Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #18

Kepingan yang Kembali Lengkap

CHAPTER 17

"Tidak semua orang menghilang karena meninggalkan cerita. Ada yang sengaja menjauh, lalu kembali membawa jawaban yang tidak dimiliki siapa pun."

Pagi kembali menghidupkan Innovation Hub. Gema lonceng kampus yang beberapa saat lalu memenuhi udara kini telah menghilang, digantikan oleh denyut kehidupan yang mengalir di setiap sudut bangunan. Pintu otomatis membuka dan menutup dalam ritme yang nyaris tak pernah berhenti, mengiringi langkah para mahasiswa yang datang silih berganti. Di antara mereka, ada yang menggenggam laptop, memeluk setumpuk jurnal, atau membawa secangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis. Percakapan, tawa singkat, dan suara langkah kaki berbaur menjadi satu, membentuk suasana yang sibuk namun akrab—sebuah pagi yang tampak biasa, tanpa seorang pun menyadari bahwa hari itu akan menjadi awal dari babak baru bagi Team Alpha.

Di tengah hiruk-pikuk itu...

Empat anggota Team Alpha berjalan memasuki ruang diskusi yang telah menjadi markas kecil mereka selama beberapa bulan terakhir.

Ruangan itu masih sama seperti terakhir kali mereka tinggalkan. Papan tulis putih di sisi ruangan dipenuhi coretan ide yang belum selesai dihapus. Beberapa jurnal ilmiah masih tergeletak di atas meja bundar. Di sudut ruangan, tanaman hias kecil yang hampir layu seolah menjadi saksi betapa sibuknya para penghuni tempat itu beberapa minggu terakhir.

Kael menarik salah satu kursi dan menjatuhkan tubuhnya pelan. Tatapannya mengarah ke langit-langit. Namun pikirannya... Masih tertinggal jauh di lorong rahasia bawah tanah Science & Technology Museum. Kemudian Elara meletakkan tasnya di atas meja sebelum duduk di samping Kael. Ia membuka laptop. Layar putih kosong langsung menyambutnya. Tidak ada proposal. Tidak ada rancangan konsep. Tidak ada satu pun progres yang bisa mereka banggakan.

Lucas mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau dosen pembimbing lihat kondisi kita sekarang..."

"...kayaknya beliau langsung nyuruh kita pulang dulu."

Kael tersenyum kecil.

"Mungkin."

"Atau malah nyuruh kita mulai dari nol."

Elara menatap layar laptopnya beberapa saat sebelum akhirnya menutupnya kembali.

"Jujur aja..."

"...aku masih belum bisa fokus."

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Bukan karena mereka kehabisan bahan pembicaraan. Melainkan karena setiap orang sedang berusaha menata kembali pikirannya. Misteri Project ORION belum selesai. Sementara tenggat waktu National Innovation Challenge terus berjalan tanpa mau menunggu.

Di luar jendela, sinar matahari pagi menembus dedaunan yang bergoyang pelan tertiup angin. Kehidupan kampus berjalan seperti biasa. Namun bagi Team Alpha... Hari itu menjadi awal dari perlombaan yang sesungguhnya.

Belum ada yang menyadari...

Bahwa kepingan terakhir tim mereka baru saja tiba di kampus.

Tok... Tok...

Suara ketukan terdengar dari balik pintu ruang diskusi.

Semua spontan menoleh.

"Masuk," ucap Kael.

Perlahan...

Pintu ruang diskusi terbuka.

Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk sambil menyampirkan ransel hitam di bahu kirinya. Kemeja biru muda yang dikenakannya tampak sedikit kusut, seolah ia baru saja menempuh perjalanan panjang tanpa sempat beristirahat. Headphone masih melingkar santai di lehernya, sementara sebuah koper kabin berwarna abu-abu berhenti tepat di belakangnya. Tatapannya menyapu seluruh isi ruangan. Lalu... Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.

"Well..."

"Aku pergi beberapa minggu doang. Tapi kenapa suasananya kayak ruang sidang?"

Ruangan yang semula sunyi mendadak membeku. Tidak lama kemudian Alexander menjadi orang pertama yang bereaksi.

"ASTAGA!"

"Ternyata itu orang masih hidup!"

"Hahaha..."

Lucas langsung berdiri dari kursinya.

"Bro!"

"Celeste!"

Tanpa pikir panjang, Lucas menghampiri lalu memeluk sahabatnya itu.

"Selamat datang kembali."

Celeste menepuk pelan punggung Lucas.

"Kangen juga, ya?"

Lucas langsung melepas pelukan itu.

"Dikit."

"Jangan ge-er."

Semua langsung tertawa.

Kael ikut berdiri sambil mengulurkan tangan.

"Welcome back bro."

Celeste menjabat tangan Kael erat.

"Senang akhirnya balik."

Elara ikut menghampiri.

"Perjalanan kamu gimana Celeste?"

"Capek."

Lihat selengkapnya