CHAPTER 24
"Ada keheningan yang lahir karena tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Namun ada pula keheningan yang muncul karena dua hati sedang belajar memahami satu sama lain, sementara dunia diam-diam mulai bergerak melawan mereka."
Pagi itu, kawasan Innovation Hub sudah jauh lebih ramai dibanding hari-hari sebelumnya.
Sejak National Innovation Challenge memasuki tahap Project Progress Review, hampir seluruh ruang diskusi dipenuhi mahasiswa dari berbagai fakultas. Di balik dinding-dinding kaca, tampak kelompok-kelompok kecil sibuk berdebat, menyusun presentasi, hingga menguji purwarupa yang sedang mereka kembangkan.
Di sudut ruangan paling belakang...
Team Alpha kembali menempati meja yang sama. Namun kali ini suasananya berbeda. Tak ada lagi pembahasan mengenai museum. Tak ada lagi peta tua. Tak ada lagi Project ORION. Yang memenuhi meja hanyalah laptop, sketsa desain, laporan riset, dan beberapa cangkir kopi yang mulai kehilangan hangatnya.
Kael berdiri di depan layar proyektor.
"Oke. Hari ini kita benar-benar fokus. Nggak ada distraksi."
Lucas langsung mengangguk.
"Sepakat."
Celeste membuka laptopnya.
"Sepakat. Aku juga udah siap sama semuanya."
Elara hanya mengangguk pelan.
"Let's do it."
Meski suaranya terdengar tenang...
Hubungannya dengan Kael masih terasa canggung.
Dua jam kemudian...
Diskusi berjalan cukup lancar. Prototype aplikasi mulai memiliki bentuk yang lebih jelas. Konsep mereka menggabungkan teknologi Internet of Things dengan pendekatan perilaku pengguna.
Targetnya sederhana.
Membantu masyarakat mengurangi pemborosan energi melalui kebiasaan sehari-hari.
Lucas tersenyum puas.
"Nah..."
"Ini baru mulai kelihatan."
Celeste menunjuk layar.
"Kalau bagian komunikasi publiknya kita buat lebih sederhana pasti orang bakal lebih gampang paham."
Kael mengangguk.
"Setuju."
Ia menoleh kepada Elara.
"Bagaimana menurut kamu?"
Elara sedikit terkejut.
"Eum... menurut aku... fitur pengingat jangan terlalu sering. Karena kalau terlalu banyak notifikasi... pengguna justru bakal mengabaikannya."
Kael tersenyum.
"Good point."
"Masukin."
Elara hanya mengangguk kecil. Meski masih menjaga jarak... Ia mulai merasa pendapatnya kembali didengar.
Menjelang siang...
Pintu ruang diskusi diketuk.
Tok... Tok... Tok...
Seorang staf fakultas masuk sambil membawa map biru.
"Permisi."
"Apakah benar ini dengan Team Alpha?"
Kael berdiri.
"Iya ibu betul, kalau boleh tau ada keperluan apa ya ibu dengan kami?"
Staf itu menyerahkan sebuah surat.
"Besok pagi pukul sembilan."
"Kalian dijadwalkan mengikuti Progress Evaluation Session."
Lucas langsung membuka surat tersebut.
Matanya membesar.
"Besok bu?"
Celeste ikut membaca.
"Bukannya minggu depan ya ibu?"
Staf itu menggeleng.
"Jadwal dipercepat. Maka seluruh tim harus mempresentasikan progres awal."
Setelah menyampaikan informasi itu, staf tersebut pamit meninggalkan ruangan.
Pintu kembali tertutup.
Keempat anggota tim saling berpandangan. Tidak lama kemudian Lucas menghela napas panjang.
"Perfect..."
"Semalam revisi..."
"Hari ini evaluasi..."
"Besok presentasi..."
"Next apa lagi ya.... wkwkwk..."
Kael mengambil napas dalam.
"Oke."
"Kita lembur."
Tak ada yang protes.
Sore menjelang.
Innovation Hub mulai sepi. Sebagian besar mahasiswa telah pulang. Namun lampu di ruang Team Alpha masih menyala.
Celeste sibuk memperbaiki desain presentasi. Lucas menghitung ulang analisis biaya. Elara memeriksa hasil survei pengguna. Sementara Kael masih menyempurnakan rancangan sistem.
Waktu terus berjalan. Tak seorang pun menyadari bahwa jam telah melewati pukul delapan malam.
"Gue beli kopi dulu ya."
Lucas berdiri sambil meregangkan badan.