CHAPTER 18
"Setiap kompetisi menguji kemampuan. Namun hanya sedikit yang mampu menguji bagaimana sebuah tim tetap percaya satu sama lain ketika waktu mulai berpihak pada kegagalan."
Pagi itu, Innovation Hub tidak lagi dipenuhi percakapan santai seperti biasanya.
Ruangan yang selama ini menjadi tempat Team Alpha berdiskusi berubah menjadi "markas perang" kecil. Dan papan tulis di depan ruangan telah dipenuhi berbagai coretan.
SMART CITY, GREEN ENERGY, MENTAL HEALTH, SUSTAINABLE LIVING
Panah-panah berwarna merah, biru, dan hitam saling bersilangan hingga memenuhi hampir seluruh permukaan papan.
Di atas meja bundar, laptop, jurnal penelitian, sticky notes, botol kopi, serta beberapa bungkus makanan ringan berserakan tanpa pola. Semua orang sibuk. Tidak ada yang sedang memainkan ponsel. Tidak ada yang membahas Project ORION. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir... Mereka benar-benar kembali menjadi mahasiswa.
Kael berdiri di depan papan tulis sambil memegang spidol.
"Oke."
"Kita mulai dari nol."
Lucas mengangkat tangan.
"Setuju."
"Anggap semua ide yang pernah kita pikirkan belum pernah ada."
Elara membuka laptopnya.
"Lalu kita cari masalah yang benar-benar dekat dengan kehidupan sehari-hari."
Celeste yang baru beberapa hari kembali langsung menyambung.
"Karena inovasi yang bagus bukan yang paling rumit."
"Tapi yang paling dibutuhkan."
Kael mengangguk.
"Exactly."
Selama hampir satu jam... Puluhan ide muncul. Ada yang hanya bertahan beberapa menit sebelum dicoret. Ada pula yang diperdebatkan cukup lama.
"Aplikasi pengelola sampah?"
"Terlalu banyak."
"Sistem parkir pintar?"
"Udah umum."
"Smart Helmet?"
"Pasarnya sempit."
"AI buat kesehatan mental?"
"Interesting..."
"Tapi masih terlalu luas."
Spidol Kael terus bergerak. Lalu berhenti. Tidak lama kemudian Ia menatap tema besar yang tertulis di bagian paling atas papan.
Smart Living for Sustainable Future
Kael memejamkan mata beberapa detik.
"Living..." gumamnya pelan.
"Bukan sekadar teknologi."
Elara langsung menoleh.
"Maksud kamu?"
Kael membuka mata.
"Semua orang selalu fokus membuat teknologi yang canggih."
"Padahal..."
"...tema lombanya bukan Smart Technology."
"Tapi Smart Living."
Ruangan mendadak sunyi.
Lucas langsung memutar kursinya.
"Oh..."
Celeste ikut mengangguk.
"Itu beda."
Kael mulai menuliskan satu kalimat besar.
Technology should adapt to people, not the other way around.
Tak seorang pun berbicara. Kalimat itu membuat arah diskusi mereka berubah. Tepat saat suasana mulai kembali hidup... Pintu ruang diskusi diketuk.
Tok.
Tok.
"Come in."
Seorang dosen berusia sekitar empat puluh tahun masuk sambil membawa tablet. Kacamata tipisnya bertumpu rapi di pangkal hidung. Beliau tersenyum ketika melihat papan tulis yang penuh coretan.
"Sepertinya kalian sudah mulai serius untuk menjalankan progress lomba yang sudah ada didepan mata kalian ya..."
Keempat mahasiswa langsung berdiri.
"Good morning, Professor."
Beliau mengangguk.
"Morning."
"Saya disini hanya ingin memastikan..."
"...kalau Team Alpha belum menyerah."
Lucas terkekeh.
"Belum, Prof."
"Cuma hampir sih hahaha..."
Profesor itu ikut tertawa kecil.
"Bagus."
Beliau meletakkan tabletnya di atas meja.
"Ada kabar."
Semua langsung memperhatikan.
"Tahun ini..."
"...jumlah peserta National Innovation Challenge mencapai lebih dari dua ratus tim."
Alexander yang sedang bersandar di dekat pintu langsung bersiul pelan.
"Buset..."
Profesor melanjutkan.
"Tapi..."
"...hanya tiga puluh dua tim yang akan lolos ke tahap semifinal."
Elara langsung menghitung cepat.
"Itu berarti..."
"...persaingannya lebih ketat dibanding tahun lalu."
Profesor mengangguk.
"Dan satu hal lagi."
Beliau menggeser layar tablet. Muncul daftar nama beberapa universitas.
Mahidol University
University of Cambridge
University of Oxford
ETH Zürich