Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #20

Ketika Mimpi Mulai Dipertaruhkan

CHAPTER 19

"Ada saatnya mimpi tidak lagi diuji oleh kemampuan, melainkan oleh keberanian untuk tetap melangkah ketika semua orang mulai meragukan jalan yang dipilih."

Pagi itu, Innovation Hub tidak seramai biasanya.

Langit London diselimuti awan kelabu sejak subuh. Gerimis tipis membasahi halaman kampus, membuat aroma tanah yang lembap bercampur dengan wangi kopi dari kafe kecil di sudut gedung.

Di dalam ruang diskusi Team Alpha...

Papan tulis yang kemarin dipenuhi ide kini hampir seluruhnya terhapus. Tersisa satu kalimat besar di tengahnya.

Technology should adapt to people, not the other way around.

Kael berdiri cukup lama menatap tulisan itu. Tangannya menggenggam spidol. Namun tak satu pun ide baru ia tuliskan.

"Kayaknya ada yang salah deh." gumamnya pelan.

Lucas menoleh dari balik layar laptop.

"Apa?"

Kael mengembuskan napas.

"Konsep kita masih terlalu umum gak sih...."

Elara mengangguk pelan.

"Aku juga ngerasa begitu."

Celeste memutar laptopnya menghadap yang lain.

"Gue tadi malam baca ulang guideline lomba. Di guidline lomba itu tertera kalau kriteria penilaian tahun ini berubah."

Semua langsung menoleh.

"Apa yang berubah?"

Celeste menunjuk salah satu poin.

Real Impact Demonstration – 40%

Ruangan mendadak hening.

Lucas mengusap wajahnya.

"Waduh..."

"Berarti ide doang nggak cukup."

Celeste mengangguk.

"Mereka mau bukti juga ternyata. Bukan janji aja."

Kael perlahan menutup spidolnya.

"Artinya..."

"...kita harus bikin sesuatu yang benar-benar bisa diuji."

Belum sempat diskusi berlanjut...

Pintu ruang diskusi kembali terbuka.

"Halo. Pagi semuanya."

Profesor pembimbing mereka memasuki ruangan sambil membawa sebuah map biru. Beliau tersenyum.

"Saya punya kabar penting hari ini."

Lucas langsung menyahut.

"Yang bagus atau yang bikin kami nggak bisa tidur?"

Profesor tertawa kecil.

"Mungkin dua-duanya."

Beliau membagikan selembar dokumen kepada Kael.

"Itu daftar lawan kalian."

Kael membacanya perlahan. Semakin ke bawah... Ekspresinya berubah.

"Guys..."

"...lihat ini."

Elara ikut membaca. Tak lama kemudian matanya membulat.

"No way..."

Lucas segera mengambil lembar berikutnya. Beberapa nama universitas tertera di sana. Selain nama-nama besar yang sudah mereka ketahui... Ada satu tim yang diberi tanda bintang merah.

Nova Nexus — University of Oxford

Di bawahnya tertulis:

Champion of European Student Innovation Summit 2025

Ruangan kembali sunyi.

Alexander yang kebetulan baru masuk membawa kopi ikut membaca daftar itu.

"Champion?"

Profesor mengangguk.

"Iya betul, Ia adalah seseorang yang mampu juara bertahan dalam tiga kompetisi internasional."

Lucas spontan bersandar.

"Oke..."

"...ini bukan lawan."

"Ini bos terakhir."

Semua tertawa kecil.

Namun...

Tak ada yang benar-benar menganggap itu lelucon.

Profesor kembali berbicara.

"Masih ada satu informasi lagi."

Beliau menggeser layar tablet. Muncul foto lima mahasiswa mengenakan jaket biru. Di tengah mereka berdiri seorang pria berambut cokelat dengan senyum percaya diri.

"Captain mereka."

"Namanya Ryan Felix Frost."

"Orang ini terkenal."

"Kenapa?"tanya Kael.

Profesor tersenyum tipis.

"Karena..."

"...dia hampir tidak pernah kalah."

Suasana ruang diskusi berubah jauh lebih serius. Tak ada lagi candaan. Tak ada lagi tawa. Semua mulai memahami... Bahwa perjalanan mereka tidak akan semudah yang dibayangkan.

Menjelang siang...

Mereka memutuskan beristirahat sejenak di taman kampus.

Gerimis telah berhenti. Rumput masih basah oleh sisa hujan. Di taman kampus terlihat Elara duduk di bangku kayu sambil memegang secangkir cokelat hangat. Kemudian Kael datang membawa dua sandwich.

"Aku boleh ikut duduk?"

Elara tersenyum.

Lihat selengkapnya