Jejak Rasa

Arzam Perdana Lubis
Chapter #21

Ruang yang Mengubah Segalanya

CHAPTER 20

"Setiap langkah besar selalu diawali oleh satu ruangan kecil, tempat mimpi dipertanyakan, keyakinan diuji, dan keberanian mulai dibentuk."

Mentari pagi memantulkan cahaya keemasan di balik dinding-dinding kaca Innovation Hub, menghidupkan suasana kampus yang sejak subuh telah dipenuhi aktivitas. Langkah kaki mahasiswa bersahut-sahutan di sepanjang koridor, sesekali diselingi tawa ringan dan aroma kopi yang menyeruak dari kafe di lantai dasar.

Hari itu...

Innovation Hub terasa jauh lebih sibuk dibanding biasanya. Di layar digital yang terpasang di lobi utama, sebuah pengumuman besar terpampang jelas.

National Innovation Challenge 2026

Technical Mentoring Session

Puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas tampak memenuhi area tersebut. Sebagian membawa gulungan poster, sebagian lainnya sibuk berdiskusi mengenai konsep proyek mereka.

Di antara keramaian itu...

Team Alpha berjalan berdampingan menuju ruang mentoring.

Kael berada paling depan sambil membawa tabung berisi sketsa desain. Di belakangnya, Elara memegang tablet yang berisi hasil survei perilaku pengguna. Lucas membawa laptop dan beberapa laporan analisis pasar, sementara Celeste menenteng map hitam berisi rancangan presentasi awal.

Alexander, Ethan, dan Claire ikut mengantar mereka hingga depan ruangan.

Alexander menepuk pelan bahu Kael.

"Jangan lupa tarik napas dulu sebelum masuk ruangan."

Kael tersenyum tipis.

"Kelihatan tegang ya?"

"Banget wkwk."

Lucas langsung menyahut.

"Dia dari tadi baca proposal terus."

Elara terkekeh pelan.

"Padahal isinya udah hafal."

Kael mengangkat bahu.

"Aku cuma nggak mau ada yang kelewat."

Claire menatap mereka satu per satu.

"Kalian pasti bisa guys."

"Yang penting jangan buru-buru aja."

Ethan ikut mengangguk.

"Dengerin semua masukan ya."

"Tapi jangan kehilangan identitas tim kalian."

Celeste tersenyum.

"Itu yang paling susah."

Tak lama kemudian...

Pintu ruang mentoring terbuka.

Seorang perempuan berambut pendek mengenakan jas almamater UCL keluar sambil tersenyum lega.

"Next Team Alpha."

Kael saling berpandangan dengan ketiga rekannya.

"Ready?"

Lucas mengulurkan tangannya ke tengah.

"One team."

Elara menimpali.

"One vision."

Celeste tersenyum.

"One chance."

Kael menumpukkan tangannya di atas tangan mereka.

"Let's make it count."

Empat tangan saling bertumpuk.

Lalu...

Mereka melangkah masuk.

Ruangan mentoring tidak terlalu besar. Namun atmosfernya cukup membuat siapa pun menegakkan punggung. Sebuah meja oval berada di tengah ruangan. Di seberangnya duduk tiga orang mentor dengan latar belakang yang berbeda.

Seorang profesor teknik. Seorang CEO perusahaan teknologi ramah lingkungan. Dan seorang peneliti yang selama bertahun-tahun bergerak di bidang perilaku masyarakat perkotaan.

Mereka bertiga tersenyum ramah. Namun sorot mata mereka menunjukkan satu hal. Mereka tidak datang untuk memuji. Mereka datang untuk menguji.

"Silakan duduk." ucap profesor berkacamata di tengah.

Keempat anggota Team Alpha segera menempati kursinya masing-masing.

Profesor membuka proposal mereka. Beliau membacanya selama beberapa saat. Tidak ada satu pun yang berbicara. Suasana menjadi sangat hening.

Hingga akhirnya...

Profesor menutup map itu perlahan.

"Saya mau tanya satu hal, menurut kalian..."

"Apa yang membuat proyek kalian berbeda dengan yang lain?"

Pertanyaan sederhana itu...

Justru membuat keempat anggota Team Alpha saling berpandangan. Kemudian Kael membuka presentasi.

"Kami percaya..."

"...teknologi seharusnya menyesuaikan kehidupan manusia, bukan memaksa manusia menyesuaikan teknologi."

Mentor kedua mengangguk pelan.

"Kalimat yang menarik."

"Tapi..."

"...itu baru filosofi."

"Mana inovasinya?"

Ruangan kembali sunyi.

Kael menarik napas. Kemudian Ia mulai menjelaskan rancangan sistem yang telah dibuat oleh mereka. Tentang bagaimana teknologi dapat membantu masyarakat mengelola konsumsi energi rumah tangga secara lebih cerdas, mempelajari pola kebiasaan pengguna, lalu memberikan rekomendasi yang mudah dipahami tanpa mengubah kenyamanan hidup sehari-hari.

Selama hampir dua puluh menit...

Diskusi berlangsung intens. Setiap jawaban diikuti pertanyaan baru. Setiap ide diuji dari berbagai sudut pandang. Sesekali Lucas mengambil alih penjelasan mengenai model bisnis. Elara memaparkan hasil riset psikologi pengguna. Celeste menyampaikan strategi implementasi dan komunikasi publik. Mereka saling melengkapi tanpa saling memotong.

Untuk pertama kalinya...

Mereka benar-benar tampil sebagai sebuah tim.

Namun...

Di akhir sesi...

Mentor ketiga menutup laptopnya.

"Aku menyukai kerja sama kalian."

Keempatnya tersenyum lega.

"Tapi..."

Senyum itu perlahan memudar.

"Aku belum melihat alasan mengapa masyarakat harus memilih solusi kalian."

Beliau mengambil pulpen. Lalu memberi lingkaran merah besar pada halaman pertama proposal.

"Menurutku..."

"...kalian sedang menciptakan teknologi yang bagus."

"Sayangnya..."

"...belum menciptakan solusi yang tidak bisa ditolak."

Ruangan mendadak sunyi. Kalimat itu terasa seperti tamparan. Bukan karena kasar. Melainkan karena omongan ketiga mentor tersebut benar.

Beberapa menit kemudian...

Team Alpha keluar dari ruang mentoring tanpa banyak bicara. Tak satu pun dari mereka tampak kecewa.

Lihat selengkapnya