulut lorong. Jemarinya menyentuh dinding batu yang mulai dipenuhi lumut tipis.

"Sulit dipercaya..."

"...selama bertahun-tahun aku bekerja di museum ini."

"...ternyata ada bagian bangunan yang bahkan tidak pernah tercatat."

Lucas menyorotkan senter ke dalam lorong. Cahayanya hanya mampu menembus beberapa meter sebelum ditelan gelap.

"Visibility kurang."

"Ethan."

"Bisa tambah penerangannya lagi?"

Ethan mengangguk.

"On it."

Ia mengeluarkan dua lampu LED portabel dari dalam tas dan meletakkannya di lantai. Cahaya putih yang terpancar membuat sebagian lorong mulai terlihat lebih jelas. Dindingnya dipenuhi pipa-pipa logam tua. Beberapa di antaranya masih tampak utuh. Yang lain telah berkarat hingga berubah warna.

Alexander mengembuskan napas pelan.

"Oke..."

"So this is officially the creepiest place I've ever been."

Claire terkekeh kecil.

"Kamu takut?"

Alexander langsung menggeleng.

"Takut sih nggak."

"Cuma..."

"...kalau tiba-tiba ada yang nyolek dari belakang, gue lari duluan."

"Tega banget."

"Eits."

"Strategi."

"Kalau gue selamat, nanti gue panggil bantuan."

Claire menggeleng sambil tersenyum tipis.

"You're unbelievable."

Suasana yang sempat menegang perlahan mencair. Namun hanya sesaat. Karena ketika Lucas kembali mengarahkan cahaya senternya ke ujung lorong... Ia mendadak berhenti.

"Guys..."

"Nyalain semua senter."

Nada suaranya berubah serius. Semua refleks mengangkat senter masing-masing. Berkas cahaya itu bertemu di satu titik yang sama. Lalu... Tak seorang pun mengucapkan sepatah kata.

Di dinding batu, sekitar lima belas meter dari tempat mereka berdiri... Terpampang puluhan foto identitas yang dipasang berjajar rapi. Sebagian telah menguning dimakan usia. Sebagian lainnya robek di sudut-sudutnya. Namun seluruh foto itu memiliki satu kesamaan.

Di bawah masing-masing foto...

Terdapat sebuah kode.

S-01

S-02

S-03

...

Hingga deretan paling bawah.

Tatapan Kael perlahan berpindah dari satu foto ke foto lainnya. Lalu... Ia berhenti pada satu wajah. Napasnya tertahan.

"Itu..." suara Kael nyaris tak terdengar.

Elara mengikuti arah pandangnya.

Lihat selengkapnya