CHAPTER 22
"Logika selalu mengajarkan kita untuk fokus pada tujuan. Namun hati sering kali terluka oleh hal-hal yang bahkan tidak pernah dimaksudkan."
Pagi itu, Innovation Hub tidak lagi dipenuhi gelak tawa seperti biasanya. Ruang kerja Team Alpha terasa jauh lebih sunyi. Layar monitor di tengah ruangan masih menampilkan rancangan konsep terbaru mereka. Diagram, sketsa, dan hasil riset memenuhi papan kaca. Hampir seluruh sudut ruangan dipenuhi bekas diskusi yang berlangsung hingga larut malam.
Namun...
Semakin lama mereka bekerja, semakin banyak pula kekurangan yang mereka temukan. Kemudian Kael berdiri di depan papan tulis. Spidol hitam masih berada di tangannya.
"Oke. Kita review sekali lagi."
Lucas langsung membuka laptop.
"Mulai dari user journey?"
Kael mengangguk.
"Iya."
Celeste mulai memproyeksikan presentasi ke layar. Elara membuka tablet berisi hasil observasi perilaku pengguna.
Diskusi pun dimulai. Lima belas menit pertama berjalan lancar. Hingga... Kael menghentikan presentasi Celeste.
"Sebentar."
Celeste menoleh.
"Ada yang kurang?"
Kael mengangguk.
"Kurang kuat."
Lucas ikut melihat layar.
"Bagian mana?"
Kael menunjuk salah satu diagram.
"Alur komunikasi pengguna. Masih terlalu umum."
Celeste segera mencatat.
"Oke. Aku revisi."
Diskusi berlanjut.
Kini giliran Elara mempresentasikan pendekatan psikologi pengguna. Ia menjelaskan bagaimana perubahan kebiasaan tidak bisa dibentuk hanya melalui notifikasi, tetapi melalui pengalaman yang konsisten.
Semua mendengarkan hingga selesai. Kemudian Kael mengangguk pelan.
"Bagus."
Elara tersenyum kecil.
Namun...
Kalimat berikutnya membuat senyumnya perlahan memudar.
"Tapi..."
"...kalau bisa dibuat lebih detail."
"Kayak analisis Claire waktu nemuin pola CCTV kemarin."
Ruangan mendadak hening. Lalu Lucas langsung menoleh ke arah Kael. Celeste berhenti mengetik. Sementara Elara... Masih diam.
Kael belum menyadarinya. Lalu Ia melanjutkan.
"Claire bisa menemukan pola dari data yang berantakan."
"Nah..."
"...kalau pendekatan psikologinya bisa sedetail itu..."
"...proposal kita bakal jauh lebih kuat."
Elara mengangguk pelan.
"Iya."