CHAPTER 21
"Tidak semua perasaan harus segera diungkapkan. Ada yang memilih tumbuh dalam diam, berharap suatu hari nanti seseorang menyadarinya tanpa perlu diminta."
Pagi itu, langit London diselimuti awan tipis yang membuat sinar matahari hanya sesekali menembus jendela-jendela tinggi Innovation Hub. Suasana kampus kembali hidup oleh derap langkah mahasiswa yang berlalu-lalang, sementara ruang kerja Team Alpha mulai dipenuhi lembaran sketsa baru, laptop yang menyala, dan secangkir kopi yang perlahan kehilangan uapnya.
Sejak sesi mentoring kemarin...
Mereka sepakat membangun ulang konsep proyek dari awal. Tak ada lagi ide lama. Tak ada lagi proposal yang dianggap "cukup bagus."
Kali ini...
Mereka ingin menciptakan sesuatu yang benar-benar layak diperjuangkan.
Kael berdiri di depan papan kaca. Tangannya bergerak cepat menuliskan berbagai alur sistem yang baru. Lucas sesekali menyela dengan pertimbangan bisnis. Celeste sibuk menyusun struktur presentasi. Sementara Elara menata kembali hasil observasi perilaku pengguna yang sempat berantakan.
Di sisi lain ruangan...
Claire datang membawa sebuah flashdisk. Kemudian Alexander membuka pintu.
"Eh, Claire."
"Tumben datang pagi-pagi?"
Claire mengangkat flashdisk itu.
"Aku nemu sesuatu."
Kael langsung menoleh.
"Apa?"
"Rekaman CCTV museum kemarin."
Semua spontan menghentikan pekerjaannya.
Claire berjalan mendekat.
"Aku memang nggak bisa masuk ke server utama."
"Tapi..."
"...aku berhasil menyelamatkan cache video yang belum sempat terhapus."
Kael tersenyum lebar.
"Claire..."
"Kamu emang luar biasa."
Claire hanya mengangguk kecil.
"Masih belum lengkap. Tapi mungkin bisa membantu."
Kael menerima flashdisk itu.
"Seriously..."
"You're amazing."
Ucapan itu keluar begitu saja. Claire tersenyum tipis.
"Semoga aja berguna wkwk."
Di sudut ruangan...
Elara menghentikan aktivitasnya. Tangannya masih memegang tablet. Namun pandangannya perlahan beralih ke arah Kael dan Claire.
Entah kenapa...
Dadanya terasa sedikit sesak.
"Amazing..."
"Luar biasa..."
Dua kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Padahal...
Claire memang pantas mendapat pujian. Karena Ia sudah beberapa kali membantu mereka. Tidak ada yang salah. Sama sekali tidak ada.
Namun...
Tetap saja...
Ada sesuatu yang mengganjal.
Lucas memperhatikan Elara sekilas.
"El?"
Elara langsung tersadar.
"Hm?"
"Kamu nggak apa-apa?"
"Oh..."
"Iya."
"Cuma lagi mikir."
Lucas mengangguk.
"Oke."
Namun...
Ia tahu. Elara sedang tidak benar-benar baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian...
Kael dan Claire duduk berdampingan di depan komputer. Mereka memutar rekaman demi rekaman. Sesekali Kael menunjuk layar.
"Nah."
"Yang ini."
Claire segera memperbesar gambar.
"Kalau resolusinya dinaikkan..."
"...mungkin wajahnya kelihatan."
Kael tersenyum.
"You're a lifesaver."
Claire terkekeh kecil.
"Lebay."
"Nggak."
"Beneran haha."
Tanpa sadar...
Elara kembali menoleh.
Lagi.
Kael tersenyum. Claire ikut tertawa. Mereka terlihat sangat fokus. Sangat nyambung. Entah mengapa... Elara merasa dirinya tidak berada di sana.
Alexander yang sedang mengambil kopi berhenti di samping Elara.
"Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
Alexander menatap wajahnya beberapa detik.
"Lagi bohong ya?"
Elara tertawa pelan.
"Kelihatan?"
"Banget."
Alexander menyerahkan segelas cokelat hangat.
"Nih cokelat hangat buat lo biar mood lo balik lagi."
Elara menerimanya.
"Makasih."
Alexander tersenyum.
"Aku nggak tahu masalahnya apa."
"Tapi..."
"...jangan dipendem sendirian."
Elara hanya mengangguk kecil.
. . .
Menjelang siang...
Mereka akhirnya beristirahat di taman kampus.
Angin musim semi bertiup pelan. Beberapa mahasiswa duduk di rerumputan sambil membaca buku. Yang lain bermain gitar. Suasana terasa damai. Tidak lama kemudian Kael berjalan mendekati Elara yang sedang duduk sendirian di bawah pohon maple.
"Aku boleh ikut duduk disamping kamu El?"
Elara mengangguk.
"Boleh..."
Beberapa detik...
Tak ada yang berbicara.
Kael memecah keheningan.
"Kamu dari tadi diem mulu. Lagi capek El?"
Elara menggeleng.
"Nggak."
"Terus?"
Elara menarik napas pelan.
"Boleh aku jujur?"
Kael menatapnya.
"Boleh selalu dong Elara, silahkan."
Elara memainkan gelas minumannya.