Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #16

Warisan Sebelum Senja

BAB 15

"Ada perjalanan yang berakhir dengan jawaban. Ada pula yang berakhir dengan kepercayaan. Dan sering kali, kepercayaan itulah yang menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih besar."

Lampu indikator pada kamera pengawas tua itu masih berkedip merah. Kedipannya pelan dan teratur. Namun cukup untuk membuat suasana di lorong rahasia itu kembali dipenuhi kewaspadaan.

Tak seorang pun bergerak.

Tatapan seluruh anggota Team Alpha tertuju pada kamera yang menggantung di sudut langit-langit lorong. Lensa kecilnya mengarah tepat ke posisi mereka, seolah seseorang di balik layar tengah memperhatikan setiap napas yang mereka embuskan.

Kael mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar semua tetap diam.

"Claire."

Claire segera membuka laptop mungil yang selalu dibawanya. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard.

"Sedang coba masuk ke jaringan kameranya."

Beberapa detik berlalu. Barisan kode terus memenuhi layar. Kemudian... Claire mengembuskan napas pelan.

"Damn..."

Alexander mendekat.

"Gimana?"

Claire menggeleng.

"Sistemnya baru saja diputus.... Seseorang sengaja menghapus jejak aksesnya."

Lucas menyilangkan tangan.

"Artinya..."

"...orang yang mengawasi kita sadar kalau kita sudah sampai di sini."

Professor Sinclair menatap lorong gelap yang membentang di depan mereka. Raut wajahnya berubah semakin serius.

"Cukup."

Semua menoleh.

"Untuk hari ini..."

"...kita berhenti sampai di sini aja perjalanannya ya."

Kael masih menatap kamera itu selama beberapa detik. Instingnya mengatakan masih ada sesuatu di balik lorong tersebut. Namun logikanya tahu... Mereka belum siap.

Ia mengangguk pelan.

"Let's go."

Mereka kembali menyusuri lorong sempit yang tadi mereka lewati. Suara langkah kaki menggema pelan, berpadu dengan desau angin yang mengalir dari celah-celah dinding batu.

Sesampainya di Observation Room, Lucas kembali memutar mekanisme rahasia pada dinding.

Grrrrkk...

Dinding batu perlahan bergeser hingga menutup rapat. Tak ada lagi celah. Tak ada lagi lorong. Seolah tempat itu tidak pernah ada.

Professor Sinclair mengusap permukaan dinding dengan telapak tangannya.

"Rahasia ini..."

"...biarlah tetap tertidur."

"Untuk sementara."

Beliau menarik napas panjang sebelum perlahan memalingkan badan menghadap Team Alpha. Sorot matanya bergantian menatap wajah keenam mahasiswa yang berdiri di hadapannya.

Untuk sesaat...

Tak ada satu pun yang berbicara.

Keheningan yang tercipta bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena mereka sama-sama menyadari bahwa hari itu telah mengubah banyak hal.

Professor Sinclair tersenyum tipis.

"Terima kasih."

Ucapan itu terdengar sederhana. Namun cukup membuat semua orang terdiam. Tidak lama kemudian Alexander mengernyit kecil.

"Prof..."

"Harusnya kami yang berterima kasih."

Professor Sinclair menggeleng pelan.

"Tidak."

"Kalau bukan karena kalian..."

"...aku mungkin tidak akan pernah tahu bahwa selama bertahun-tahun aku bekerja di atas rahasia sebesar ini."

Beliau menatap kembali dinding batu yang kini telah menyatu sempurna.

"Selama ini aku mengira museum ini sudah kualami seluruhnya."

"Ternyata..."

"...aku hanya mengenal apa yang ingin diperlihatkan kepadaku."

Claire menutup laptopnya perlahan.

"Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, Prof."

Professor Sinclair mengangguk.

"Dan jangan terburu-buru mencari semuanya sekaligus."

"Kadang..."

"...rahasia yang dipaksa terbuka justru membawa lebih banyak kehilangan."

Kalimat itu membuat Kael termenung.

Entah mengapa, ia merasa Professor Sinclair tidak hanya sedang berbicara tentang Project ORION. Melainkan tentang Kai. Tidak lama kemudian Professor Sinclair melangkah mendekati Kael. Beliau meletakkan satu tangan di bahu pemuda itu.

"Kael."

"Iya, Prof?"

"Aku tahu apa yang sedang kamu cari."

"Tapi..."

"...jangan sampai pencarian itu membuatmu kehilangan dirimu sendiri."

Kael menundukkan kepala sejenak.

"Terima kasih, Prof."

"Aku akan mengingatnya."

Professor Sinclair tersenyum hangat.

"Itulah alasan kenapa aku percaya kepada kalian."

"Bukan karena kalian selalu berhasil. Tetapi karena kalian tidak pernah meninggalkan siapa pun."

Elara tersenyum kecil mendengar kalimat itu. Tanpa sadar, tatapannya beralih kepada Kael. Begitu pula Kael yang menoleh ke arahnya. Keduanya saling bertukar senyum tipis. Tak perlu ada kata-kata. Karena mereka sama-sama memahami makna dari ucapan Professor Sinclair.

Lucas bertepuk tangan pelan, berusaha mencairkan suasana.

"Oke..."

"Kalau kita terus berdiri di sini, museum keburu tutup duluan."

Alexander langsung mengangguk.

"Setuju. Perut gue juga udah demo dari tadi."

Claire terkekeh pelan.

"Kamu tuh mikirnya makan terus."

"Ya iya."

"Perut kosong nggak bisa dipakai mikir."

Ethan menggeleng sambil tersenyum.

Lihat selengkapnya