Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #17

Diantara Mimpi dan Rahasia

CHAPTER 16

"Mereka datang ke universitas untuk mengejar mimpi. Namun takdir mempertemukan mereka dengan rahasia. Kini, mereka harus belajar bahwa mengejar masa depan dan mengungkap masa lalu sering kali menuntut keberanian yang sama."

Pukul 19.12 BST. Mobil van kampus melaju meninggalkan halaman Science & Technology Museum. Lampu-lampu kota London mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya keemasan di sepanjang jalan yang dipenuhi bangunan-bangunan bergaya Victoria. Di luar jendela, kehidupan berjalan seperti biasa. Orang-orang keluar dari stasiun bawah tanah, pasangan berjalan santai di trotoar, dan deretan bus merah dua tingkat melintas tanpa tergesa.

Sementara itu...

Di dalam mobil, suasananya jauh lebih tenang dibanding saat mereka berangkat. Tak ada lagi perdebatan. Tak ada lagi teori konspirasi. Semua orang tampak larut dalam pikirannya masing-masing.

Kael duduk di dekat jendela. Jemarinya memainkan kartu akses perunggu pemberian Professor Sinclair. Pantulan lampu jalan sesekali mengenai permukaan kartu itu hingga lambang ORION tampak berkilau sesaat.

"Apa sebenarnya yang sedang kami hadapi...?" batinnya.

Di kursi sebelah, Elara diam-diam memperhatikan Kael.

"Kamu masih mikirin museum?"

Kael tersenyum kecil.

"Kelihatan, ya?"

"Banget."

Kael menghela napas pelan.

"Aku cuma ngerasa..."

"...semakin banyak yang kita temukan, semakin sedikit yang kita pahami."

Elara mengangguk pelan.

"That's how every mystery works."

Kael menoleh.

"Kamu nggak takut?"

Elara tersenyum.

"Takut."

"Terus?"

"Aku cuma lebih takut kalau harus menghadapi semuanya tanpa kalian."

Kalimat itu membuat Kael kembali tersenyum. Sementara itu di barisan kursi belakang... Alexander sedang menguap lebar.

"Gue baru sadar."

Lucas menoleh.

"Apa?"

"Besok kita kuliah."

Semua langsung menoleh kepadanya.

Claire mengangkat alis.

"Kamu baru ingat?"

Alexander mengangguk mantap.

"Iya."

Lucas langsung tertawa.

"Bro..."

"Abis nemuin markas rahasia..."

"...musuh misterius..."

"...terus sekarang balik lagi ngerjain assignment."

Ethan menyandarkan kepalanya.

"Welcome to university life."

Alexander menggeleng pelan.

"Kadang hidup emang nggak adil."

Claire menyenggol lengannya.

"Bukan nggak adil. Cuma dosen nggak peduli kalau kamu itu habis nyelametin dunia atau nggak."

Seluruh mobil langsung dipenuhi tawa.

. . .

Beberapa jam kemudian setelah perjalanan di mobil van kampus... Gerbang utama University College London akhirnya terlihat di kejauhan.

Lihat selengkapnya